Dalam era digital yang rentan terhadap penyebaran informasi palsu, sebuah klarifikasi penting datang dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari yang secara tegas membantah hoaks terkait meninggalnya seorang siswi SMAN 2 Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rizza Meiliana Azzahara, yang dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Senin, 2 Februari, pihak SPPG melalui Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, secara lugas menjelaskan bahwa informasi yang beredar luas di masyarakat tersebut adalah tidak benar dan merupakan disinformasi yang menyesatkan. Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan fakta dan mencegah kepanikan serta kesalahpahaman publik mengenai kondisi kesehatan almarhumah Rizza dan pelaksanaan program pemerintah.
Hoaks yang beredar telah menciptakan narasi yang mengaitkan wafatnya Rizza dengan konsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik. Informasi menyesatkan semacam ini, terutama yang menyentuh isu sensitif seperti kesehatan dan keselamatan anak sekolah, berpotensi menimbulkan keresahan massal dan merusak reputasi program yang sedang berjalan. Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, dengan nada tegas menyatakan, “Perlu kami sampaikan bahwa informasi yang beredar terkait meninggalnya siswi SMAN 2 Kudus atas nama Rizza Meiliana Azzahara adalah tidak benar. Informasi tersebut merupakan hoaks.” Penegasan ini menjadi krusial untuk menghentikan laju penyebaran kabar bohong yang tidak berdasar, yang dikhawatirkan dapat memicu persepsi negatif terhadap program pemerintah dan bahkan menimbulkan stigma terhadap keluarga yang berduka.
Latar Belakang Medis dan Perjalanan Penyakit Rizza Meiliana Azzahara
Fakta sebenarnya mengenai kondisi almarhumah Rizza Meiliana Azzahara jauh berbeda dari narasi hoaks yang beredar. Nasihul Umam menjelaskan secara rinci bahwa Rizza telah menderita penyakit serius, yaitu kanker nasofaring, sejak ia masih duduk di bangku kelas 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kanker nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di nasofaring, bagian atas tenggorokan di belakang hidung, yang merupakan kondisi medis serius dan memerlukan penanganan intensif serta jangka panjang. Diagnosis dini pada usia yang relatif muda menunjukkan betapa beratnya perjuangan kesehatan yang harus dilalui Rizza selama bertahun-tahun. Kondisi ini mengharuskan Rizza untuk menjalani serangkaian perawatan medis yang kompleks dan melelahkan, termasuk sesi kemoterapi secara rutin. Perawatan ini tidak bisa dilakukan di fasilitas kesehatan biasa, melainkan di rumah sakit rujukan yang memiliki spesialisasi dan peralatan memadai, yaitu RSUP Dr. Kariadi di Semarang, sebuah rumah sakit umum pusat yang dikenal memiliki fasilitas dan tim medis terbaik di Jawa Tengah untuk penanganan kasus-kasus berat.
Perjalanan penyakit Rizza memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sekolahnya. Selama tercatat sebagai peserta didik di SMAN 2 Kudus, kehadirannya di sekolah sangat terbatas. Nasihul Umam mengungkapkan bahwa Rizza hanya sempat mengikuti kegiatan sekolah menjelang pelaksanaan tes pada bulan November, kemungkinan besar untuk memenuhi kewajiban akademik minimal. Di luar periode tersebut, siswi tersebut tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara normal seperti teman-temannya. Prioritas utamanya adalah fokus pada pengobatan dan pemulihan kesehatannya. “Sakit kanker nasofaring sejak kelas 8. Selama di SMAN 2 Kudus hanya masuk menjelang tes November, karena ananda harus kemoterapi di RS Karyadi Semarang,” lanjut Nasihul, menggarisbawahi betapa beratnya kondisi Rizza yang mengharuskannya memilih antara pendidikan formal dan perjuangan melawan penyakit mematikan.
Membongkar Kaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Salah satu poin krusial dalam klarifikasi SPPG Purwosari adalah menepis segala bentuk kaitan antara meninggalnya Rizza dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG dirancang untuk memberikan asupan nutrisi tambahan kepada siswa, khususnya mereka yang aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah, sebagai upaya mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar. Namun, berdasarkan data kehadiran sekolah, Rizza tidak termasuk dalam daftar penerima manfaat program ini. Nasihul Umam menegaskan bahwa sejak Januari, yang merujuk pada Januari 2026 (mengacu pada salah satu referensi yang menyebutkan tanggal klarifikasi 2/2/2026), Rizza tercatat belum pernah kembali berangkat ke sekolah. Kondisi ini secara otomatis membuatnya tidak memenuhi kriteria sebagai penerima paket MBG, yang umumnya disalurkan kepada siswa yang hadir dan aktif di lingkungan sekolah. “Januari ini yang bersangkutan belum pernah berangkat sekolah sehingga tidak menerima paket MBG,” kata Nasihul, memberikan bukti konkret bahwa Rizza tidak pernah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Penyebaran hoaks ini mungkin juga dipicu oleh kejadian lain yang tidak terkait. Beberapa laporan dari media lain menyebutkan adanya tim medis dan ambulans yang bersiaga di SMAN 2 Kudus saat terjadi dugaan keracunan makanan. Meskipun kejadian tersebut mungkin benar adanya dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, penting untuk ditekankan bahwa insiden tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan wafatnya Rizza Meiliana Azzahara, yang penyebab utamanya adalah kondisi medis kronis. SPPG Purwosari berperan penting dalam memverifikasi dan meluruskan informasi, memastikan bahwa masyarakat tidak terjebak dalam disinformasi yang dapat merugikan banyak pihak. Klarifikasi ini bukan hanya tentang Rizza, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan publik terhadap program pemerintah dan institusi pendidikan.

















