Sebuah insiden penganiayaan brutal yang menimpa sejumlah pegawai di Astro Hub Ampera, Jakarta Selatan, pada dini hari Jumat, 30 Januari 2026, telah memicu respons cepat dan komprehensif dari manajemen Astro. Perusahaan layanan belanja daring yang beroperasi 24 jam ini segera mengambil langkah proaktif untuk memastikan perlindungan dan pendampingan menyeluruh bagi tujuh mitranya yang menjadi korban kekerasan, termasuk lima di antaranya yang telah menjalani visum medis. Insiden ini bermula dari sebuah kecelakaan lalu lintas yang berujung pada pengeroyokan oleh sekelompok pria tak dikenal, menyoroti urgensi peningkatan keamanan bagi para pekerja di garis depan operasional perusahaan yang mengandalkan kecepatan dan ketersediaan tanpa henti.
Komitmen Astro Terhadap Kesejahteraan Mitra: Respons Cepat dan Komprehensif
Menyikapi insiden serius tersebut, David Lusikooy, AVP of People and Legal Astro, menegaskan bahwa penanganan dan pendampingan terhadap pegawai Astro Hub Ampera menjadi prioritas utama manajemen. Dalam sebuah agenda media briefing yang diselenggarakan di Jakarta pada Jumat, 6 Februari 2026, David mengungkapkan bahwa dari tujuh mitra yang menjadi korban, lima di antaranya telah menjalani proses visum et repertum sebagai bagian dari langkah hukum yang diambil. “Jumlah mitra yang divisum ada lima orang, dan laporan hasilnya sudah diserahkan ke pihak berwajib,” terang David, mengindikasikan keseriusan Astro dalam mendukung proses penegakan hukum.
David Lusikooy lebih lanjut menjelaskan bahwa Astro memiliki infrastruktur internal yang dirancang khusus untuk situasi seperti ini, yakni Hub Care Unit. Unit pelayanan internal ini berfungsi sebagai pusat dukungan untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan mitra, sebuah aspek krusial mengingat sifat operasional perusahaan layanan belanja online yang berlangsung selama 24 jam setiap hari, tanpa henti. Setelah insiden penganiayaan yang mengejutkan itu, fokus utama manajemen adalah memberikan pendampingan holistik kepada mitra yang terdampak. Pendampingan ini mencakup berbagai aspek esensial, yaitu dari segi hukum untuk memastikan keadilan, medis untuk penanganan cedera fisik, psikologis untuk pemulihan trauma, dan administratif untuk membantu proses-proses terkait, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing korban. Langkah ini menunjukkan komitmen Astro untuk tidak hanya merespons insiden, tetapi juga berinvestasi dalam pemulihan jangka panjang karyawannya.
Meskipun demikian, manajemen Astro juga menunjukkan penghargaan tinggi terhadap otonomi dan keputusan individu para korban. David menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai langkah-langkah selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing individu yang merasa dirugikan dalam insiden tersebut. Pendekatan ini mencerminkan penghormatan manajemen terhadap hak-hak pribadi dan pilihan para pegawai dalam menyikapi situasi yang sulit ini, baik itu melanjutkan proses hukum, mencari jalur mediasi, atau mengambil keputusan lainnya. Astro memastikan bahwa dukungan akan tetap diberikan, terlepas dari pilihan yang diambil oleh mitra.
AVP of People and Legal Astro, David Lusikooy, dalam agenda media briefing di Jakarta, 6 Februari 2026. TEMPO/Hanin Marwah
Kronologi Insiden: Dari Kecelakaan Lalu Lintas Menuju Tindak Kekerasan Brutal
Insiden penganiayaan yang menggemparkan ini terjadi pada Jumat pagi, 30 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, di area parkir Astro Hub Ampera, Jalan Ampera, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Peristiwa bermula ketika sebuah mobil secara tak terduga menabrak dua sepeda motor milik mitra Astro yang terparkir, sebelum akhirnya menabrak pohon di area yang sama. Kecelakaan ini sontak menarik perhatian sejumlah mitra yang sedang berjaga dan bertugas pada waktu itu. Dengan niat baik, mereka segera mendekat ke lokasi kejadian untuk memeriksa kondisi pengemudi dan menawarkan bantuan.
Pada awalnya, pengemudi yang menabrak menunjukkan sikap kooperatif. Ia keluar dari mobilnya dan menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab penuh atas kerusakan kendaraan mitra Astro yang diakibatkan oleh kecelakaan tersebut. Namun, situasi berubah drastis tak lama kemudian. Pengemudi tersebut kembali masuk ke dalam mobilnya dan tampak melakukan panggilan telepon yang mencurigakan. “Tidak lama kemudian, datang dua kendaraan roda empat lain, berisi sekitar enam hingga delapan pria, tiba di lokasi kejadian dan mulai menimbulkan ketegangan,” papar David Lusikooy, menggambarkan eskalasi situasi yang cepat dan mengkhawatirkan.
Para mitra Astro yang berada di lokasi, menurut David, sempat berusaha menjelaskan duduk perkara dan situasi yang sebenarnya terjadi. Namun, upaya mereka sia-sia. Kelompok pria yang baru datang tersebut, tanpa peringatan atau provokasi lebih lanjut, langsung melakukan tindakan kekerasan. Mereka memukuli dan menendang mitra Astro yang saat itu berada di area parkir. Kekerasan tidak berhenti di situ; para pria tersebut bahkan masuk ke dalam gedung Hub dan melanjutkan aksi pemukulan serta intimidasi terhadap mitra Astro yang sedang bekerja di lantai satu, dua, dan bahkan tiga. “Termasuk beberapa dari mereka juga yang tidak mengetahui apa yang terjadi di area parkir, karena ada yang bekerja di atas,” tambah David, menyoroti betapa acaknya dan tak pandangnya tindakan kekerasan tersebut terhadap siapa pun yang berada di lokasi.
Setelah rentetan kekerasan tersebut, para pelaku sempat memberikan nomor telepon kepada salah satu mitra Astro yang berada di lokasi. Mereka juga memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi, disertai pesan ancaman agar para mitra “tidak macam-macam”. Selain penganiayaan fisik, insiden ini juga menyebabkan kerugian materiil bagi dua mitra Astro karena kendaraan mereka rusak parah akibat ditabrak oleh pelaku. Satu sepeda motor mengalami lecet di bagian samping, sementara sepeda motor lainnya mengalami kerusakan yang jauh lebih parah, mengindikasikan benturan yang cukup keras.
Langkah Hukum, Mediasi, dan Peningkatan Keamanan Astro
Pasca-insiden, salah satu pemilik sepeda motor yang terdampak paling parah memilih jalur mediasi dengan pelaku. Namun, proses hukum dan penyelesaian di antara kedua pihak belum mencapai titik terang karena pelaku belum memenuhi secara tuntas syarat mediasi, terutama terkait biaya kompensasi yang dijanjikan, hingga saat ini. Situasi ini menambah beban bagi korban yang sudah mengalami kerugian fisik dan materiil. Sementara itu, sejumlah mitra lain yang juga terdampak penganiayaan masih belum memutuskan langkah hukum apa pun yang akan mereka ambil, mungkin karena trauma, kebingungan, atau pertimbangan lainnya.
Menanggapi kondisi ini, David Lusikooy kembali menegaskan bahwa manajemen Astro akan terus memastikan pendampingan kesehatan hingga proses hukum akan terus dilakukan oleh manajemen hingga perkara ini tuntas. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang Astro untuk tidak meninggalkan para mitranya sendirian dalam menghadapi konsekuensi dari insiden tragis ini. Selain itu, sebagai upaya konkret peningkatan keamanan di seluruh titik operasionalnya, manajemen Astro terus berkoordinasi erat dengan pihak berwajib. Langkah ini diiringi dengan penambahan anggota keamanan di setiap area operasional untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan memberikan rasa aman yang lebih besar bagi para pegawai yang bekerja di garis depan.
Meskipun mengalami trauma dan kerugian akibat peristiwa penganiayaan ini, ketujuh pegawai yang menjadi korban dilaporkan telah beraktivitas kembali dengan normal. Namun, dukungan berkelanjutan dari Astro, baik dalam bentuk pendampingan hukum, medis, maupun psikologis, tetap krusial untuk memastikan pemulihan penuh dan keadilan bagi mereka. Insiden ini menjadi pengingat penting akan tantangan keamanan yang dihadapi oleh pekerja di sektor layanan daring yang beroperasi 24 jam, serta urgensi bagi perusahaan untuk memiliki sistem dukungan yang kuat dan responsif.

















