- Kanthuma Puk: Kehilangan satu tas merah yang berisi perlengkapan kosmetik (make up), pakaian pribadi, serta dompet yang berisi uang tunai sebesar Rp3.251.046. Selain kerugian uang, hilangnya tas ini sangat memukul korban karena berisi barang-barang kebutuhan harian.
- Chinnapat Jadcharoen: Mengalami kerugian materiil terbesar dengan hilangnya backpack hitam-merah. Di dalamnya terdapat kamera premium Ricoh GR IV yang memiliki nilai pasar sekitar Rp26,5 juta, satu unit iPhone 13 Pro, pakaian, serta perangkat audio berupa earphone berkualitas tinggi.
- Ananya Seeda: Melaporkan kehilangan backpack hitam yang berisi perangkat kerja dan komunikasi digital, termasuk satu unit iPad Air 5 dan ponsel pintar Redmi Note 15, serta sejumlah pakaian.
- Naowarat dan Sawatphiphatphon: Masing-masing kehilangan satu tas berwarna kuning dan hitam yang berisi seluruh persediaan pakaian mereka selama melakukan perjalanan wisata di Indonesia.
- Chanidapa Pavichievac: Melaporkan raibnya satu unit backpack hitam yang berisi barang-barang pribadi dan dokumen pendukung perjalanan.
Selain nilai nominal yang besar, aspek yang paling krusial dari pencurian ini adalah hilangnya dokumen-dokumen penting, termasuk paspor milik beberapa anggota rombongan. Kehilangan paspor ini menjadi kendala birokrasi yang sangat serius, mengingat para wisatawan tersebut memiliki jadwal kepulangan yang ketat ke Thailand. Tanpa dokumen perjalanan yang sah, mereka terpaksa harus berurusan dengan pihak imigrasi dan kedutaan besar, yang tentu saja menambah beban psikologis dan finansial selama mereka tertahan di Indonesia.
Langkah Strategis Kepolisian dan Pembentukan Tim Khusus Investigasi
Menanggapi keresahan para wisatawan mancanegara tersebut, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP I Made Kembar Mertadana, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah luar biasa. Mengingat sensitivitas kasus ini terhadap sektor pariwisata, Polres Probolinggo secara resmi telah membentuk tim khusus yang didedikasikan sepenuhnya untuk mengungkap identitas pelaku dan melacak keberadaan barang-barang yang dicuri. Penyelidikan dilakukan secara komprehensif dengan menggabungkan metode konvensional dan teknologi digital.
“Laporan sudah kami terima secara resmi dan saat ini sedang ditangani secara sangat intensif oleh tim penyidik. Kami telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara mendalam untuk mencari bukti fisik maupun jejak yang ditinggalkan pelaku. Selain itu, kami juga sedang menyisir seluruh rekaman CCTV yang ada di sepanjang jalur menuju Kecamatan Sukapura dan area sekitar pendapa guna mengidentifikasi pergerakan kendaraan atau orang yang mencurigakan pada jam kejadian,” ujar AKP I Made Kembar Mertadana dalam keterangannya kepada media pada Senin (16/2).
Pihak kepolisian juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi mata, termasuk pengemudi kendaraan rombongan, warga sekitar, dan petugas keamanan di area parkir tersebut. Polisi menduga pelaku telah mengincar rombongan ini sejak awal atau memang merupakan spesialis pencurian barang di dalam kendaraan yang kerap memanfaatkan kelengahan wisatawan saat sedang beristirahat atau berfoto di spot-spot wisata. Fokus utama polisi saat ini adalah mempersempit ruang gerak pelaku sebelum barang-barang elektronik tersebut sempat dijual ke pasar gelap.
Dampak Psikologis Korban dan Ancaman Terhadap Citra Pariwisata Bromo
Kekecewaan mendalam diungkapkan oleh salah satu korban, Kanthuma Puk. Baginya, insiden ini merusak seluruh impresi positif yang ia miliki tentang Indonesia. Ia menyoroti betapa sulitnya situasi yang harus ia hadapi sekarang, terutama terkait pengurusan dokumen kepulangan. “Saya sangat kecewa dengan apa yang telah saya alami di sini. Akibat kehilangan koper dan tas itu, saya menjadi sangat kesulitan mengurus paspor untuk perjalanan kembali ke negara saya. Harapan saya hanya satu, apakah pihak kepolisian benar-benar bisa menemukan kembali barang-barang kami yang hilang? Kami merasa sangat tidak aman setelah kejadian ini,” tuturnya dengan nada emosional.
Kekecewaan Kanthuma Puk merupakan sinyal bahaya bagi industri pariwisata Jawa Timur. Gunung Bromo, sebagai salah satu dari “10 Bali Baru” atau destinasi prioritas nasional, sangat bergantung pada reputasi keamanan dan kenyamanan bagi turis internasional. Jika kasus seperti ini tidak segera diselesaikan dengan penangkapan pelaku, dikhawatirkan akan muncul stigma negatif di komunitas traveler mancanegara yang dapat menurunkan angka kunjungan wisata ke depannya. Oleh karena itu, keberhasilan polisi dalam mengungkap kasus ini bukan hanya soal mengembalikan barang, melainkan soal memulihkan martabat pariwisata Indonesia di mata dunia.
Sebagai langkah preventif ke depan, Polres Probolinggo mengimbau kepada seluruh pengelola jasa wisata dan masyarakat di kawasan Bromo untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat yang melihat atau mengetahui adanya aktivitas mencurigakan terkait penjualan barang-barang elektronik tanpa kelengkapan dokumen diimbau untuk segera melapor ke kantor polisi terdekat. Polisi berjanji akan terus memberikan pembaruan informasi (update) mengenai perkembangan kasus ini hingga tuntas, sembari memastikan bahwa para korban mendapatkan bantuan yang diperlukan selama proses pengurusan dokumen pengganti paspor berlangsung.

















