Di tengah keheningan malam yang diselimuti duka, jenazah Capt. Hendrick Lodewyck Adam, seorang pilot charter Pelita Air yang gugur dalam tugas, akhirnya menemukan peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, pada Jumat, 20 Februari 2026, malam. Prosesi pemakaman yang khidmat ini dipimpin oleh putranya, diiringi isak tangis keluarga dan kehadiran rekan sejawat, menandai akhir tragis dari sebuah misi pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berujung pada kecelakaan pesawat di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara. Kepergian Capt. Hendrick yang berusia 54 tahun ini menyisakan luka mendalam bagi orang-orang terkasihnya, sekaligus menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi para penerbang dalam menjalankan tugas negara.
Perjalanan Terakhir Sang Penerbang di TPU Situ Gede
Prosesi pemakaman Capt. Hendrick Lodewyck Adam di TPU Situ Gede berlangsung dalam suasana yang sarat emosi. Jenazah almarhum, yang sebelumnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Pelita Jaya, Kedung Jaya, dibawa menuju liang lahat di komplek pemakaman yang berdekatan dengan pos TPU. Tenda didirikan untuk melindungi para pelayat dari kondisi cuaca, sementara sorot lampu menerangi area pemakaman, menciptakan siluet dramatis di kegelapan malam. Kehadiran sang putra, yang dengan tegar memimpin doa di sisi peti jenazah, menjadi momen paling menyentuh. Ia terlihat membawa foto almarhum sang ayah, sebuah pengingat visual akan sosok yang telah tiada. Peti jenazah kemudian diturunkan secara perlahan ke liang lahat, diiringi lantunan iqamah yang mengantarkan kepergian Capt. Hendrick menuju keabadian.

Kepergian Capt. Hendrick Lodewyck Adam bukanlah sekadar kehilangan seorang pilot, melainkan juga gugurnya seorang profesional yang berdedikasi tinggi. Pesawat Air Tractor AT-802 yang ia kemudikan, yang bertugas mengangkut BBM, mengalami insiden nahas di Kalimantan Utara. Detail spesifik mengenai penyebab kecelakaan masih dalam investigasi, namun tragedi ini menggarisbawahi betapa beratnya tanggung jawab yang diemban oleh para pilot, terutama dalam misi-misi vital yang seringkali dilakukan di medan yang sulit dan kondisi yang penuh tantangan. Usia almarhum yang menginjak 54 tahun menunjukkan bahwa ia adalah seorang penerbang berpengalaman, yang pengabdiannya selama bertahun-tahun patut dihargai.
Kehadiran Pimpinan Perusahaan dan Keengganan Memberikan Keterangan
Prosesi pemakaman tidak hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga oleh jajaran manajemen Pelita Air. Direktur Utama Pelita Air, Dendy Kurniawan, tampak hadir dan memberikan dukungan penuh, mengantar jenazah almarhum mulai dari rumah duka hingga ke liang lahat. Kehadirannya menunjukkan rasa hormat dan kepedulian perusahaan terhadap salah satu asetnya yang telah gugur dalam tugas. Selain Dirut, rekan-rekan seprofesi Capt. Hendrick juga turut hadir, memberikan penghormatan terakhir dan berbagi duka dengan keluarga. Kehadiran mereka menjadi bukti solidaritas dalam komunitas penerbangan, di mana setiap anggota saling mendukung dalam suka maupun duka.

Namun, di balik kehadiran para petinggi dan rekan kerja, terdapat satu aspek yang mencolok: keengganan untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Baik pihak keluarga maupun perwakilan Pelita Air memilih untuk bungkam ketika ditanyai oleh awak media. Sikap ini, meskipun dapat dipahami mengingat suasana duka yang mendalam, meninggalkan beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai detail kecelakaan dan kronologi kejadian. Dalam situasi seperti ini, transparansi terkadang menjadi kunci untuk memberikan kejelasan dan menenangkan publik, meskipun prioritas utama tentu saja adalah memberikan ruang dan waktu bagi keluarga untuk berduka.
Sambutan Dirut Pelita Air: Doa dan Harapan untuk Keluarga
Meskipun enggan memberikan keterangan mendalam, Direktur Utama Pelita Air, Dendy Kurniawan, sempat menyampaikan sambutannya setelah prosesi pemakaman selesai. Dalam pidatonya yang singkat namun penuh makna, ia menyampaikan doa dan harapan tulus kepada keluarga yang ditinggalkan. “Semoga keluarga diberikan ketabahan, dan untuk almarhum insyaallah Husnul Khotimah,” ucapnya, mendoakan agar keluarga diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini dan agar almarhum Capt. Hendrick diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dengan segala kebaikan.
Sambutan ini, meski tidak memberikan informasi teknis mengenai insiden, setidaknya memberikan pesan dukungan moral dari pihak perusahaan. Ini menunjukkan bahwa Pelita Air turut merasakan kehilangan dan berempati terhadap duka yang dialami keluarga Capt. Hendrick. Dalam menghadapi tragedi seperti ini, komunikasi yang baik dan dukungan yang tulus dari perusahaan dapat sangat berarti bagi keluarga yang sedang berduka. Harapan agar Capt. Hendrick mendapatkan akhir yang husnul khotimah merupakan doa universal yang diucapkan untuk setiap insan yang berpulang, sebuah harapan akan kebaikan dan kedamaian di alam baka.
Kepergian Capt. Hendrick Lodewyck Adam menjadi pengingat pahit akan risiko yang selalu mengintai dalam dunia penerbangan. Misi pengangkutan BBM di wilayah terpencil seperti Nunukan seringkali melibatkan tantangan navigasi, kondisi cuaca yang tidak terduga, dan keterbatasan infrastruktur. Setiap penerbangan adalah sebuah pertaruhan, dan para pilot seperti Capt. Hendrick adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mempertaruhkan nyawa demi kelancaran distribusi kebutuhan vital. Pemakaman di TPU Situ Gede ini bukan hanya akhir dari perjalanan fisik seorang individu, tetapi juga sebuah momen refleksi bagi kita semua tentang pengorbanan dan dedikasi para profesional yang bekerja di garis depan, memastikan roda kehidupan terus berputar.

















