Badan SAR Nasional (Basarnas) secara intensif menelusuri informasi yang beredar mengenai adanya pergerakan langkah kaki yang terekam pada perangkat smartwatch milik salah satu korban dalam insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500. Aktivitas pergerakan yang terdeteksi ini diduga kuat berasal dari smartwatch milik kopilot bernama Farhan Gunawan, yang menjadi salah satu awak pesawat nahas tersebut. Informasi krusial ini pertama kali diungkapkan oleh salah seorang individu yang memiliki kedekatan emosional dengan korban. Perangkat smartwatch milik almarhum Farhan Gunawan dilaporkan terhubung dengan perangkat milik orang terdekatnya, dan melalui koneksi tersebut, tercatat adanya penambahan jumlah langkah kaki korban selama periode tiga hari pasca kejadian tragis tersebut. Hal ini sempat menimbulkan harapan, namun kemudian terjawab melalui investigasi mendalam yang dilakukan oleh tim SAR.
Investigasi Mendalam Terhadap Rekaman Smartwatch
Menanggapi temuan awal yang mengindikasikan adanya aktivitas pasca-kecelakaan, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, segera mengambil langkah proaktif dengan melakukan pemeriksaan mendalam terhadap informasi tersebut. Pemeriksaan ini tidak dilakukan secara independen, melainkan dengan dukungan penuh dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, yang turut serta dalam upaya verifikasi data. Setelah dilakukan pembukaan dan analisis terhadap data yang tersimpan dalam perangkat tersebut, hasil pemeriksaan mengungkap fakta yang berbeda dari dugaan awal. Kepala Basarnas menjelaskan, “Setelah dibuka ternyata rekaman (langkah kaki) itu di beberapa bulan lalu, sewaktu korban masih di Yogyakarta.” Pernyataan ini menegaskan bahwa data aktivitas fisik yang terekam pada smartwatch tersebut bukanlah indikasi pergerakan pasca-kecelakaan, melainkan jejak aktivitas almarhum Farhan Gunawan yang terjadi jauh sebelum insiden pesawat terjadi, yaitu saat beliau masih berada di Yogyakarta.
Dengan adanya klarifikasi ini, persoalan mengenai rekaman langkah kaki korban pesawat ATR 42-500 tersebut dinyatakan telah selesai ditangani oleh Basarnas. Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii juga mengkonfirmasi bahwa pihak keluarga korban telah menerima dan memahami penjelasan yang diberikan. Pemahaman ini penting untuk meredakan spekulasi dan memberikan kepastian informasi kepada keluarga yang tengah berduka. Meskipun demikian, fokus utama Basarnas dan tim penyelamat tetap tertuju pada upaya pencarian delapan korban lain yang hingga kini keberadaannya masih belum diketahui. Basarnas telah mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki, termasuk berbagai jenis pesawat dan helikopter, untuk memaksimalkan area pencarian dan meningkatkan peluang penemuan para korban yang belum teridentifikasi.
Upaya Pencarian dan Harapan di Tengah Tragedi
Meskipun dihadapkan pada situasi yang sangat sulit dan penuh tantangan, Basarnas tidak pernah berhenti berupaya. Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan harapan besar agar keajaiban masih dapat terjadi bagi para korban kecelakaan pesawat yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport tersebut. Ia mengakui bahwa secara realistis, kemungkinan menemukan korban dalam keadaan selamat sangatlah kecil, mengingat skala dan dampak dari kecelakaan yang terjadi. Namun, semangat pantang menyerah dan keyakinan akan adanya mukjizat tetap dijaga. “Namun saya sampaikan kami masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kami selamatkan dalam kondisi hidup,” tegasnya, menunjukkan komitmen penuh tim SAR dalam menjalankan tugas mulia ini. Harapan ini menjadi sumber kekuatan moral bagi seluruh tim yang terlibat dalam operasi pencarian yang kompleks ini.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak pada tanggal 17 Januari 2026 di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat ini membawa total tujuh orang kru yang terdiri dari tujuh individu profesional di bidang penerbangan. Kapten sekaligus pilot utama adalah Andy Dahananto, didampingi oleh kopilot Farhan Gunawan. Posisi flight operation officer diisi oleh Hariadi. Untuk memastikan kelancaran operasional pesawat, dua teknisi pesawat, yaitu Restu Adi P dan Dwi Murdiono, turut serta. Melengkapi kru kabin, Florencia Lolita dan Esther Aprilita bertugas sebagai awak kabin. Keberadaan mereka semua menjadi fokus utama dalam upaya pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan.
Selain kru pesawat, ATR 42-500 juga membawa tiga orang penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ketiga penumpang ini sedang dalam menjalankan tugas negara. Ferry Irawan bertugas sebagai Analis Kapal Pengawas, Deden Mulyana menjabat sebagai Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Noval bertugas sebagai Operator Foto Udara. Kehadiran mereka semakin menambah daftar individu yang menjadi perhatian dalam misi pencarian dan evakuasi ini. Basarnas dan tim gabungan terus bekerja keras untuk menemukan seluruh penumpang dan kru yang masih hilang.
Hingga memasuki hari ketiga operasi pencarian, tim penyelamat berhasil menemukan dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR di kawasan puncak Gunung Bulusaraung. Penemuan kedua korban ini terjadi di waktu dan lokasi yang berbeda, menandakan luasnya area pencarian yang harus dilakukan. Sayangnya, kedua jenazah yang ditemukan tersebut belum dapat dievakuasi. Kendala utama yang dihadapi adalah medan yang sangat terjal dan kondisi cuaca yang tidak mendukung, sehingga memerlukan perencanaan dan strategi khusus untuk proses evakuasi. Tim SAR terus berupaya mencari cara terbaik untuk membawa jenazah para korban ke tempat yang aman.
Selain penemuan jenazah, tim gabungan juga berhasil menemukan serpihan-serpihan pesawat milik Indonesia Air Transport. Lokasi penemuan serpihan ini berada di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung, dengan posisi badan pesawat yang lebih mengarah ke utara dari puncak gunung tersebut. Penemuan serpihan ini memberikan gambaran mengenai titik-titik penting dalam rekonstruksi kronologi kecelakaan. Namun demikian, hingga saat ini, tim penyelamat belum berhasil menemukan black box dari pesawat ATR tersebut. Pencarian black box menjadi prioritas utama karena komponen ini sangat krusial untuk mengungkap penyebab pasti dari kecelakaan pesawat.


















