Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika YBR, seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 29 Januari 2026, setelah diduga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon cengkeh. Insiden tragis ini, yang mencuat ke permukaan pada awal Februari 2026, bukan hanya mengguncang keluarga dan komunitas lokal, tetapi juga memicu perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah, menyoroti isu-isu mendalam terkait kemiskinan, akses pendidikan, dan kesehatan mental anak di daerah terpencil. Keluarga YBR, melalui perwakilannya, Domikus, akhirnya buka suara, menyatakan penerimaan atas musibah tersebut sebagai kehendak Tuhan, sambil menyerukan penghentian penyebaran informasi yang tidak akurat dan permintaan untuk menghormati privasi mereka dalam menghadapi duka yang mendalam.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui unggahan Facebook Marselina Sengo, perwakilan keluarga almarhum YBR, Domikus, dengan tegar menyatakan bahwa keluarga besar menerima peristiwa duka ini dengan penuh keikhlasan. “Kami keluarga menerima musibah yang menimpa anak cucu kami YBR karena sudah menjadi kehendak Tuhan,” ungkap Domikus, menegaskan pandangan spiritual yang mendalam dalam menghadapi kehilangan yang begitu besar. Pernyataan ini, yang juga dikonfirmasi oleh laporan media seperti Tempo.co, menunjukkan ketabahan keluarga dalam menerima takdir, sekaligus mencerminkan nilai-nilai budaya lokal yang menghormati kehendak ilahi dalam setiap peristiwa kehidupan. Keluarga berharap masyarakat dapat memahami dan menghormati situasi yang tengah mereka alami, memberikan ruang bagi mereka untuk berduka dalam ketenangan.
Lebih lanjut, Domikus menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak, baik individu maupun institusi, yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada keluarga yang berduka, khususnya kepada Mama Reti dan Oma Lelu sebagai keluarga inti YBR. Bantuan yang tak terhingga ini, baik dalam bentuk dukungan moral maupun materi, menjadi penopang di tengah cobaan berat. “Kami tidak bisa membalas bantuan ini, tetapi kami mendoakan yang terbaik bagi semua pihak,” ujar Domikus, menyoroti keterbatasan keluarga dalam membalas kebaikan, namun membalasnya dengan doa dan harapan terbaik. Selain itu, Domikus juga menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada masyarakat yang telah datang melayat apabila dalam penyambutan atau tutur kata mereka terdapat hal-hal yang kurang berkenan. “Jika ada tutur kata yang kurang baik, mohon dimaafkan,” katanya, menunjukkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjaga hubungan baik dengan komunitas di tengah suasana duka.
Menguak Latar Belakang Tragis: Jeritan Ekonomi dan Sistem Pendidikan
Kematian YBR, seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebu, Ngada, NTT, diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang ekstrem. Informasi yang beredar luas, termasuk yang diungkapkan oleh berbagai sumber, menyebutkan bahwa YBR nekat mengakhiri hidupnya lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Ironisnya, sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh pihak sekolah sebesar Rp 1,2 juta, sebuah jumlah yang sangat besar bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas di daerah tersebut. Bupati Ngada, Andreas Paru, turut buka suara mengenai isu ini, mengindikasikan adanya masalah yang lebih dalam dalam sistem pendidikan dan dukungan finansial bagi siswa rentan.
Fakta yang semakin memperdalam keprihatinan adalah bahwa YBR ternyata merupakan penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), sebuah inisiatif pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu. Keberadaan YBR sebagai penerima PIP namun masih menghadapi kesulitan mendasar seperti membeli buku dan pulpen, serta tekanan biaya sekolah, menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas penyaluran dan pemanfaatan bantuan tersebut, serta kesenjangan yang masih ada dalam sistem pendidikan. Menteri Sosial, Gus Ipul, menyatakan keprihatinannya atas kasus ini, secara eksplisit menghubungkan bunuh diri siswa SD di NTT dengan isu kemiskinan. Pemerintah, menurut Gus Ipul, akan fokus pada pendampingan dan pemutakhiran data masyarakat rentan untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Tanggapan Pemerintah dan Seruan untuk Kehati-hatian Informasi
Tragedi yang menimpa YBR segera menarik perhatian tingkat nasional. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak ingin mencari alasan atau saling menyalahkan atas peristiwa duka ini, melainkan berfokus pada langkah-langkah konkret untuk mengatasi akar masalah. Pernyataan dari “Tiga Menteri” (Menteri Sosial, Menteri Pendidikan, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) juga menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk menanggapi kasus ini secara serius, menunjukkan bahwa isu ini bukan hanya masalah lokal tetapi juga menjadi perhatian nasional. Fokus pemerintah adalah pada pendampingan psikososial bagi keluarga dan komunitas, serta evaluasi menyeluruh terhadap program-program bantuan sosial dan pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, Domikus menegaskan bahwa keluarga tidak akan membuat laporan resmi terkait peristiwa yang terjadi, memilih untuk menerima dan melanjutkan proses duka secara internal. Namun, mereka dengan tegas meminta masyarakat, khususnya pengguna media sosial, untuk menghentikan pembuatan dan penyebaran informasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. “Agar menghentikan pembuatan dan penyebaran berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” tegas Domikus, menyoroti bahaya disinformasi yang dapat memperkeruh suasana dan menambah beban psikologis keluarga. Bantuan yang diterima oleh keluarga akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk keperluan pemakaman dan pelaksanaan upacara adat sesuai tradisi setempat. Di akhir pernyataan, keluarga juga menegaskan tidak akan bertanggung jawab atas pemberitaan di luar pernyataan resmi yang telah mereka sampaikan, terutama apabila di kemudian hari muncul persoalan hukum akibat informasi yang tidak akurat.
Pentingnya Dukungan Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri
Kasus tragis YBR menjadi pengingat yang menyakitkan akan pentingnya kesadaran terhadap kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri, terutama di kalangan anak-anak dan remaja yang rentan terhadap tekanan hidup. Depresi, yang seringkali diremehkan atau tidak dikenali, dapat memiliki konsekuensi fatal jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, akses terhadap bantuan krisis kejiwaan dan layanan pencegahan bunuh diri menjadi sangat krusial.
Merespons kebutuhan ini, berbagai lembaga telah menyediakan layanan dukungan. Dinas Kesehatan Jakarta, misalnya, menawarkan layanan psikolog gratis bagi warga yang ingin berkonsultasi tentang kesehatan jiwa. Layanan ini tersedia di 23 lokasi puskesmas di Jakarta dan dapat diakses oleh peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Selain itu, konsultasi juga dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi https://sahabatjiwa-dinkes.jakarta.go.id, dengan opsi penjadwalan konsultasi lanjutan dengan psikolog di puskesmas apabila diperlukan. Selain mengontak Dinas Kesehatan DKI Jakarta, masyarakat juga dapat menghubungi lembaga-lembaga berikut untuk mendapatkan bantuan dan dukungan profesional:
- Yayasan Pulih: (021) 78842580
- Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan: (021) 500454
- LSM Jangan Bunuh Diri: (021) 9696 9293
Dukungan ini tidak hanya penting bagi individu yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental, tetapi juga bagi keluarga dan komunitas untuk memahami tanda-tanda depresi dan cara memberikan pertolongan pertama. Tragedi YBR harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat sistem dukungan, memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang merasa sendirian dalam menghadapi beban hidup yang berat.

















