Dalam lanskap persaingan global yang kian ketat, negara-negara di Asia Tenggara semakin menyadari bahwa riset dan inovasi adalah kunci fundamental untuk meneguhkan eksistensi dan memajukan kemandirian teknologi. Sebuah pernyataan visioner datang dari Vietnam, di mana Menteri Sains dan Teknologi, Nguyen Manh Hung, dalam Kongres Nasional ke-14 Partai Komunis Vietnam pada 19 Januari 2026, secara tegas menyatakan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi adalah fondasi tak tergantikan untuk meneguhkan posisi bangsa di era baru. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah strategi kebangsaan yang komprehensif, bertujuan untuk mengubah Vietnam dari pengguna menjadi pencipta teknologi, serta memastikan transformasi digital menjadi tulang punggung daya saing nasional, sekaligus mengangkat martabat bangsa di kancah internasional.
Vietnam: Menginstitusionalisasi Riset dan Inovasi sebagai Strategi Politik Nasional
Pandangan Vietnam ini secara fundamental menempatkan riset dan inovasi jauh melampaui sekadar aktivitas teknokratik atau akademik. Ia diangkat menjadi sebuah strategi politik nasional yang integral, sebuah jalan krusial menuju kemandirian ekonomi dan teknologi, serta instrumen vital untuk mengangkat martabat bangsa di tengah kompetisi global yang tak terhindarkan. Vietnam secara berani menegaskan bahwa untuk berdaulat dan maju, sebuah bangsa harus mampu menciptakan, bukan hanya mengonsumsi.
Pendekatan Vietnam terhadap riset dan inovasi terbingkai dalam kerangka pembangunan nasional yang sangat sistematis. Transformasi digital, misalnya, tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap atau tambahan, melainkan sebagai tulang punggung yang menopang daya saing bangsa secara keseluruhan. Digitalisasi dipahami secara mendalam bukan hanya sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi operasional semata, tetapi sebagai fondasi esensial untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru yang dinamis, memperluas akses pendidikan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, memperkuat kualitas layanan publik yang responsif, dan membangun kapasitas adaptasi masyarakat dalam menghadapi dinamika era global yang terus berubah. Dengan menempatkan transformasi digital sebagai inti dari seluruh proses pembangunan, Vietnam berupaya keras memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat, dari individu hingga sektor industri, dapat bergerak selaras dan bersama-sama dalam arus perubahan teknologi yang begitu cepat dan disruptif.
Lebih ambisius lagi, Vietnam menargetkan kemandirian teknologi sebagai tujuan strategis utamanya. Ini adalah pergeseran paradigma yang signifikan: dari posisi sebagai pengguna pasif teknologi asing, Vietnam bertekad kuat untuk bertransformasi menjadi pencipta, pengembang, dan bahkan eksportir hasil riset dan inovasi. Orientasi ini mencerminkan kesadaran mendalam bahwa ketergantungan yang terus-menerus pada teknologi luar negeri hanya akan memperkuat posisi subordinat suatu negara dalam rantai nilai global yang didominasi oleh kekuatan teknologi maju. Dengan tekad yang tak tergoyahkan untuk terus mendorong riset dan pengembangan domestik, Vietnam telah berinvestasi besar dalam membangun kapasitas nasional yang mumpuni. Kapasitas ini mencakup kemampuan untuk menghasilkan produk, sistem, dan solusi teknologi yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan internal negara, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Kemandirian teknologi ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan nasional yang membara, tetapi juga merupakan strategi ekonomi jangka panjang yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan ekonomi Vietnam di masa depan.
Riset yang Relevan dan Berdampak: Menjawab Kebutuhan Praktis Masyarakat
Salah satu ciri khas pendekatan Vietnam yang patut dicermati adalah integrasi yang kuat antara riset dan inovasi dengan kebijakan pembangunan nasional. Di Vietnam, riset dan inovasi tidak dibiarkan berjalan dalam ruang akademik yang terisolasi dari realitas sosial dan ekonomi. Sebaliknya, setiap upaya riset dan inovasi secara eksplisit diarahkan untuk menjawab kebutuhan praktis yang mendesak dari masyarakat dan industri. Dengan demikian, riset dan inovasi diinstitusionalisasi sebagai instrumen kebijakan publik yang konkret dan memiliki dampak nyata. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat sektor kesehatan, mengembangkan sumber energi terbarukan yang berkelanjutan, atau memperbaiki sistem pendidikan agar lebih relevan dan efektif. Pendekatan ini menciptakan sebuah siklus positif yang saling menguatkan: kebijakan pemerintah memberikan arah dan prioritas bagi kegiatan riset, sementara riset pada gilirannya memberikan solusi inovatif dan berbasis bukti untuk tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kebijakan tersebut. Agenda politik Vietnam, yang secara konsisten ditegaskan dalam Kongres Nasional Partai, terus menekankan pentingnya riset dan inovasi sebagai bagian tak terpisahkan dari visi kebangsaan. Hal ini menggarisbawahi bahwa riset dan inovasi bukan hanya domain para teknokrat atau akademisi, melainkan sebuah strategi politik fundamental untuk meneguhkan posisi dan pengaruh bangsa di panggung dunia. Vietnam secara aktif membangun narasi bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kapasitasnya untuk mencipta dan berinovasi, bukan sekadar mengikuti tren atau mengadopsi teknologi yang sudah ada. Narasi ini tidak hanya memperkuat legitimasi politik, tetapi juga membangun kepercayaan yang mendalam di kalangan masyarakat bahwa riset dan inovasi adalah jalan yang pasti menuju kesejahteraan, kemandirian, dan kedaulatan bangsa.
Indonesia dan Tantangan Kemandirian Teknologi: Belajar dari Vietnam
Indonesia, sebagai sesama negara berkembang di Asia Tenggara, menghadapi tantangan yang serupa dalam upaya membangun kemandirian teknologi dan ekonomi berbasis inovasi. Kita telah memiliki kerangka kelembagaan riset dan inovasi yang cukup komprehensif, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dana abadi riset yang signifikan, dan berbagai program kolaborasi internasional. Bahkan, Indonesia dan Vietnam telah secara resmi menyepakati kerja sama strategis di bidang sains dan teknologi, yang mencakup pertukaran informasi, riset bersama, serta pendanaan proyek inovatif untuk memperkuat ekosistem teknologi kedua negara. Kesepakatan ini, yang ditandatangani baru-baru ini, mencakup pertukaran informasi dan pengalaman mengenai praktik baik, kebijakan, hukum, dan peraturan perundang-undangan terkait sains dan teknologi. Ini menunjukkan potensi besar untuk saling belajar dan menguatkan.
















