Sebuah kota di Jepang terpaksa membatalkan festival sakura tahunannya yang sangat dinanti-nantikan, sebuah keputusan drastis yang mencerminkan eskalasi masalah overtourism yang melanda destinasi populer di seluruh dunia. Keputusan ini, yang dipicu oleh perilaku wisatawan yang dianggap merusak, menimbulkan pertanyaan mendesak tentang keseimbangan antara promosi pariwisata dan pelestarian budaya serta kenyamanan penduduk lokal. Insiden ini bukan hanya pukulan bagi para pencinta bunga sakura, tetapi juga menjadi studi kasus nyata tentang konsekuensi tak terduga dari lonjakan kedatangan turis asing, yang berdampak hingga ke kebiasaan warga lokal dan bahkan kebersihan lingkungan.
Dampak Perilaku Wisatawan Mengancam Tradisi Lokal
Festival sakura yang dibatalkan di sebuah kota Jepang, yang lokasinya berdekatan dengan keindahan ikonik Gunung Fuji, menjadi sorotan tajam akibat ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Laporan menyebutkan bahwa lonjakan jumlah pengunjung, yang seharusnya menjadi kabar baik bagi perekonomian lokal, justru berujung pada perilaku yang meresahkan. Salah satu insiden yang paling mencuat adalah ditemukannya kotoran manusia di taman milik warga. Perilaku tidak senonoh ini, yang tentu saja sangat tidak pantas dan mengganggu, menjadi pemicu utama keputusan pahit untuk membatalkan acara budaya tahunan yang telah lama menjadi daya tarik tersendiri.
Lebih jauh lagi, masalah ini tidak hanya terbatas pada satu atau dua insiden sporadis. Skala masalah yang terjadi menunjukkan adanya pola perilaku yang mengkhawatirkan dari sebagian wisatawan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, mengabaikan aturan lokal, hingga tindakan yang merusak properti umum dan pribadi, semuanya berkontribusi pada citra negatif yang semakin membebani destinasi wisata. Pemerintah setempat, yang awalnya berupaya keras menarik wisatawan untuk mendongkrak ekonomi, kini dihadapkan pada dilema pelik: bagaimana menjaga keseimbangan agar pariwisata tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas hidup dan kelestarian lingkungan serta budaya lokal.
Pembatalan festival sakura ini bukan sekadar hilangnya sebuah acara hiburan. Ini adalah simbol peringatan keras bahwa kesuksesan pariwisata yang tidak terkendali dapat berujung pada kehancuran. Budaya dan tradisi lokal yang seharusnya menjadi daya tarik utama, justru terancam oleh perilaku wisatawan yang tidak menghargai. Fenomena ini juga tercermin di berbagai belahan dunia, di mana kota-kota padat turis di Eropa pun mulai berjuang melawan overtourism, dengan warga lokal yang merasa kualitas hidup mereka menurun drastis meskipun sektor pariwisata mendatangkan keuntungan finansial.
Respons Global Terhadap Ancaman Overtourism
Kasus di Jepang ini bukanlah sebuah anomali. Fenomena overtourism telah menjadi isu global yang mendesak banyak negara untuk mengambil langkah-langkah protektif. Di Italia, misalnya, kota Roma telah mengambil kebijakan baru yang signifikan. Pihak berwenang di sana kini memberlakukan biaya masuk sebesar €2 (sekitar Rp40.000) untuk mengunjungi Air Mancur Trevi yang megah. Sebelumnya, monumen bersejarah ini dapat diakses secara gratis oleh siapa saja. Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. Tujuannya adalah untuk mengelola lonjakan jumlah wisatawan yang datang setiap hari, sekaligus mengumpulkan dana yang sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan dan restorasi monumen ikonik tersebut.
Langkah Italia ini mencerminkan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pengelola destinasi wisata bahwa pengelolaan jumlah pengunjung adalah kunci untuk menjaga kelestarian situs-situs bersejarah dan keindahan alam. Biaya masuk, meskipun mungkin terasa memberatkan bagi sebagian wisatawan, dianggap sebagai cara efektif untuk menyaring pengunjung dan memastikan bahwa mereka yang datang benar-benar memiliki niat untuk menghargai dan berkontribusi pada pelestarian. Dana yang terkumpul diharapkan dapat digunakan secara optimal untuk menjaga keaslian dan keindahan tempat-tempat tersebut agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Di sisi lain, kekhawatiran serupa juga melanda destinasi lain. Kyoto, Jepang, misalnya, telah mengumumkan rencana untuk melarang turis mengunjungi distrik Geisha yang terkenal. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap perilaku wisatawan yang dianggap ‘tak terkendali’, yang sering kali mengganggu privasi para Geisha dan penduduk setempat. Pelarangan ini mencerminkan upaya untuk melindungi aspek budaya yang sangat sensitif dan menjaga ketertiban di area yang memiliki nilai historis dan sosial tinggi. Perilaku seperti mengambil foto tanpa izin, mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan melecehkan, telah mendorong pemerintah setempat untuk mengambil tindakan tegas demi menjaga martabat dan kenyamanan warga.
Fenomena ini juga bergema di Indonesia, khususnya di Bali. Laporan mengenai ulah wisatawan Indonesia di Jepang dan Singapura yang dikecam warganet, serta kekhawatiran warga lokal di Bali yang merasa ‘terjepit’ di tengah perkembangan wisata dan kebutuhan hidup, menunjukkan bahwa masalah overtourism adalah tantangan lintas negara. Pertanyaan ‘Ekspektasi versus realita’ – Apakah Bali telah menjadi korban kesuksesan pariwisata? – menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana destinasi yang sangat populer bisa kehilangan jati dirinya jika tidak dikelola dengan bijak. Kebutuhan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata dengan pelestarian budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal menjadi semakin mendesak. Pemerintah Indonesia sendiri, melalui berbagai kebijakan, terus berupaya mencari solusi agar pariwisata dapat memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan dampak negatif yang merusak.

















