Di tengah nuansa spiritual bulan Ramadan 1447 Hijriah, seorang figur publik kembali mencuri perhatian publik dengan sebuah tindakan yang sarat makna dan emosional. Karina Ranau, janda dari almarhum aktor legendaris Epy Kusnandar, memilih cara yang tak lazim untuk menyambut hari pertama puasa di tahun 2026. Alih-alih merayakannya di rumah seperti kebanyakan orang, Karina memutuskan untuk menjalani momen sahur pertamanya tanpa kehadiran sang suami tercinta di sisi, di sebuah tempat yang menyimpan kenangan mendalam: makam Epy Kusnandar. Keputusan ini, yang dibagikan melalui akun media sosialnya pada Kamis, 19 Februari 2026, tidak hanya menjadi sorotan karena keunikannya, tetapi juga memicu berbagai reaksi dan diskusi mengenai cara seseorang mengekspresikan duka dan cinta setelah kehilangan orang terkasih. Momen ini menjadi bukti nyata bagaimana ikatan batin dapat melampaui batas kehidupan dan kematian, serta bagaimana tradisi keagamaan dapat diinterpretasikan secara personal dalam menghadapi cobaan hidup.
Menyambut Ramadan dengan Kenangan: Sahur di TPU Jeruk Purut
Ramadan tahun 2026 menandai sebuah babak baru yang penuh tantangan bagi Karina Ranau. Ini adalah bulan suci pertama yang ia jalani tanpa kehadiran fisik suami tercinta, Epy Kusnandar, seorang aktor yang dikenal luas melalui perannya dalam berbagai karya sinematik dan serial televisi, termasuk franchise “Preman Pensiun”. Kepergian Epy Kusnandar pada tanggal 3 Desember 2025 lalu, meninggalkan luka mendalam yang masih terasa hingga kini. Di tengah upaya untuk beradaptasi dengan kehidupan pasca-kehilangan, Karina menemukan cara untuk tetap terhubung dengan mendiang suaminya, bahkan dalam momen-momen sakral seperti sahur pertama di bulan Ramadan.
Keputusan Karina untuk menjalani sahur pertama di area pemakaman sang suami, Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, bukanlah sebuah tindakan impulsif, melainkan sebuah pilihan yang didasari oleh kerinduan dan keinginan untuk berbagi momen spiritual. Ia tidak datang sendirian. Dalam sebuah gestur yang menunjukkan kehangatan dan dukungan keluarga, Karina turut mengajak serta putra semata wayangnya dan beberapa karyawan yang setia mendampingi almarhum suaminya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bisnis yang mereka jalani. Kehadiran mereka menambah nuansa kebersamaan dalam kesedihan, menciptakan sebuah potret keluarga yang utuh dalam ingatan dan cinta.
Momen istimewa ini dibagikan oleh Karina melalui akun Instagram pribadinya, memberikan gambaran kepada publik tentang bagaimana ia memilih untuk merayakan awal Ramadan. Unggahan tersebut menampilkan serangkaian foto yang mendokumentasikan persiapan dan pelaksanaan sahur di makam. Tindakan ini, meskipun mungkin tidak konvensional, mencerminkan kedalaman emosi dan ikatan spiritual yang masih terjalin antara Karina dan mendiang suaminya. Hal ini juga membuka diskusi mengenai berbagai cara individu dalam menghadapi duka dan merayakan tradisi keagamaan, yang seringkali sangat personal dan unik.
Ekspresi Cinta dan Kerinduan Melalui Tradisi yang Diadaptasi
Pada hari pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, sebuah pemandangan tak biasa tersaji di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Karina Ranau, istri dari almarhum aktor Epy Kusnandar, memilih untuk memulai ritual sahur pertamanya di bulan suci tersebut di area makam sang suami. Momen ini, yang direkam dan dibagikan ke publik melalui media sosial, segera menjadi viral dan memicu beragam komentar.
Keputusan Karina untuk tidak sahur di rumah, melainkan di tempat peristirahatan terakhir Epy Kusnandar, menunjukkan betapa besar kerinduannya. Ia ingin merasakan kehadiran suaminya di sisinya, berbagi momen penting dalam kalender Islam, meskipun dalam suasana yang berbeda. Kehadiran anak-anak dan karyawan menambah dimensi kehangatan dalam momen yang seharusnya penuh kesedihan. Ini bukan sekadar makan sahur biasa, melainkan sebuah ritual yang sarat makna, menggabungkan rasa duka, cinta, dan penghormatan.
Dalam unggahannya di Instagram pada Kamis, 19 Februari 2026, Karina mengungkapkan perasaannya yang mendalam. Ia menuliskan salam dan sapaan kepada mendiang suaminya, “Assalamualaikum Papi, sahur Pih. Bahagianya malam ini bisa sahur bareng Papi.” Kalimat ini bukan hanya sekadar ungkapan lisan, tetapi sebuah doa dan ungkapan kerinduan yang tulus dari hati seorang istri kepada suaminya yang telah tiada. Usia Karina yang saat itu menginjak 42 tahun, menambah bobot emosional pada pernyataannya, menunjukkan kematangan dalam menghadapi cobaan hidup sambil tetap memegang teguh ikatan batin dengan orang terkasih.
Untuk menambah kehangatan dan nuansa personal pada momen tersebut, Karina juga membawa beberapa properti yang sangat bermakna. Sebuah pigura foto yang menampilkan wajah Epy Kusnandar turut hadir, seolah menjadi pengingat visual akan sosok yang selalu ada di hati. Kehadiran foto ini memperkuat kesan bahwa Epy Kusnandar turut “hadir” dalam kebersamaan mereka, meskipun hanya dalam bentuk kenangan dan cinta yang abadi. Persiapan ini menunjukkan betapa terencana dan penuhnya persiapan emosional Karina dalam menghadapi sahur pertama tanpa sang suami.
Dalam pelaksanaan sahur tersebut, Karina dan rombongannya duduk lesehan di atas karpet plastik yang digelar di area makam. Suasana tampak begitu santai, seolah-olah mereka sedang berkumpul di rumah. Makanan yang disajikan pun sederhana namun penuh makna, berupa nasi kotak dan lauk-pauk yang dibawa dari rumah. Kesederhanaan ini justru menambah kehangatan dan keakraban, menunjukkan bahwa kebersamaan dan cinta lebih penting daripada kemewahan materi. Karina tampak menikmati hidangannya sambil sesekali berdialog dengan karyawannya, menciptakan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan di tengah suasana yang mungkin bagi sebagian orang terasa melankolis.
Kehadiran anak-anak dan karyawan Epy Kusnandar dalam momen sahur ini menjadi bukti bahwa ikatan keluarga dan hubungan kerja yang terjalin selama ini begitu kuat. Mereka tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang merasakan kehilangan yang sama. Kebersamaan mereka di makam sang suami dan ayah menjadi simbol dukungan moral dan emosional, serta pengingat bahwa dalam menghadapi duka, kebersamaan adalah kekuatan yang luar biasa. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenang Epy Kusnandar bersama-sama, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Sebelum momen sahur yang viral ini, Karina Ranau juga telah menunjukkan dedikasi dan kerinduannya terhadap mendiang suami. Menjelang bulan Ramadan, ia menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Epy Kusnandar. Ziarah ini merupakan salah satu bentuk penghormatan dan cara untuk berkomunikasi dengan almarhum, menyampaikan perasaan rindu dan harapan. Tindakan ini menegaskan bahwa duka yang dirasakan Karina masih sangat mendalam, dan ia terus mencari cara untuk tetap terhubung dengan sosok yang pernah mengisi hari-harinya.
Tindakan Karina Ranau ini, meskipun menuai pujian atas kedalaman cintanya, juga tidak lepas dari kritik dan komentar miring dari sebagian publik. Beberapa pihak menganggap cara ini tidak pantas atau berlebihan. Namun, bagi Karina, ini adalah caranya sendiri untuk berduka dan merayakan momen penting dalam hidupnya. Ia telah menyatakan bahwa ia selalu mengunjungi makam mendiang suaminya, bahkan di malam hari sekalipun, menunjukkan betapa kuatnya rasa rindu yang ia rasakan. Respons Karina terhadap komentar negatif tersebut menunjukkan keteguhan hatinya dan keyakinannya pada cara ia mengekspresikan cinta dan penghormatan kepada almarhum suaminya.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan, dan setiap orang memiliki cara unik untuk menghadapinya. Bagi Karina Ranau, sahur di makam suaminya adalah ekspresi cinta yang mendalam, sebuah cara untuk tetap merasa dekat dengan Epy Kusnandar di momen-momen penting, bahkan setelah ia tiada. Ini adalah pengingat bahwa ikatan batin dapat melampaui batas fisik dan bahwa cinta sejati dapat terus bersemi dalam kenangan dan penghormatan.
















