Di tengah kesibukan global yang tak kenal henti, Mantan Presiden Republik Indonesia periode 2014-2024, Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, telah menorehkan kehadirannya dalam sebuah forum diskusi strategis di New Delhi, India. Pada Jumat, 20 Februari 2026, Jokowi berpartisipasi dalam sesi private breakfast yang merupakan bagian integral dari rangkaian Forum Bloomberg New Economy 2026. Kehadiran beliau, yang disampaikan langsung oleh ajudannya, Ajun Komisaris Besar Polisi Syarif Muhammad Fitriansyah, melalui pesan WhatsApp kepada awak media di Solo, menggarisbawahi signifikansi isu yang dibahas: kedaulatan kecerdasan buatan atau AI sovereignty. Acara bergengsi ini, yang berlangsung di tengah bulan puasa, menunjukkan komitmen Jokowi untuk tetap terlibat dalam dialog global mengenai isu-isu krusial yang membentuk masa depan teknologi dan ekonomi dunia, meskipun tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.
Mendalami Kedaulatan AI di Forum Bergengsi
Sesi private breakfast yang dihadiri oleh mantan Presiden Jokowi ini bukanlah sekadar pertemuan informal, melainkan sebuah platform diskusi mendalam yang dirancang untuk mengupas tuntas isu-isu strategis yang relevan dengan lanskap ekonomi dan teknologi global. Menurut keterangan Ajun Komisaris Besar Polisi Syarif Muhammad Fitriansyah, pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam, sebuah durasi yang cukup memadai untuk sebuah dialog yang terfokus. Topik utama yang menjadi sorotan adalah mengenai “kedaulatan kecerdasan buatan” atau yang dikenal dengan istilah AI sovereignty. Diskusi ini menjadi sangat relevan mengingat pesatnya perkembangan teknologi AI yang kini merambah ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari industri, pemerintahan, hingga kehidupan sehari-hari.
AI sovereignty merujuk pada kemampuan suatu negara atau entitas untuk mengendalikan dan mengatur penggunaan teknologi kecerdasan buatan di dalam wilayahnya. Ini mencakup aspek-aspek seperti kepemilikan data, pengembangan algoritma, keamanan siber, etika penggunaan AI, serta dampaknya terhadap pasar tenaga kerja dan kedaulatan nasional. Dalam konteks global yang semakin terhubung, isu ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa pengembangan dan penerapan AI tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan manfaat yang merata dan tidak menimbulkan kesenjangan digital atau ketergantungan teknologi yang berlebihan.
Peserta Berkualitas Tinggi dalam Diskusi Strategis
Keberhasilan sebuah forum diskusi tidak hanya diukur dari topik yang dibahas, tetapi juga dari kualitas serta keragaman partisipan yang hadir. Dalam sesi private breakfast Forum Bloomberg New Economy 2026 ini, tampak hadir sekitar 22 partisipan yang merupakan para pemangku kepentingan utama dalam ekosistem teknologi dan ekonomi global. Kehadiran mereka mencakup spektrum yang luas, mulai dari para pemimpin perusahaan teknologi global yang menjadi motor penggerak inovasi, perwakilan dari lembaga riset terkemuka yang menjadi garda terdepan dalam penelitian dan pengembangan, hingga tokoh-tokoh pemerintahan yang memiliki peran strategis dalam perumusan kebijakan.
Syarif Muhammad Fitriansyah merinci beberapa nama penting yang turut meramaikan diskusi ini, memberikan gambaran yang jelas mengenai tingkat keahlian dan pengaruh para peserta. Di antaranya adalah Presiden dan CEO US-India Strategic Partnership, Mukesh Aghi, yang perannya sangat vital dalam memperkuat hubungan strategis antara Amerika Serikat dan India, dua negara yang memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi. Selain itu, hadir pula Anchor Bloomberg, Haslinda Amin, yang merupakan figur terkemuka dalam dunia jurnalisme ekonomi dan keuangan global, memberikan perspektif yang tajam melalui pengalamannya meliput berbagai peristiwa penting.
Lebih lanjut, jajaran eksekutif dari perusahaan teknologi terkemuka juga turut ambil bagian. COO Zoom, Aparna Bawa, memberikan pandangan dari salah satu platform komunikasi digital terbesar di dunia. CEO dan Founder Zscaler, Jay Chaudhry, mewakili perusahaan yang berfokus pada keamanan siber, sebuah aspek krusial dalam era digital. Chief Technology Officer Ericsson, Erik Ekudden, membawa keahlian dari industri telekomunikasi yang menjadi tulang punggung konektivitas global. Diskusi ini juga diperkaya oleh kehadiran Editorial Director Bloomberg New Economy, Erik Schatzker, dan Global Head of Forums for Bloomberg Live, David Hearn, yang merupakan arsitek di balik penyelenggaraan forum-forum bergengsi ini.
Dari kalangan korporasi dan industri global, daftar nama yang hadir semakin mengesankan. CEO dan President FedEx, Rajesh Subramaniam, mewakili sektor logistik dan rantai pasok yang sangat bergantung pada efisiensi teknologi. Managing Director dan CEO Infosys, Salil Parekh, membawa pengalaman dari salah satu perusahaan layanan teknologi informasi terbesar di India. Chairman PwC India, Sanjeev Krishan, memberikan perspektif dari sektor jasa profesional dan konsultasi. President dan CEO Information Technology Industry Council, Jason Oxman, mewakili suara industri teknologi secara keseluruhan.
Menambah bobot strategis forum ini, hadir pula mantan Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, yang pengalamannya dalam pemerintahan dan pemahaman mendalam mengenai isu ekonomi global sangat berharga. Tak ketinggalan, Menteri Perkeretaapian, Informasi dan Penyiaran, serta Elektronika dan Teknologi Informasi India, Ashwini Vaishnaw, turut serta, memberikan perspektif dari sisi kebijakan pemerintah India dalam menghadapi revolusi digital dan AI.
Posisi Strategis dalam Meja Diskusi
Penempatan posisi duduk dalam sebuah pertemuan formal seringkali mencerminkan peran dan hubungan antar peserta. Dalam sesi private breakfast ini, mantan Presiden Jokowi menempati posisi yang cukup strategis di meja diskusi. Ajun Komisaris Besar Polisi Syarif Muhammad Fitriansyah menjelaskan bahwa Jokowi duduk di antara Haslinda Amin, sang jurnalis terkemuka dari Bloomberg, dan Erik Schatzker, Editorial Director Bloomberg New Economy. Posisi ini memungkinkan Jokowi untuk berinteraksi secara langsung dan intensif dengan kedua individu tersebut, yang berperan sebagai fasilitator dan pemandu jalannya diskusi.
Lebih menarik lagi, Syarif menambahkan bahwa Jokowi berhadapan langsung dengan beberapa tokoh penting lainnya, yaitu Rishi Sunak, Ashwini Vaishnaw, dan Rajesh Subramaniam. Susunan tempat duduk ini secara visual menggambarkan adanya dialog tatap muka yang intens antara mantan Presiden Indonesia dengan mantan Perdana Menteri Inggris, seorang menteri kunci dari India yang menangani isu teknologi, serta seorang pemimpin dari industri logistik global. Interaksi langsung ini tentu saja memfasilitasi pertukaran pandangan yang lebih mendalam dan personal mengenai tantangan serta peluang yang terkait dengan kedaulatan AI di panggung global.
Tentang Forum Bloomberg New Economy
Forum Bloomberg New Economy merupakan sebuah inisiatif global yang didirikan oleh Bloomberg untuk menjadi wadah dialog yang konstruktif. Forum ini secara konsisten berhasil mengumpulkan para pemimpin dari berbagai sektor, termasuk pemerintahan, dunia bisnis, dan para inovator di bidang teknologi. Tujuan utamanya adalah untuk bersama-sama mengidentifikasi dan membahas tantangan-tantangan paling mendesak yang dihadapi ekonomi dunia, serta mengeksplorasi solusi-solusi inovatif di tengah derasnya arus transformasi digital yang terus mengubah lanskap global.
Setiap tahun, Forum Bloomberg New Economy mengangkat tema-tema spesifik yang menjadi fokus utama diskusi. Pada edisi tahun 2026 ini, tema “kedaulatan AI” dipilih sebagai salah satu isu sentral. Pemilihan tema ini sangatlah tepat mengingat lanskap teknologi global saat ini yang diwarnai oleh persaingan ketat antarnegara dalam pengembangan AI, serta dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Diskusi ini menjadi krusial untuk merumuskan kerangka kerja dan prinsip-prinsip yang dapat memastikan bahwa kemajuan AI dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan adil bagi semua pihak, serta menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di era digital.

















