| Parameter Operasi | Detail Informasi |
|---|---|
| Lokasi Spesifik | Sisi Selatan Gunung, Bagian Ekor Pesawat |
| Kondisi Medan | Tebing Curam dengan Kemiringan Ekstrem |
| Kebutuhan Logistik | Tali Statis/Dinamis minimal 100 Meter |
| Tim Teknis | Basarnas Special Group & Investigator KNKT |
| Kendala Utama | Cuaca Buruk dan Risiko Longsor Susulan |
Meskipun lokasi kotak hitam sudah terdeteksi, proses pengambilannya menghadapi kendala logistik dan keamanan yang sangat berat. Andi Sultan menekankan bahwa posisi ekor pesawat berada di tebing yang sangat curam, sehingga membutuhkan keahlian teknik “High Angle Rescue Technique” (HART) untuk menjangkaunya. Tim penyelamat memerlukan tali pengaman sepanjang minimal 100 meter untuk melakukan repling atau menuruni tebing dari titik pendaratan helikopter terdekat. Kondisi tanah yang labil akibat guyuran hujan serta risiko runtuhan material pesawat menambah tingkat bahaya bagi personel di lapangan. Pengambilan kotak hitam ini menjadi prioritas utama karena di dalamnya tersimpan rekaman percakapan pilot serta ribuan parameter teknis pesawat seperti kecepatan udara, ketinggian, kinerja mesin, dan posisi kemudi sebelum kecelakaan terjadi. Tanpa data dari kotak hitam ini, penyebab pasti mengapa pesawat bisa “kebablasan” dan menabrak gunung akan tetap menjadi spekulasi yang tidak berujung.
Hingga saat ini, koordinasi antara Basarnas, KNKT, dan otoritas bandara terus diperketat untuk memastikan bahwa setiap fragmen pesawat yang ditemukan tidak berubah posisinya sebelum didokumentasikan. Investigasi komprehensif ini tidak hanya bertujuan untuk mencari tahu penyebab kecelakaan, tetapi juga sebagai bahan evaluasi bagi maskapai pengguna ATR 42-500 lainnya dalam mengoperasikan pesawat di wilayah dengan cuaca ekstrem dan topografi pegunungan. Masyarakat diminta untuk bersabar menunggu hasil analisis resmi dari KNKT yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, mengingat kompleksitas data yang harus disinkronkan. Keberhasilan pengambilan kotak hitam dari tebing curam tersebut akan menjadi titik terang dalam mengungkap tabir gelap yang menyelimuti tragedi ATR 42-500 ini, sekaligus memberikan kepastian hukum dan penutup (closure) bagi keluarga korban yang ditinggalkan.
- Koordinasi Intensif: Basarnas Makassar terus menjalin komunikasi dua arah dengan KNKT pusat untuk memastikan prosedur evakuasi sesuai standar internasional.
- Fokus Keamanan: Keselamatan tim evakuasi menjadi pertimbangan utama mengingat medan yang dapat berubah sewaktu-waktu akibat faktor cuaca.
- Transparansi Informasi: Update berkala akan terus disampaikan kepada publik guna menghindari simpang siur informasi terkait misteri langkah kaki dan status korban.


















