Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ketika seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) ditemukan meninggal dunia dalam dugaan kasus bunuh diri. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (29/1) siang ini, meninggalkan duka mendalam dan memicu seruan keprihatinan dari berbagai kalangan, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Insiden ini, yang diduga dipicu oleh ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan sang anak, yakni buku dan pensil, menjadi tamparan keras bagi kesadaran sosial masyarakat dan pemerintah, menyoroti urgensi penanganan isu kerentanan anak serta kesenjangan ekonomi yang mungkin berujung pada keputusasaan.
Tragedi yang Mengusik Nurani: Analisis Mendalam Kasus Bunuh Diri Siswa SD di Ngada
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, menyuarakan kepedihan mendalam atas meninggalnya bocah yang masih duduk di bangku kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Beliau menegaskan bahwa peristiwa tragis ini seharusnya menjadi momentum krusial yang mampu membangkitkan kepedulian kolektif masyarakat, sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Andreas Hugo menggambarkan insiden tersebut sebagai sesuatu yang sangat memilukan, mampu menyentuh relung hati terdalam siapa pun yang mendengarnya. “Peristiwa meninggalnya seorang bocah SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, karena dugaan bunuh diri dengan menggantungkan diri, sangat memilukan semua kita yang mempunyai hati,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi pada hari Rabu (4/2).
Lebih lanjut, Hugo menekankan bahwa tanggung jawab sosial seluruh elemen bangsa seharusnya tergerak untuk menjadi garda terdepan dalam upaya menyelamatkan generasi penerus bangsa. “Tanggung jawab sosial kita seharusnya terusik untuk menjadi tumpuan menyelamatkan generasi anak-anak ini untuk tumbuh dewasa, menjadi manusia yang kemudian berguna masyarakatnya,” tegasnya. Harapan besarnya adalah agar tragedi ini dapat menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh bangsa dan masyarakat Indonesia, mendorong peningkatan kepekaan terhadap kondisi anak-anak, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan dan rentan terhadap tekanan psikologis. “Semoga dari peristiwa kita semua di bangsa ini, di masyarakat ini sadar, sehingga tidak terjadi lagi,” ujarnya, penuh harap.
Penyebab dan Implikasi: Lebih dari Sekadar Ketidakmampuan Finansial
Andreas Hugo Pareira mengidentifikasi bahwa tragedi ini merupakan cerminan dari adanya defisit perhatian dan kasih sayang yang seharusnya menjadi hak fundamental setiap anak, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. “Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tamparan untuk kita sebagai masyarakat ketika seorang bocah yang meninggal tragis karena putus asa, hilangnya perhatian, hilangnya kasih sayang dari keluarga, dari masyarakat,” tuturnya, dengan nada prihatin yang mendalam. Ia secara spesifik meminta agar pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap secara tuntas penyebab kematian korban. Selain itu, peran pemerintah daerah juga ditekankan sebagai kunci dalam memberikan pendampingan dan dukungan yang memadai bagi keluarga yang ditinggalkan, demi mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan. “Terhadap kasus ini, pertama, pihak kepolisian perlu menyelidiki penyebab dan menjelaskan penyebab kasus kematian ini. Kedua, pihak Pemda perlu serius menangani keluarga anak ini sehingga tidak terulang lagi kasus semacam ini,” jelas Hugo.
Anggota DPR RI ini juga menegaskan bahwa tanggung jawab dalam mencegah tragedi semacam ini tidak semata-mata berada di pundak negara. Keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, serta berbagai lembaga sosial kemasyarakatan, semuanya memiliki kewajiban moral yang sama untuk melindungi dan memastikan kesejahteraan anak-anak. “Kalau negara belum mampu mengentaskan kemiskinan, iya. Tapi juga faktor keluarga, faktor masyarakat, sekolah, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tentu juga seharusnya bertanggung jawab, paling tidak sangat prihatin dengan peristiwa ini,” pungkasnya, menggarisbawahi sifat kolektif dari tanggung jawab tersebut.
Kronologi peristiwa yang menyayat hati ini terungkap bahwa bocah SD yang berusia 10 tahun tersebut mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1) siang. Beberapa saat sebelum kejadian tragis itu, ia sempat mengungkapkan keinginannya untuk dibelikan buku dan pensil kepada ibundanya. Namun, karena keterbatasan finansial yang dialami keluarga, sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan yang sederhana inilah yang diduga menjadi pemicu utama keputusasaan yang berujung pada tindakan fatal tersebut. Peristiwa ini meninggalkan luka yang sangat dalam, tidak hanya bagi keluarga korban tetapi juga bagi seluruh warga di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, yang turut merasakan kehilangan dan keprihatinan mendalam.
Merujuk pada referensi tambahan, kasus serupa pernah terjadi dan mendapat sorotan tajam. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, misalnya, pernah mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) untuk mengusut tuntas tragedi pendidikan nasional ini. Kasus tersebut juga melibatkan siswa SD di Ngada, NTT, yang diduga bunuh diri karena ketidakmampuan keluarga membeli buku dan alat tulis. Hal ini menunjukkan bahwa isu ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah sebagai pemicu keputusasaan pada anak bukanlah fenomena tunggal. Penting untuk melakukan investigasi mendalam apakah bantuan pendidikan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah tersalurkan secara tepat sasaran. Selain itu, sekolah memiliki peran krusial dalam melakukan deteksi dini terhadap kondisi sosial dan psikologis siswa, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum krisis terjadi.

















