Geger dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian, seorang konten kreator dan pengusaha di balik sebuah brand baju lokal, kini memasuki babak baru dengan respons resmi dari pihak kepolisian. Informasi mengenai insiden yang pertama kali mencuat di platform media sosial X, khususnya melalui unggahan akun @aarummanis, telah sampai ke telinga aparat penegak hukum. Akun tersebut membeberkan pengalaman pahitnya sebagai seorang talent untuk keperluan photoshoot dan videoshoot sebuah brand yang diduga kuat milik Mohan Hazian. Menanggapi viralnya isu ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan komitmen kepolisian untuk menindaklanjuti setiap informasi yang beredar di masyarakat, terlepas dari adanya laporan resmi atau tidak, demi menjawab keresahan publik. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa, 10 Februari 2026, mengindikasikan keseriusan aparat dalam menangani kasus yang berpotensi merusak reputasi dan menimbulkan dampak sosial yang luas.
Penyelidikan Polisi Dimulai: Menanti Laporan Resmi di Tengah Gelombang Informasi
Pihak kepolisian, melalui Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, secara tegas menyatakan akan memproses segala informasi yang berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Mohan Hazian. Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap ramainya perbincangan di ranah digital mengenai kasus tersebut. Meskipun demikian, Kombes Budi Hermanto menggarisbawahi bahwa hingga saat ini, belum ada laporan kepolisian resmi yang diajukan terkait tuduhan tersebut. “Sejauh ini itu belum ada laporan,” ujar Kombes Budi, sembari menambahkan bahwa pihaknya akan tetap menindaklanjuti informasi yang ada. Tindak lanjut ini akan dilakukan dengan meneruskan informasi tersebut kepada jajaran yang relevan, baik di tingkat Polres maupun Polsek, apabila data yang diperoleh dianggap cukup kuat. Prinsip kepolisian adalah tidak hanya menunggu laporan formal, tetapi juga proaktif dalam merespons setiap peristiwa yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Hal ini sejalan dengan mandat kepolisian untuk menjaga ketertiban dan keamanan, serta memberikan rasa keadilan bagi semua pihak yang terlibat, baik sebagai pelapor maupun terlapor. Upaya ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada kasus yang terabaikan hanya karena kendala administratif dalam pelaporan awal.
Klarifikasi Mohan Hazian: Bantahan Tegas dan Permohonan Maaf di Tengah Badai Tuduhan
Di tengah memanasnya isu dugaan pelecehan seksual, Mohan Hazian tidak tinggal diam. Ia telah memberikan klarifikasi resmi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Dalam pernyataannya, Mohan mengakui bahwa dirinya memerlukan waktu untuk mencerna situasi yang kompleks sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara di hadapan publik. Ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kegaduhan yang telah ditimbulkan oleh isu ini, menyadari bahwa situasi tersebut telah menyebabkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan luka emosional bagi banyak pihak. Namun, Mohan Hazian secara tegas membantah tuduhan pemerkosaan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyatakan, “Namun, yang harus saya garis bawahi saya tidak seperti yang dituduhkan, saya bukan seorang pemerkosa dan saya tidak pernah memperkosa siapa pun.” Klarifikasi ini menjadi poin penting dalam upaya menyeimbangkan narasi yang beredar, sekaligus memberikan kesempatan bagi Mohan untuk menyampaikan versinya terkait tuduhan yang sangat serius tersebut. Sikap ini menunjukkan kesadaran akan dampak luas dari isu yang beredar dan upaya untuk mengendalikan persepsi publik.
Kesediaan Menerima Konsekuensi: Pernyataan Mohan Hazian Terkait Dampak Kasus
Lebih lanjut, dalam klarifikasinya, Mohan Hazian menunjukkan sikap yang terbuka terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia menyatakan kesiapannya untuk menerima konsekuensi atas peristiwa yang menimpanya, termasuk potensi kehilangan pekerjaan dan kepercayaan publik. Pernyataan ini mengindikasikan kedewasaan dalam menghadapi situasi krisis. “Apa pun penilaian yang berkembang saat ini, saya menerima berbagai konsekuensi yang muncul dalam hidup saya sebagai bagian dari proses pembelajaran,” tulisnya. Sikap ini, meskipun diucapkan dalam konteks pribadi, dapat menjadi pertimbangan penting bagi pihak kepolisian dalam proses penyelidikan nantinya. Kesediaan untuk bertanggung jawab atas dampak yang timbul, terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan, mencerminkan kesadaran akan tanggung jawab moral dan sosial. Hal ini juga dapat diartikan sebagai upaya untuk menunjukkan itikad baik dalam menghadapi tuduhan yang sangat serius, sekaligus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan hasil dari proses hukum yang akan dijalani.
Perkembangan Kasus: Munculnya Korban Lain dan Penguatan Narasi
Menariknya, kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Mohan Hazian tampaknya tidak berhenti pada satu pengakuan saja. Laporan dari berbagai sumber mengindikasikan bahwa setelah korban pertama, yaitu akun @aarummanis (atau Saa), berani bersuara, korban-korban lain mulai bermunculan dan tak ragu untuk berbagi pengalaman mereka di media sosial. Munculnya korban lain ini secara signifikan memperkuat narasi awal dan memberikan bobot lebih pada tuduhan yang dialamatkan kepada Mohan Hazian. Keterbukaan para korban baru ini menunjukkan bahwa isu yang beredar memiliki dasar yang lebih kuat dari sekadar satu kesaksian. Fenomena ini seringkali terjadi dalam kasus-kasus pelecehan, di mana satu keberanian untuk bersuara dapat memicu keberanian orang lain untuk melakukan hal yang sama, menciptakan efek domino yang kuat. Hal ini juga menambah kompleksitas dalam investigasi kepolisian, karena setiap kesaksian perlu ditelaah secara mendalam dan terpisah.
Peran Media Sosial: Akselerator Isu dan Platform Advokasi Korban
Kasus Mohan Hazian sekali lagi menegaskan peran krusial media sosial, khususnya platform X (sebelumnya Twitter), dalam menyebarkan informasi dan menjadi wadah bagi korban untuk bersuara. Unggahan awal dari akun @aarummanis yang memaparkan kronologi dugaan pelecehan seksual dengan detail yang cukup rinci, dengan cepat menjadi viral dan memicu diskusi publik yang luas. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi juga sebagai platform advokasi bagi para korban. Kecepatan penyebaran informasi di era digital memungkinkan isu-isu sensitif seperti pelecehan seksual untuk mendapatkan perhatian publik dalam waktu singkat. Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan tersendiri, di mana informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan fitnah. Oleh karena itu, peran kepolisian dalam melakukan verifikasi dan investigasi yang objektif menjadi sangat penting untuk memastikan kebenaran dan keadilan.

















