Sebuah insiden maritim yang mencekam mengguncang perairan timur Indonesia pada dini hari Selasa, 17 Februari 2026, ketika Kapal Motor (KM) Intim Teratai yang mengangkut sekitar 140 penumpang, kandas secara dramatis di perairan dangkal Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kapal ini, yang bertolak dari Pelabuhan Babang menuju Pelabuhan Bastiong Ternate, dilaporkan dihantam gelombang setinggi sekitar empat meter dan angin kencang yang ekstrem, menyebabkan gangguan mesin fatal sebelum akhirnya menabrak karang dan miring. Peristiwa ini memicu kepanikan massal di antara para penumpang, memaksa sebagian dari mereka untuk berjuang menyelamatkan diri dengan berenang menuju pesisir pantai terdekat, sementara tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk operasi evakuasi yang menantang di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Kronologi Insiden Mencekam: Dari Pelabuhan Babang Menuju Bencana
Perjalanan KM Intim Teratai dimulai pada Senin, 16 Februari 2026, pukul 21.00 WIT, dari Pelabuhan Babang, sebuah titik keberangkatan penting di Halmahera Selatan, dengan tujuan akhir Pelabuhan Bastiong di Ternate. Sebuah rute pelayaran rutin yang menghubungkan dua wilayah vital di Maluku Utara. Namun, rutinitas itu berubah menjadi mimpi buruk ketika kapal memasuki perairan Pulau Makian. Menurut keterangan resmi dari Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate, Iwan Ramdani, laporan mengenai kecelakaan kapal diterima pada Selasa pagi, beberapa jam setelah insiden terjadi.
Pada sekitar pukul 04.45 WIT, saat sebagian besar penumpang mungkin masih terlelap dalam tidur, KM Intim Teratai dilaporkan mengalami serangkaian masalah kritis. Kapal tersebut diterjang oleh angin kencang yang luar biasa dan gelombang laut yang mencapai ketinggian sekitar empat meter. Kondisi cuaca ekstrem ini tidak hanya membuat kapal terombang-ambing hebat, tetapi juga menyebabkan gangguan serius pada sistem mesinnya, melumpuhkan kemampuan kapal untuk bermanuver dan melanjutkan pelayaran. Lebih lanjut, informasi dari sumber tambahan mengonfirmasi bahwa kapal tersebut akhirnya menabrak karang di sekitar perairan Desa Sabale, sebuah kejadian yang menjelaskan mengapa kapal kemudian kandas dan berada dalam posisi miring yang membahayakan. Kombinasi gelombang raksasa, kegagalan mesin, dan tabrakan dengan karang menciptakan skenario yang sangat berbahaya bagi seluruh awak dan penumpang di atas kapal.
Detik-detik Kepanikan dan Upaya Penyelamatan Mandiri
Posisi kapal yang miring secara signifikan, ditambah dengan kegelapan dini hari dan hantaman ombak yang tak henti-hentinya, sontak memicu kepanikan luar biasa di kalangan penumpang. Rasa takut dan ketidakpastian menyelimuti setiap sudut kapal. Dengan kondisi seadanya, tanpa menunggu bantuan resmi, banyak penumpang yang berupaya menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya, dalam keputusasaan, memutuskan untuk melompat ke laut dan berenang menuju pesisir pantai terdekat di Pulau Makian. Tindakan heroik ini, meskipun sangat berisiko, menunjukkan naluri bertahan hidup yang kuat di tengah situasi yang sangat genting.
Salah satu penumpang yang mengalami langsung kengerian tersebut, Lakai La Rudy, berhasil mengirimkan pesan darurat yang menggambarkan situasi mencekam. Dalam pesannya yang penuh kepedihan, ia memohon bantuan: “Mata pedih, lagi kecelakaan ini. Tolong hubungi Basarnas atau siapa. Saya lagi di daratan ini, di Pantai Makian luar.” Pesan ini tidak hanya menjadi bukti nyata kepanikan yang terjadi, tetapi juga berfungsi sebagai panggilan darurat yang krusial bagi tim penyelamat untuk segera bertindak. Keberanian Lakai La Rudy dalam berkomunikasi di tengah situasi kritis memberikan informasi vital mengenai lokasi dan kondisi para korban.
Respon Cepat Basarnas dan Operasi Evakuasi Dramatis
Merespons laporan kecelakaan yang diterima pada Selasa pagi, Basarnas Ternate segera melancarkan operasi penyelamatan berskala besar. Sebanyak 21 personel Basarnas Ternate dikerahkan dengan menggunakan Kapal Negara (KN) SAR Pandudewanata, sebuah aset vital dalam operasi pencarian dan pertolongan di laut. Dukungan tambahan datang dari Kapal Negara Patroli (KNP) 358 milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Ternate, yang turut menuju lokasi kejadian. Tim gabungan ini harus berjibaku melawan kondisi cuaca yang masih buruk dan gelombang tinggi yang menjadi kendala utama dalam upaya evakuasi.
Setibanya di lokasi, tim SAR menemukan KM Intim Teratai masih dalam posisi kandas dan miring di pesisir Pulau Makian. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Penumpang dievakuasi secara bergantian, dengan prioritas diberikan kepada mereka yang paling rentan. Berkat koordinasi yang sigap antara tim SAR dan masyarakat lokal, seluruh penumpang yang berjumlah sekitar 140 orang dinyatakan selamat dari insiden maut ini. Sebagai bentuk solidaritas dan bantuan kemanusiaan, sebagian penumpang yang berhasil mencapai daratan terlebih dahulu dievakuasi oleh warga setempat ke Desa Sabelei, Kecamatan Makian Barat, untuk beristirahat dan mendapatkan pertolongan awal di rumah-rumah penduduk. Aksi cepat tanggap dari warga lokal ini menjadi pilar penting dalam keberhasilan evakuasi awal.
Korban Cedera dan Penanganan Pasca-Insiden
Meskipun seluruh penumpang berhasil diselamatkan, insiden ini tidak sepenuhnya tanpa korban. Tercatat satu penumpang mengalami cedera serius, yaitu patah kaki, yang terjadi selama proses penyelamatan yang penuh tekanan. Kondisi korban tersebut dilaporkan belum sadarkan diri pasca-kejadian dan segera dievakuasi lebih lanjut ke Ternate untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Cedera ini menjadi pengingat akan bahaya dan risiko yang melekat dalam setiap insiden maritim, bahkan ketika evakuasi berhasil dilakukan.
Hingga Selasa siang, KM Intim Teratai masih terdampar di lokasi kandasnya. Otoritas terkait, termasuk Basarnas, KSOP, dan pihak keamanan maritim lainnya, terus bersiaga penuh di lokasi. Mereka memantau perkembangan cuaca secara ketat, mengingat kondisi perairan Maluku Utara yang seringkali tidak terduga dan dapat berubah drastis. Selain itu, penanganan lanjutan terhadap kapal yang kandas juga menjadi prioritas utama, termasuk upaya untuk mengevakuasi kapal atau melakukan perbaikan darurat guna mencegah dampak lingkungan lebih lanjut atau potensi bahaya navigasi. Penyelidikan mendalam mengenai penyebab pasti insiden ini juga akan dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, memastikan keselamatan pelayaran di perairan Maluku Utara.















