Sebuah insiden tragis mengguncang sektor industri pengolahan pangan di Lampung Tengah ketika kobaran api melahap habis pabrik pengolahan tapioka milik PT Sinar Pematang Mulia 2 (SPM 2). Peristiwa nahas yang terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, sekitar pukul 18.30 WIB di Kampung Mataram Udik, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, ini tidak hanya menghentikan seluruh aktivitas produksi, tetapi juga menimbulkan kerugian material yang diperkirakan mencapai angka fantastis. Diduga kuat dipicu oleh hubungan arus pendek listrik yang kemudian memicu serangkaian ledakan dari area mesin produksi, kebakaran hebat ini memaksa pengerahan besar-besaran tim pemadam kebakaran dari berbagai wilayah, menyoroti kerentanan infrastruktur industri terhadap ancaman bencana dan dampaknya yang meluas terhadap ekonomi lokal.
Kronologi dan Skala Insiden yang Mengguncang
Malam itu, ketenangan Kampung Mataram Udik mendadak pecah oleh suara ledakan bertubi-tubi yang disusul dengan kobaran api membumbung tinggi dari kompleks pabrik PT Sinar Pematang Mulia 2 (SPM 2). Peristiwa yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB ini dengan cepat menarik perhatian warga dan petugas keamanan pabrik. Menurut laporan awal, api pertama kali terdeteksi oleh petugas keamanan yang sigap melihat percikan api dan kepulan asap tebal yang muncul dari bagian vital pabrik: area mesin produksi. Area ini merupakan jantung operasional pabrik, tempat singkong segar diolah melalui berbagai tahapan kompleks seperti pencucian, penggilingan, ekstraksi pati, sentrifugasi, hingga pengeringan untuk menghasilkan tepung tapioka berkualitas tinggi. Keberadaan material yang mudah terbakar, seperti pati singkong kering, debu organik, serta pelumas mesin, diperkirakan menjadi faktor pemicu cepatnya penyebaran api.
Saksi mata dan beberapa pekerja yang berada di lokasi pada saat kejadian melaporkan mendengar beberapa kali suara ledakan keras yang berasal dari area mesin produksi, sebelum api membesar dengan cepat. Ledakan ini, yang juga disebutkan dalam berbagai laporan media seperti Liputan6.com dan Detikcom, mengindikasikan adanya tekanan atau reaksi kimia yang intens, kemungkinan besar akibat kegagalan komponen listrik atau interaksi antara api dengan bahan mudah terbakar. Dugaan awal mengarah pada hubungan arus pendek listrik (korsleting) pada kabel mesin produksi sebagai penyebab utama. Korsleting listrik dapat menghasilkan panas ekstrem dan percikan api yang sangat panas, yang dalam lingkungan industri dengan banyak material mudah terbakar, dapat dengan cepat memicu kebakaran berskala besar. Para pekerja sempat berupaya melakukan pemadaman awal menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan selang air seadanya, namun keganasan api yang didukung oleh bahan bakar melimpah membuat upaya tersebut sia-sia dan membahayakan keselamatan mereka.











