Sebuah insiden pelayaran dramatis mengguncang perairan Poleang, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Sabtu pagi, ketika Kapal Motor (KM) Cahaya Intan Celebes dengan bobot GT 44 mengalami kebocoran lambung dan akhirnya tenggelam. Berangkat dari Pelabuhan Bajoe, Kota Bone, menuju Pelabuhan Boepinang, Bombana, kapal yang mengangkut 13 penumpang dan 7 awak kapal—total 20 individu—ini dihantam gelombang besar dan angin kencang di tengah laut. Meskipun sempat terombang-ambing dalam kondisi genting, seluruh 20 orang di dalamnya berhasil diselamatkan berkat kesigapan para nelayan lokal yang berada di sekitar lokasi kejadian, sebuah kisah penyelamatan heroik yang menjadi sorotan utama dalam peristiwa ini.
Kisah nahas KM Cahaya Intan Celebes GT 44 ini dimulai pada Sabtu dini hari, tepatnya sekitar pukul 00.00 Wita, saat kapal tersebut bertolak dari Pelabuhan Bajoe, Kota Bone, Sulawesi Selatan. Pelabuhan Bajoe dikenal sebagai salah satu gerbang utama pelayaran antarpulau di wilayah tersebut, menghubungkan Sulawesi Selatan dengan berbagai destinasi di Sulawesi Tenggara, termasuk Pelabuhan Boepinang di Bombana. Perjalanan ini, yang merupakan urat nadi transportasi dan logistik bagi masyarakat kepulauan, seharusnya berlangsung lancar. Namun, takdir berkata lain. Menurut keterangan Humas Basarnas Kendari, Wahyudi, insiden kritis tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 Wita, ketika kapal sudah berada di tengah laut, jauh dari daratan. Pada titik inilah, lambung kapal yang berukuran Gross Tonnage (GT) 44, sebuah ukuran standar untuk kapal angkut penumpang dan barang, mulai mengalami kebocoran serius. Air laut dengan cepat merangsek masuk ke dalam badan kapal, menciptakan situasi darurat yang mengancam keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal.
Penyebab utama kebocoran lambung kapal ini terungkap melalui investigasi awal yang disampaikan oleh Kepala Pos SAR Kolaka, Haeruddin. Sekitar pukul 06.00 Wita, atau hanya enam jam setelah keberangkatan, KM Cahaya Intan Celebes mulai menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang tidak terduga. Perairan Poleang, yang dikenal dengan karakteristik geografisnya, saat itu dilanda gelombang besar dan angin kencang. Fenomena cuaca buruk ini memberikan tekanan luar biasa pada struktur kapal, khususnya pada bagian lambung. Hantaman gelombang yang terus-menerus dan kuat, ditambah dengan tiupan angin kencang, menyebabkan kerusakan struktural yang mengakibatkan kebocoran pada lambung kapal. Kru kapal, yang menyadari bahaya tersebut, segera mengambil tindakan cepat dan heroik. Mereka mengerahkan segala upaya untuk mengatasi masuknya air, termasuk mengoperasikan empat unit mesin alkon (pompa air) berkapasitas tinggi. Namun, derasnya air laut yang masuk ke dalam kapal jauh melampaui kemampuan pompa-pompa tersebut untuk mengurasnya. Kondisi ini secara progresif memperburuk stabilitas kapal, menjadikannya semakin rentan terhadap ancaman tenggelam di tengah laut.
Di tengah keputusasaan yang melanda, dengan kapal yang semakin terisi air dan mulai oleng, kapten KM Cahaya Intan Celebes menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa. Dengan pandangan tajam dan insting yang terlatih, ia berhasil melihat siluet perahu nelayan yang kebetulan sedang beraktivitas tidak jauh dari lokasi kejadian. Keputusan cepat diambil: mendekati perahu nelayan tersebut. Ini adalah momen krusial yang mengubah nasib 20 orang di kapal. Para nelayan lokal, yang dikenal dengan keberanian dan solidaritas mereka di laut, segera merespons panggilan darurat. Tanpa ragu, mereka bergerak mendekat dan mulai melakukan evakuasi. Proses penyelamatan berlangsung cepat dan efisien, mengingat kondisi kapal yang kian kritis. Seluruh 13 penumpang dan 7 awak kapal dipindahkan dari KM Cahaya Intan Celebes yang sudah hampir tenggelam ke perahu-perahu nelayan. Momen ini menjadi bukti nyata bagaimana komunitas pesisir seringkali menjadi garda terdepan dalam penyelamatan maritim, berbekal pengetahuan lokal dan semangat tolong-menolong yang tinggi.
Setelah berhasil diselamatkan dari ancaman maut di tengah laut, seluruh korban, yang berjumlah 20 orang, segera dievakuasi menuju daratan terdekat. Berdasarkan informasi dari Wahyudi, Humas Basarnas Kendari, dan juga dikonfirmasi oleh sumber lain, mereka semua dibawa ke Puskesmas Boepinang Bombana. Evakuasi ke fasilitas medis ini merupakan prosedur standar untuk memastikan bahwa setiap individu yang mengalami insiden laut, terutama setelah terombang-ambing di perairan, mendapatkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hal ini penting untuk mendeteksi dan mengatasi potensi hipotermia, kelelahan ekstrem, atau cedera ringan lainnya yang mungkin tidak langsung terlihat. Keberhasilan penyelamatan seluruh penumpang dan awak kapal ini menjadi sebuah kabar baik yang melegakan, terutama mengingat potensi bahaya yang sangat besar dari insiden kapal tenggelam di perairan terbuka. Kisah ini menyoroti efektivitas koordinasi antara pihak berwenang seperti Basarnas dan Pos SAR Kolaka, serta peran tak ternilai dari masyarakat lokal, khususnya para nelayan, dalam situasi darurat.
Analisis Insiden dan Urgensi Keselamatan Maritim
Insiden tenggelamnya KM Cahaya Intan Celebes di perairan Bombana ini bukan hanya sebuah peristiwa tunggal, melainkan juga cerminan dari tantangan keselamatan maritim yang kerap dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti gelombang besar dan angin kencang, seringkali menjadi faktor pemicu utama kecelakaan laut. Bagi kapal-kapal motor berukuran sedang seperti GT 44, hantaman gelombang ekstrem dapat menyebabkan tekanan struktural yang signifikan, terutama pada lambung kapal. Peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan cuaca yang akurat dan kepatuhan ketat terhadap prosedur keselamatan pelayaran, termasuk pemeriksaan rutin kondisi kapal dan kelengkapan alat keselamatan. Upaya kru kapal dalam memompa air menunjukkan profesionalisme mereka, namun keterbatasan peralatan menghadapi volume air yang masif menegaskan perlunya sistem mitigasi yang lebih canggih dan kapasitas tanggap darurat yang memadai di laut.
Peran Vital Komunitas Pesisir dalam Penyelamatan















