Dalam sebuah langkah diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya, Melania Trump, Ibu Negara Amerika Serikat yang masih menjabat, dijadwalkan untuk memimpin sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pekan depan. Peristiwa bersejarah ini, yang akan berlangsung pada 2 Maret mendatang di Markas Besar PBB, New York, menandai pertama kalinya seorang Ibu Negara AS mengambil peran kepemimpinan dalam forum keamanan global paling penting tersebut. Agenda utama sidang yang bertajuk “Children, Technology, and Education in Conflict” ini akan berpusat pada penekanan peran vital pendidikan dalam memajukan toleransi dan perdamaian dunia, sebuah inisiatif yang sejalan dengan fokus AS saat mengambil alih kepresidenan bergilir Dewan Keamanan PBB untuk bulan Maret.
Pengumuman monumental ini disampaikan oleh Misi Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Kamis, sebagaimana dilansir oleh Yeni Safak. Pernyataan tersebut secara eksplisit menggarisbawahi keunikan situasi ini: “Kepemimpinan Ibu (Melania) Trump akan menandai pertama kalinya seorang Ibu Negara AS yang masih menjabat memimpin Dewan Keamanan ketika para anggota membahas isu pendidikan, teknologi, perdamaian, dan keamanan.” Momen ini tidak hanya menyoroti keterlibatan Ibu Negara dalam diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga menempatkan isu-isu krusial terkait anak-anak di tengah konflik, dampak teknologi, dan pentingnya pendidikan sebagai prioritas dalam agenda keamanan internasional. Melania Trump sendiri akan memegang palu sidang, sebuah simbol otoritas dan kepemimpinan, saat Amerika Serikat secara resmi mengambil alih Presidensi Dewan Keamanan PBB dari Inggris.
Sifat bersejarah dari peristiwa ini juga dikonfirmasi oleh Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric. Dujarric secara tegas menyatakan bahwa “ini akan menjadi pertama kalinya seorang ibu negara, atau bahkan ayah negara, memimpin pertemuan Dewan Keamanan.” Pernyataan ini sekaligus membedakannya dari contoh-contoh sebelumnya di mana ibu negara mungkin berpartisipasi dalam pertemuan PBB, namun selalu atas nama negara-negara non-anggota atau dalam kapasitas yang tidak melibatkan kepemimpinan langsung sidang Dewan Keamanan. Sidang tersebut diharapkan akan dihadiri oleh utusan dari negara-negara anggota Dewan Keamanan, termasuk Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, serta berbagai pemangku kepentingan internasional lainnya yang peduli terhadap isu-isu kemanusiaan dan perdamaian global. Presidensi Dewan Keamanan PBB, yang dipegang secara bergilir setiap bulan oleh salah satu dari 15 negara anggotanya sesuai urutan abjad dalam bahasa Inggris, akan berpindah ke AS pada bulan Maret, setelah sebelumnya dipegang oleh Inggris.
Bayang-bayang Skandal Jeffrey Epstein
Di tengah euforia pengumuman peran diplomatik bersejarah Melania Trump, muncul bayang-bayang kontroversi yang tak terduga. Pengumuman ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangkaian dokumen terkait terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein dirilis oleh Departemen Kehakiman AS. Dokumen-dokumen tersebut, yang memicu gelombang perdebatan dan spekulasi publik, mengungkap dugaan hubungan Melania Trump dengan mendiang Epstein, sebuah klaim yang secara langsung bertentangan dengan narasi resmi tentang bagaimana Melania bertemu dengan suaminya, Donald Trump.
Secara spesifik, seperti yang dilaporkan oleh The Daily Beast, seorang mantan asisten Epstein memberikan kesaksian kepada FBI, di bawah sumpah, bahwa pedofil terkenal itu adalah sosok yang memperkenalkan Donald Trump kepada Melania, yang kemudian menjadi istri ketiganya. Mantan asisten tersebut, seorang wanita yang namanya dirahasiakan dan sebelumnya bekerja sebagai model, menceritakan detail pertemuan tersebut dalam sebuah wawancara pada Juli 2019, tiga hari setelah Epstein ditangkap oleh FBI atas dakwaan perdagangan seks anak. Dalam catatannya, ia menggambarkan momen itu: “Aku melihat temanku melambaikan tangan kepada seseorang di belakangku. Ketika aku menoleh, aku melihat seorang pria dan seorang wanita pirang yang menarik mendekati kami.” Kemudian, lanjutnya, “‘Hai. Saya Donald Trump,’ kata pria itu ketika dia sampai di mejaku. ‘Senang bertemu denganmu.’ Aku mengenali namanya, dan aku tahu dia seorang pengusaha atau selebriti, tetapi tidak banyak hal lain. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.” Wanita itu melanjutkan, “‘Halo,’ jawabku. ‘Saya Melania.’ Matanya dipenuhi rasa ingin tahu dan ketertarikan, dan, memanfaatkan kesempatan itu, dia duduk di sebelahku dan memulai percakapan.” Mantan asisten Epstein ini bekerja untuknya selama setahun, dari 2005 hingga 2006, sehingga kesaksiannya memberikan perspektif yang berbeda tentang awal mula hubungan pasangan Trump.
Kontradiksi Narasi dan Reaksi Hukum
Klaim yang termuat dalam dokumen setebal 11 halaman yang banyak disensor tersebut, yang diterbitkan sebagai bagian dari pengungkapan tiga juta berkas Epstein pada Jumat dan ditemukan awal Februari, secara fundamental bertentangan dengan versi memoar Melania Trump pada tahun 2024 tentang pertemuan pertamanya dengan suaminya. Narasi resmi yang selama ini beredar adalah bahwa mereka bertemu pada tahun 1998 melalui Paolo Zampolli, agen Melania saat itu. Gedung Putih, dalam merespons tuduhan ini, merujuk pada peringatan sebelumnya dari Departemen Kehakiman yang menyatakan bahwa berkas Epstein mungkin berisi informasi yang tidak benar atau tidak terverifikasi, mencoba meredam dampak dari klaim tersebut.
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Melania Trump terkait lingkaran sosial Epstein. Tahun lalu, Ibu Negara mengancam akan menuntut penulis biografi Trump, Michael Wolff, sebesar US$1 miliar setelah ia mengatakan dalam sebuah episode Podcast The Daily Beast bahwa Melania “sangat terlibat” dalam lingkaran sosial Epstein. Wolff, yang berpegang pada klaimnya bahwa Trump dan Melania bertemu pada tahun 1998 melalui Paolo Zampolli, menanggapi ancaman itu dengan mengajukan gugatan balik terhadap Ibu Negara. Ia menggunakan undang-undang kebebasan berbicara untuk menuduh Melania Trump mencoba membungkamnya secara tidak sah. Melania Trump kemudian berusaha agar gugatan tersebut dibatalkan dengan mengklaim bahwa ia belum menerima pemberitahuan gugatan secara sah, menambah lapisan kerumitan hukum pada isu ini.
Klaim mengejutkan mengenai asal-usul pasangan tersebut pertama kali muncul dalam catatan FBI tertanggal November 2019, yang merinci wawancara pada Juli dengan wanita yang namanya dirahasiakan tersebut—dan yang diberikan kekebalan untuk berbicara. Dokumen tersebut, meskipun banyak disensor, menunjukkan bahwa wanita tersebut diperlakukan sebagai korban pelecehan seksual sekaligus saksi kunci yang memberikan detail mengerikan tentang rezim pelecehan seksual Epstein di pulau pribadinya. Wawancara tersebut dilakukan dengan agen FBI dan jaksa federal berpengalaman, dan dicatat sebagai “perjanjian pengakuan” (proffer agreement). Perjanjian pengakuan adalah kesepakatan di mana seorang saksi memberikan bukti yang mereka nyatakan benar sebagai imbalan atas perjanjian untuk tidak dituntut, atau bentuk kekebalan terbatas lainnya. Meskipun dokumen tersebut tidak menyebutkan kekebalan spesifik yang ditawarkan kepadanya, memberikan pernyataan palsu kepada FBI dapat menyebabkan hukuman hingga lima tahun penjara, menunjukkan keseriusan dan bobot hukum dari kesaksian tersebut.
Menanggapi tuduhan ini, Donald Trump secara tegas membantah keterlibatan Jeffrey Epstein dalam pertemuannya dengan Melania. Dalam wawancara dengan Fox News pada April 2025, mantan Presiden itu menyatakan bahwa pengusaha yang tercela tersebut, yang merupakan teman dekatnya selama bertahun-tahun, “tidak ada hubungannya” dengan Melania. “Jeffrey Epstein tidak ada hubungannya dengan Melania dan memperkenalkan [kami]. Tapi mereka melakukan itu untuk merendahkan—mereka mengarang cerita,” katanya. “Maksud saya, saya bisa memberi tahu Anda persis bagaimana kejadiannya: Sebenarnya itu orang lain. Saya memang bertemu [Melania] melalui orang lain, tetapi bukan Jeffrey Epstein.” Penyangkalan ini menambah kompleksitas narasi seputar Ibu Negara dan awal hubungannya dengan Donald Trump, menempatkan peran diplomatik bersejarah Melania Trump dalam sorotan ganda, antara prestasi dan kontroversi yang terus membayangi.
Pilihan Editor: Ini Pesan Ibu Negara Turki untuk Melania Trump soal Anak-anak Gaza

















