Tragedi kemanusiaan yang memilukan kembali mengoyak ketenangan di wilayah pedalaman Papua Selatan setelah dua pilot maskapai PT Smart Cakrawala Aviation gugur dalam serangan brutal yang dilancarkan oleh kelompok sipil bersenjata pada Selasa (11/02/2026). Peristiwa penembakan fatal ini terjadi di landasan pacu Bandara Korowai Batu, Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, sebuah wilayah terisolasi yang selama ini hanya bisa dijangkau melalui jalur udara. Insiden yang menewaskan Kapten Egon Erawan dan Kopilot Baskoro Adi Anggoro tersebut dipicu oleh eskalasi konflik antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dengan otoritas keamanan Indonesia, yang diperparah oleh isu sensitif mengenai aktivitas pendulangan emas ilegal yang telah berlangsung menahun di kawasan hutan hujan tropis tersebut. Penyerangan ini tidak hanya merenggut nyawa warga sipil yang sedang menjalankan tugas pelayanan transportasi, tetapi juga memicu kepanikan massal di kalangan penduduk lokal serta tenaga medis dan pendidik yang mengabdikan diri di wilayah tertinggal tersebut.
Kronologi kejadian bermula ketika pesawat jenis Cessna Grand Caravan dengan nomor registrasi PK-SNR lepas landas dari Bandara Tanah Merah, pusat administrasi Kabupaten Boven Digoel, pada pukul 10.38 Waktu Indonesia Timur (WIT). Pesawat perintis tersebut membawa 13 orang penumpang, termasuk seorang bayi, yang menggantungkan mobilitas mereka sepenuhnya pada penerbangan ini mengingat ketiadaan akses jalan darat. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 27 menit, pesawat mendarat dengan normal di Bandara Korowai Batu sekitar pukul 11.05 WIT. Di pinggir landasan, sekitar 15 warga lokal Danowage telah berkumpul untuk menyambut kedatangan pesawat, sebuah rutinitas umum di pedalaman Papua di mana pesawat adalah satu-satunya penyambung hidup dengan dunia luar. Namun, suasana hangat tersebut seketika berubah menjadi horor ketika sekelompok orang bersenjata lengkap muncul secara tiba-tiba dari balik rimbunnya pepohonan di sisi bandara. Dalam kepanikan yang luar biasa, para penumpang dan warga berusaha menyelamatkan diri menuju bangunan bandara, sementara kedua pilot mencoba berlari mencari perlindungan ke arah hutan. Sayangnya, upaya penyelamatan diri Egon dan Baskoro terhenti setelah mereka ditangkap oleh kelompok bersenjata, dibawa paksa menuju area hanggar, dan dieksekusi di tempat di hadapan mata warga yang ketakutan.
Pihak TPNPB, melalui pernyataan resmi dari pimpinan wilayah Elkius Kobak dan Kopitua Heluka, segera mengklaim tanggung jawab penuh atas pembunuhan tersebut. Kelompok pro-kemerdekaan ini menuduh maskapai Smart Air kerap digunakan oleh aparat keamanan Indonesia untuk memobilisasi pasukan dan logistik militer ke berbagai titik konflik di Tanah Papua. Mereka berargumen bahwa peringatan keras telah berulang kali dikeluarkan agar maskapai penerbangan sipil tidak bekerja sama dengan TNI maupun Polri. Rekam jejak menunjukkan bahwa Smart Air memang beberapa kali terlibat dalam operasi kemanusiaan dan evakuasi yang dikawal ketat oleh aparat, seperti evakuasi warga di Distrik Kiwirok pada 2021 dan Oksibil pada 2023. Namun, tuduhan ini menjadi dilema besar bagi dunia penerbangan sipil, di mana pilot seringkali berada dalam posisi terjepit antara tuntutan pelayanan publik, kontrak operasional, dan ancaman keamanan di zona merah. Manajer Eksekutif Smart Air, Lerry Janurengers, saat ini masih memilih untuk menahan diri dari memberikan pernyataan mendalam, menyatakan bahwa fokus utama perusahaan adalah proses pemulangan jenazah dan pendampingan bagi keluarga korban yang ditinggalkan.
Di balik motif politik dan militer yang diklaim TPNPB, terdapat lapisan masalah lain yang tak kalah krusial: keberadaan tambang emas ilegal di perbatasan lima kabupaten, yakni Boven Digoel, Asmat, Mappi, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang. Warga lokal dan tokoh agama di Danowage mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap pemerintah yang dianggap abai terhadap aktivitas pendulangan ilegal yang merusak ekosistem dan memicu konflik sosial. Jimmy, seorang penginjil asli Papua yang menjadi saksi bisu ketegangan di lapangan, menyebutkan bahwa pesawat-pesawat sipil seringkali ditekan untuk mengangkut para pendulang emas masuk ke wilayah Korowai Batu. Kehadiran para pendatang yang mencari peruntungan di hutan tersebut memicu kemarahan kelompok bersenjata yang merasa kedaulatan wilayahnya terganggu. Meskipun Polda Papua mengklaim telah menutup akses tambang tersebut, kenyataan di lapangan menunjukkan aktivitas itu masih berdenyut kencang, mencemari Sungai Deiram hingga berwarna coklat pekat dan menghilangkan sumber protein warga lokal seperti ikan dan udang. Konflik sumber daya alam ini secara tidak langsung menempatkan pilot dan kru pesawat dalam risiko tinggi sebagai pihak yang dianggap memfasilitasi masuknya para pendulang ilegal.
Pasca-insiden penembakan, situasi di Kampung Danowage dilaporkan sangat mencekam, memaksa dilakukannya evakuasi darurat bagi tenaga pendatang yang bekerja di sektor pelayanan dasar. Jimmy memimpin upaya evakuasi swadaya bagi para guru dari Sekolah Lentera Harapan dan tenaga medis dari Klinik Siloam. Dengan menggunakan perahu kayu tradisional atau ketinting, mereka harus menempuh perjalanan sungai yang berbahaya sejauh 30 kilometer menuju Bandara Yaniruma agar bisa dijemput oleh pesawat yayasan misionaris dan diterbangkan ke Sentani, Jayapura. Ketiadaan kehadiran negara secara fisik di Danowage—baik dalam bentuk kantor polisi maupun kantor pemerintahan—membuat gereja menjadi satu-satunya institusi yang menjaga stabilitas dan keselamatan warga. Kondisi ini mempertegas fakta pahit bahwa di wilayah-wilayah terpencil Papua, jaminan keamanan sangatlah rapuh, dan para pelayan publik bekerja di bawah bayang-bayang maut tanpa perlindungan memadai dari otoritas pusat.
Tuntutan Keamanan dan Reaksi Dunia Penerbangan
Ikatan Pilot Indonesia (IPI) bereaksi keras terhadap tragedi ini dengan menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip keamanan penerbangan internasional. Ketua Umum IPI, Muammar Reza Nugraha, menegaskan bahwa pilot adalah warga sipil yang dilindungi oleh Konvensi Chicago dan tidak seharusnya dijadikan target dalam konflik bersenjata apa pun alasannya. Serangan terhadap transportasi udara di Papua bukan hanya serangan terhadap individu pilot, melainkan serangan terhadap urat nadi kehidupan masyarakat asli Papua sendiri yang sangat bergantung pada pasokan logistik dan layanan kesehatan via udara. Anggota Dewan Kehormatan IPI, Rama Noya, mendesak pemerintah untuk melakukan klasifikasi ulang terhadap bandara-bandara dengan risiko keamanan tinggi dan menutupnya sementara hingga ada jaminan keamanan yang konkret dari pihak militer dan kepolisian. Tanpa adanya jaminan keselamatan, dikhawatirkan akan terjadi eksodus maskapai penerbangan dari wilayah pedalaman, yang pada akhirnya akan mengisolasi ribuan warga Papua dari akses kebutuhan pokok.
Menanggapi situasi yang kian memanas, Satgas Operasi Damai Cartenz telah mengerahkan 20 personel gabungan untuk mengamankan Bandara Korowai Batu dan melakukan sterilisasi area. Brigjen Faizal Ramadhani, Kepala Operasi Satgas Cartenz, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan proses evakuasi jenazah kedua korban ke Timika berjalan lancar tanpa ada gangguan tembakan susulan dari kelompok Elkius Kobak. Selain itu, terdapat 12 personel Angkatan Udara yang disiagakan untuk menjaga aset bandara dan memberikan rasa aman bagi warga lokal yang mengungsi. Pemerintah juga berjanji akan melakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan, meskipun medan yang berat dan penguasaan wilayah oleh kelompok gerilya menjadi tantangan besar. Operasi penegakan hukum ini diharapkan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu menyentuh akar permasalahan, termasuk penertiban tambang emas ilegal yang menjadi katalisator kekerasan di wilayah tersebut.
Dampak Jangka Panjang Terhadap Ekosistem dan Sosial
Di luar isu keamanan, dampak lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas ilegal di sekitar Danowage telah mencapai titik yang mengkhawatirkan bagi keberlangsungan hidup Suku Korowai. Pegiat pendidikan di wilayah tersebut melaporkan bahwa anak-anak asli Papua kini kehilangan ruang bermain dan tempat mencari makan tradisional mereka karena sungai yang tercemar merkuri dari aktivitas pendulangan. “Dulu mereka bisa molo (berenang) dan mencari ikan dengan bebas, sekarang mereka hanya bisa makan pisang atau singkong karena ekosistem air sudah rusak,” ungkapnya dengan nada prihatin. Kerusakan lingkungan ini menciptakan ketimpangan sosial yang tajam antara para pendatang yang mencari emas dengan penduduk asli yang hanya mendapatkan dampak buruknya. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan eksploitasi ilegal ini, maka konflik bersenjata di Papua Selatan diprediksi akan terus berulang dengan pilot dan pekerja kemanusiaan sebagai korban yang paling rentan di garis depan.
Kematian Egon Erawan dan Baskoro Adi Anggoro menambah daftar panjang korban sipil dalam pusaran konflik Papua yang tak kunjung usai. Tragedi di Boven Digoel ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah pusat bahwa pendekatan keamanan saja tidak cukup tanpa adanya penegakan hukum terhadap bisnis ilegal dan pembangunan infrastruktur sosial yang menyentuh masyarakat akar rumput. Bandara Korowai Batu, yang seharusnya menjadi gerbang kemajuan, kini justru menjadi monumen kelam bagi kegagalan perlindungan terhadap warga sipil. Masyarakat internasional dan organisasi penerbangan dunia kini menanti langkah nyata dari otoritas Indonesia untuk menjamin bahwa langit Papua kembali aman bagi para pilot yang menerbangkan harapan bagi warga di pelosok negeri.

















