Dalam setiap insiden penerbangan yang melibatkan kehilangan pesawat, seperti kasus jatuhnya pesawat ATR di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, satu komponen krusial selalu menjadi sorotan utama: kotak hitam. Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim, secara lugas menjelaskan peran vital perangkat ini sebagai “saksi bisu” yang tak tergantikan dalam mengungkap misteri di balik tragedi udara. Keberadaannya menjadi kunci utama bagi para penyidik untuk merekonstruksi detik-detik terakhir penerbangan, menganalisis penyebab kecelakaan, dan pada akhirnya, merumuskan rekomendasi guna mencegah insiden serupa di masa mendatang. Tanpa data yang terekam di dalamnya, proses investigasi akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks, bahkan mustahil untuk mencapai kesimpulan yang akurat dan berbasis fakta.
Membongkar Esensi Kotak Hitam: FDR dan CVR
Istilah “black box” atau kotak hitam adalah sebutan populer yang sebenarnya merujuk pada dua perangkat perekam utama yang terpisah namun saling melengkapi dalam sebuah pesawat. Meskipun secara harfiah disebut “hitam,” perangkat ini umumnya dicat dengan warna oranye terang untuk memudahkan pencarian di lokasi kecelakaan. Dua perangkat esensial tersebut adalah Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Keduanya dirancang untuk merekam informasi krusial selama penerbangan, memberikan gambaran komprehensif tentang apa yang terjadi di dalam kokpit dan bagaimana sistem pesawat beroperasi sebelum insiden terjadi. Pemahaman mendalam tentang fungsi masing-masing perangkat ini sangat penting untuk mengapresiasi kontribusi mereka dalam investigasi kecelakaan penerbangan.
Cockpit Voice Recorder (CVR), sesuai namanya, adalah perangkat yang didedikasikan untuk merekam semua aktivitas suara di dalam kokpit. Ini mencakup spektrum audio yang sangat luas, mulai dari percakapan antar awak pesawat—pilot, kopilot, teknisi penerbangan—hingga komunikasi radio mereka dengan pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC). Lebih dari itu, CVR juga menangkap bunyi peringatan atau alarm yang dikeluarkan oleh sistem pesawat, seperti peringatan stall, peringatan ketinggian rendah, atau alarm kebakaran. Bahkan, suara lingkungan kokpit, seperti suara tombol yang ditekan, pergerakan tuas, atau suara benturan kecil, turut terekam. Seluruh rekaman ini berpotensi memberikan petunjuk berharga tentang apa yang sedang terjadi di dalam pesawat, bagaimana awak bereaksi terhadap situasi darurat, dan apakah ada faktor manusia atau komunikasi yang berkontribusi pada kecelakaan.
Sementara itu, Flight Data Recorder (FDR) adalah alat perekam data penerbangan yang berfokus pada parameter teknis. Perangkat ini mencatat serangkaian data yang sangat rinci mengenai kinerja dan kondisi pesawat. Parameter yang direkam meliputi, namun tidak terbatas pada, ketinggian pesawat (altitude), kecepatan udara (airspeed), arah atau haluan (heading), sikap pesawat (pitch dan roll), pergerakan kendali penerbangan (seperti aileron, elevator, dan rudder), konfigurasi flap dan roda pendarat (landing gear), status autopilot, hingga sejumlah data mesin dan sistem pesawat lainnya seperti tekanan oli, suhu mesin, dan aliran bahan bakar. Pada pesawat modern, jumlah parameter yang terekam dapat mencapai ratusan bahkan lebih, memungkinkan penyidik untuk membaca profil penerbangan nyaris detik demi detik. Data ini memberikan gambaran objektif tentang bagaimana pesawat beroperasi secara teknis, memberikan dasar faktual yang kuat untuk analisis.
Chappy Hakim menegaskan bahwa dari dua sumber informasi yang kaya ini—CVR dan FDR—para penyidik dapat membangun kronologi kejadian yang sangat presisi. Ketika ada dugaan tertentu, misalnya mesin kehilangan daya secara tiba-tiba, sistem kendali terbang mengalami malfungsi, atau awak pesawat kehilangan kesadaran situasional, data yang terekam dalam FDR dan CVR akan saling menguatkan dan melengkapi untuk menjawab dugaan tersebut. FDR, dengan data berbasis angka dan grafik, akan memberikan informasi kapan autopilot terlepas, kapan pesawat memasuki kondisi tidak normal, atau kapan parameter mesin menunjukkan anomali. Di sisi lain, CVR akan memberi konteks manusiawi di baliknya; apakah awak menyadari peringatan tersebut, bagaimana koordinasi di kokpit berlangsung, daftar periksa (checklist) apa yang sempat dibacakan, dan apakah terjadi salah komunikasi atau beban kerja (workload) yang melonjak drastis. Sinergi antara data teknis dan konteks suara ini sangat krusial. “Maka black box membantu menguji dugaan tersebut secara sistematis, sekaligus membedakan mana penyebab pemicu awal dan mana faktor kontribusi yang menyusul kemudian,” jelas Chappy, menyoroti kemampuan black box dalam mengurai kompleksitas insiden penerbangan.
Ketahanan Luar Biasa dan Batasan Krusial Saksi Bisu Penerbangan
Salah satu fitur paling menonjol dari black box adalah kemasannya yang dirancang khusus untuk tahan banting dan tahan panas ekstrem, memastikan integritas data tetap terjaga meskipun terjadi kecelakaan hebat. Unit memori crash-protected black box umumnya menjalani serangkaian pengujian ketat. Sebagai contoh, ia diuji ketahanan terhadap kebakaran dengan intensitas tinggi, mampu bertahan pada suhu sekitar 1.100°C selama 60 menit penuh. Selain itu, perangkat ini juga diuji ketahanan terhadap benturan atau impact shock yang sangat kuat, mampu menahan guncangan hingga 3.400 G selama 6,5 milidetik. Tingkat ketahanan yang luar biasa ini hampir dapat memastikan bahwa alat ini tidak akan rusak secara fatal ketika terjadi kecelakaan, bahkan dalam skenario paling ekstrem sekalipun, sehingga data yang tersimpan di dalamnya dapat dipulihkan untuk kepentingan investigasi.
Kendati demikian, Chappy Hakim juga mengingatkan bahwa kemungkinan kerusakan tetap ada, terutama bila kecelakaan terjadi di lingkungan yang sangat menantang seperti laut dalam, di mana tekanan air yang ekstrem dapat merusak perangkat, atau di medan yang sangat sulit dijangkau dan penuh puing-puing. Di sisi lain, black box juga memiliki batasan fungsional. Perangkat ini tidak bisa merekam semua aspek secara sempurna dan memiliki durasi rekaman yang terbatas. Sistem rekaman black box bekerja secara melingkar (loop recording), yang berarti data lama akan tertimpa oleh data baru setelah periode waktu tertentu. Biasanya, data yang tersimpan mencakup sekitar 30 menit terakhir sebelum kejadian kecelakaan. Keterbatasan durasi ini berarti bahwa peristiwa yang terjadi jauh sebelum 30 menit terakhir mungkin tidak terekam, sehingga menyulitkan analisis jika akar masalahnya berada pada fase penerbangan yang lebih awal. “Karena itu, penyidik tetap harus mengaitkannya dengan bukti lain dan menggunakan metodologi forensik yang ketat agar interpretasinya tepat,” tutur Chappy, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam setiap investigasi kecelakaan penerbangan.


















