Di tengah hiruk pikuk Plaza Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Senin, 16 Februari 2026, sebuah aroma rempah yang kaya dan memikat menyeruak, mengundang perhatian. Bukan sekadar pameran kuliner biasa, melainkan sebuah aksi kemanusiaan berbasis gastronomi yang mendalam:
“Rendang untuk Sumatera”. Kolaborasi unik antara seniman, budayawan, dan mahasiswa dari Marandang Institute, Cikini Art Stage, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Makara Art Center UI ini digagas sebagai wujud empati dan solidaritas bagi para penyintas bencana alam yang melanda Sumatera akhir tahun lalu. Sebanyak 500 kilogram daging sapi diolah menjadi rendang dalam sebuah pertunjukan seni yang kompleks dan memukau, dengan target ambisius mencapai total tujuh ton rendang untuk didistribusikan ke wilayah terdampak, menawarkan lebih dari sekadar makanan, melainkan harapan dan ketahanan di tengah keterbatasan.
Pemilihan rendang sebagai menu utama dalam aksi kemanusiaan ini bukan tanpa alasan kuat. Muhammad Aidil Usman, yang menjabat sebagai ketua pelaksana sekaligus anggota Komite Seni Rupa DKJ, menjelaskan bahwa popularitas rendang hanyalah salah satu faktor. Lebih dari itu, rendang memiliki filosofi mendalam dan ketahanan luar biasa yang sangat relevan dengan kondisi darurat pascabencana. “Rendang itu makanan yang dibuat hasil dari spiritualitas orang sufi di Sumatra Barat,” jelas Aidil, merujuk pada akar budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam proses pembuatannya. Keunggulan rendang terletak pada kemampuannya untuk bertahan lama, bahkan hingga enam bulan jika dimasak dengan perapian maksimal selama sepuluh jam. Ini menjadikannya pilihan ideal bagi korban bencana di pengungsian yang kerap kehilangan dapur, peralatan masak, dan mengalami keterbatasan finansial, seperti yang diungkapkan oleh berbagai sumber yang menyoroti kesulitan masyarakat dalam beraktivitas merendang pascabencana.
Mengolah daging dalam skala masif di ruang terbuka, apalagi sebagai bagian dari pertunjukan, tentu menghadirkan tantangan teknis yang tidak sedikit. Tim menggunakan
kancah
, wajan raksasa khas Minang, yang menjadi pusat perhatian. Untuk memastikan kualitas rasa dan tekstur rendang tetap terjaga, Aidil memimpin langsung kalkulasi bumbu dan teknik peminyakan santan yang presisi, guna mencegah daging hancur selama proses pengadukan yang panjang. Guna menjaga stamina dan fokus para relawan yang terlibat, sistem kerja dibagi dalam beberapa
shift
. “Saya bikin
shift
supaya enggak jenuh. Kalau jenuh kan bisa bermasalah kepada produk. Kita mau kasih orang, kalau hasilnya hancur enggak kelihatan dagingnya gitu,” tegas Aidil, menekankan pentingnya kualitas demi menghormati para penerima bantuan. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk budayawan dan mahasiswa, yang turut serta dalam setiap tahapan proses, menegaskan semangat gotong royong dalam kegiatan sosial berbasis gastronomi ini.
Hasil dari pertunjukan perdana ini adalah 500 kilogram rendang yang siap didistribusikan. Rendang tersebut akan dikirim langsung ke 231 titik tenda pengungsian yang tersebar di Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara. Namun, angka tersebut hanyalah permulaan. Aksi serupa akan terus bergulir di berbagai titik hingga target total tujuh ton daging sapi berhasil diolah menjadi rendang. Skala ini diperkirakan dapat menghasilkan hingga 20 ribu paket rendang, yang akan menjadi pasokan makanan bergizi dan tahan lama bagi ribuan penyintas. Upaya ini tidak hanya menyediakan kebutuhan dasar, tetapi juga menyalurkan pesan solidaritas dan kepedulian yang mendalam dari para seniman dan masyarakat luas terhadap masyarakat terdampak bencana.
Pertunjukan Seni sebagai Medium Solidaritas dan Harapan
Yang menjadikan aksi ini begitu istimewa adalah cara seluruh proses dapur yang rumit ini dipentaskan sebagai sebuah pertunjukan seni yang interaktif dan multisensori. Selama delapan jam proses memasak, panggung di Plaza Teater Jakarta tidak pernah sepi. Suasana diramaikan dengan
tari-tarian tradisional
yang energik, alunan
musik saluang
yang syahdu, hingga irama
musik kontemporer
dari Aceh dan Sumatra Utara yang menghentak. Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi sebuah narasi visual dan auditori tentang duka dan harapan. Suasana semakin khidmat dengan adanya aksi
painting
dan
mural
yang dibuat secara langsung, serta
pembacaan puisi
yang menyentuh hati tentang duka Sumatera, semuanya berlangsung di sela-sela kepulan asap rempah yang harum. Integrasi seni dalam aksi kemanusiaan ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memperkuat pesan solidaritas dan menghidupkan kembali semangat para penyintas melalui ekspresi budaya.
Komitmen terhadap aksi kemanusiaan ini tidak berhenti di Jakarta. Rencananya, pada 15 Maret mendatang, tim akan melanjutkan aksi serupa di Aceh. Di sana, Muhammad Aidil Usman memiliki rencana inovatif untuk menciptakan karya instalasi dari kayu-kayu bekas banjir bandang. Kayu-kayu ini tidak hanya akan berfungsi sebagai panggung untuk pertunjukan, tetapi juga sebagai bahan bakar untuk memasak rendang dan kuliner khas Aceh lainnya. Pendekatan ini menunjukkan tingkat keberlanjutan dan kreativitas yang tinggi, memanfaatkan sumber daya lokal yang terdampak bencana untuk menciptakan solusi yang berarti. Inisiatif ini menegaskan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan ampuh untuk menyalurkan bantuan, membangun kembali komunitas, dan menumbuhkan harapan di tengah kehancuran, menciptakan sebuah model unik dalam penanganan bencana yang berakar pada kearifan lokal dan ekspresi artistik.

















