Misteri Kematian Selebgram Lula Lahfah: Penyelidikan Mendalam dan Penantian Hasil Medis
Kepolisian masih berupaya keras untuk mengungkap tabir misteri di balik kepergian Lula Lahfah, seorang figur publik yang dikenal luas di jagat maya sebagai selebgram. Hingga saat ini, pihak berwenang belum dapat menyimpulkan secara pasti penyebab kematian Lula. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Iskandarsyah, secara gamblang menyatakan bahwa penyelidikan masih terus berjalan dan sangat bergantung pada hasil pemeriksaan medis yang komprehensif oleh tim dokter di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Pernyataan ini disampaikan oleh Iskandarsyah di Markas Polres Metro Jakarta Selatan pada hari Senin, 26 Januari 2026, menegaskan bahwa proses identifikasi penyebab kematian masih dalam tahap krusial.
Lebih lanjut, Iskandarsyah mengonfirmasi bahwa tim medis dari RSPI telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan keterangan rinci kepada pihak kepolisian begitu hasil pemeriksaan telah rampung dan dapat dianalisis. Ia memohon kesabaran dan waktu bagi penyidik untuk menunggu keluarnya seluruh data medis yang diharapkan dapat memberikan titik terang dalam kasus ini. Keterlambatan dalam memberikan kesimpulan bukan berarti kelalaian, melainkan sebuah keharusan dalam proses investigasi yang profesional dan teliti, terutama ketika menyangkut nyawa seseorang yang dikenal publik.
Analisis Awal dan Ketiadaan Tanda Kekerasan
Dalam upaya awal untuk memahami situasi, tim kepolisian telah melakukan observasi visual mendalam terhadap jenazah Lula Lahfah. Berdasarkan pengamatan langsung di tempat kejadian dan terhadap jenazah, tidak ditemukan adanya indikasi atau tanda-tanda kekerasan fisik yang mencurigakan. Temuan ini diperkuat oleh hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh dokter di Rumah Sakit Fatmawati, yang menjadi fasilitas medis rujukan pasca-meninggalnya Lula. Sama halnya dengan observasi kepolisian, pemeriksaan medis di RS Fatmawati juga tidak menunjukkan adanya bekas kekerasan pada tubuh almarhumah. Selain itu, pihak keluarga Lula Lahfah sendiri telah menyatakan keberatan untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah almarhumah, sebuah keputusan yang tentu akan memengaruhi kelengkapan data forensik yang dapat dikumpulkan.
Keputusan untuk tidak melakukan otopsi, meskipun dipahami sebagai hak keluarga, secara inheren membatasi kemampuan polisi untuk mengeksplorasi penyebab kematian yang mungkin bersifat internal atau tidak meninggalkan jejak fisik yang jelas. Namun, polisi tetap berpegang pada prosedur investigasi standar, mengumpulkan semua bukti yang tersedia, termasuk keterangan saksi, temuan di lokasi kejadian, dan data medis yang dapat diakses.
Kronologi Penemuan Jenazah dan Temuan Pendukung
Penyelidikan mendalam atas penyebab kematian Lula Lahfah dipicu oleh laporan resmi yang diterima oleh kepolisian mengenai penemuan jenazahnya. Lokasi penemuan adalah di unit apartemennya yang terletak di lantai 25 sebuah gedung apartemen prestisius di Jalan Dharmawangsa, kawasan Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penemuan jenazah ini terjadi pada pukul 18.44 WIB, ketika petugas keamanan apartemen melakukan pemeriksaan rutin dan terpaksa membuka pintu kamar Lula yang terkunci dari dalam. Tindakan ini diambil setelah adanya kekhawatiran dari pihak sekitar atau mungkin atas permintaan tertentu.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Jakarta Selatan, Komisaris Murodih, memberikan keterangan lebih lanjut mengenai temuan di lokasi kejadian. Ia mengonfirmasi kembali bahwa tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan yang terlihat jelas di tubuh korban. Namun, yang cukup menarik perhatian adalah ditemukannya sejumlah obat-obatan serta surat keterangan rawat jalan yang berasal dari RSPI. Keberadaan obat-obatan dan surat tersebut menjadi salah satu petunjuk penting yang sedang didalami oleh tim penyidik. Hal ini mengindikasikan bahwa almarhumah mungkin sedang dalam penanganan medis atau mengonsumsi obat tertentu sebelum meninggal dunia, yang bisa jadi berkaitan dengan kondisi kesehatannya.
Profil Lula Lahfah: Dari Selebgram Menuju Layar Lebar
Lula Lahfah bukan sekadar nama yang dikenal di kalangan pengguna media sosial. Ia adalah seorang selebgram yang telah berhasil membangun basis penggemar yang sangat besar, dengan jumlah pengikut yang menembus angka 2,7 juta. Popularitasnya ini tidak hanya terbatas pada unggahan foto dan video di platform digital, tetapi juga merambah ke dunia hiburan yang lebih luas. Lahir di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1999, Lula memiliki perjalanan karier yang cukup dinamis untuk usianya.
Pada akhir tahun sebelumnya, Lula Lahfah telah merambah ke dunia akting dengan mengambil peran dalam sebuah film. Film yang berjudul Harusnya Horror ini merupakan debut penyutradaraan dari musisi dan kreator konten ternama, Reza Arap. Film bergenre komedi horor tersebut dijadwalkan untuk tayang di bioskop pada tahun 2026, menandakan ambisi Lula untuk memperluas jangkauan kariernya di industri perfilman Indonesia. Kepergiannya yang mendadak tentu menyisakan duka mendalam bagi para penggemar dan rekan-rekannya di industri hiburan, serta menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Kontribusi dalam penulisan artikel ini dilakukan oleh Vedro Imanuel Girsang.
Pilihan Editor: Motif Kejaksaan Agung Memeriksa Jaksa ‘Nakal’ di Jakarta














