Sebuah insiden penerbangan dramatis mengguncang langit Papua Tengah pada Selasa, 27 Januari 2026, ketika pesawat Smart Air tipe Cessna 208 Caravan dengan nomor registrasi PK-SNS dan nomor seri 208B-2341 terpaksa melakukan pendaratan darurat di bibir pantai dekat Bandara Douw Aturure, Nabire. Insiden yang terjadi tak lama setelah lepas landas ini disebabkan oleh gangguan mesin serius, namun berkat keahlian pilot dan respons cepat dari berbagai pihak, seluruh 11 penumpang dan 2 kru berhasil diselamatkan tanpa cedera, memicu operasi evakuasi besar-besaran yang melibatkan personel gabungan dari kepolisian dan militer di tengah tantangan medan yang unik.
Pesawat Smart Air PK-SNS, yang merupakan bagian integral dari konektivitas udara di wilayah timur Indonesia, sedianya akan melaksanakan penerbangan komersial dari Bandar Udara Douw Aturure di Nabire, Provinsi Papua Tengah, menuju Bandar Udara Utarom di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Penerbangan ini dijadwalkan pada pukul 13.01 WIT. Namun, beberapa menit setelah pesawat mengudara, pilot mendeteksi adanya gangguan serius pada mesin. Sumber internal dan laporan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan bahwa terjadi penurunan daya dorong (thrust power) yang signifikan, sebuah kondisi kritis yang mengancam kemampuan pesawat untuk mempertahankan ketinggian dan kecepatan. Menghadapi situasi genting ini, pilot pengatur kendali (PIC) dengan sigap dan profesional membuat keputusan krusial: melakukan pendaratan darurat. Pilihan lokasi pendaratan yang diambil adalah di ujung pantai landasan 17 Bandara Douw Aturure, sebuah area yang juga dikenal sebagai Sungai Nabire atau bibir Pantai Karadiri di Logbon, Karadiri Pantai, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire. Keputusan ini, meskipun berisiko tinggi, terbukti menyelamatkan nyawa.
Lokasi pendaratan darurat ini menambah kompleksitas pada insiden tersebut. Pantai Karadiri, yang menjadi saksi bisu pendaratan mendebarkan ini, sebenarnya adalah salah satu destinasi wisata tersembunyi di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire. Terletak sekitar 30-45 menit perjalanan darat dari pusat kota Nabire dengan akses jalan yang sudah cukup baik, pantai ini dikenal dengan keindahan alamnya. Namun, pada hari itu, keindahan pantai berubah menjadi lokasi operasi penyelamatan. Pesawat mendarat di area pesisir, sebagian badannya terendam air, namun posisinya cukup dekat dengan daratan sehingga memungkinkan penumpang dan kru untuk segera keluar menyelamatkan diri. Setelah pendaratan yang menegangkan, semua 11 penumpang dan 2 kru berhasil keluar dari badan pesawat yang mengapung di air dan dipastikan dalam keadaan selamat. Identitas kesebelas penumpang yang berhasil dievakuasi adalah Yosua Maniba, Yustus Iyai, Yunus Bastira, Baharudin Rada, Muh Rada, Baradina Awujani, Nonce Bary, Muh Ridho, Iwan, Maria Komboy, dan Juprianto.
Sinergi Penyelamatan Multisektor: Evakuasi di Tengah Tantangan Medan














