Tragedi berdarah mengguncang Bandara Koroway, Papua Selatan, ketika dua pilot pesawat Smart Aviation, Egon Erawan dan Baskoro, ditemukan tewas akibat penembakan oleh Orang Tak Dikenal (OTK). Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Rabu (11/2) sekitar pukul 11.30 WIT, meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar mengenai motif di balik serangan brutal tersebut. Jenazah kedua pilot kini telah berhasil diamankan di Bandara Koroway dan dijadwalkan untuk dievakuasi ke Tanah Merah keesokan harinya, menandai langkah awal dalam proses investigasi yang kompleks dan penuh tantangan di wilayah terpencil ini. Sementara itu, seluruh penumpang pesawat jenis Cessna Caravan dilaporkan selamat, meskipun rincian pasti mengenai kondisi mereka pasca-kejadian masih terus didalami oleh pihak berwenang.
Tragedi di Langit Papua: Kronologi Penembakan Pilot Smart Aviation
Peristiwa nahas yang merenggut nyawa Pilot Egon Erawan dan Kopilot Baskoro dari maskapai Smart Aviation bermula ketika pesawat mereka diserang oleh sekelompok Orang Tak Dikenal (OTK) di area Bandara Koroway, Papua Selatan. Serangan terjadi secara tiba-tiba pada Rabu (11/2) sekitar pukul 11.30 WIT, memicu kepanikan dan upaya penyelamatan diri bagi seluruh awak dan penumpang. Menurut keterangan Kombes Pol Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, setelah insiden penembakan terjadi, Egon, Baskoro, dan para penumpang segera berusaha melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, upaya pelarian tersebut tidak sepenuhnya berhasil bagi kedua pilot yang malang. Egon Erawan dan Baskoro, yang identitasnya telah dikonfirmasi oleh pihak kepolisian, tidak mampu menghindari peluru panas para penyerang dan akhirnya dinyatakan tewas di tempat kejadian.
Kejadian ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada pesawat jenis Cessna Caravan yang dioperasikan oleh Smart Aviation. Laporan awal menyebutkan bahwa salah satu sisi jendela pesawat pecah, dan yang lebih mengkhawatirkan, terjadi kebocoran pada tangki bahan bakar avtur. Kerusakan ini tidak hanya menjadi bukti kekerasan serangan, tetapi juga menimbulkan potensi risiko tambahan di area yang sudah dikenal memiliki tantangan geografis dan logistik.
Evakuasi dan Penyelidikan Intensif: Menyingkap Tabir Misteri di Balik Penembakan
Menyikapi insiden tragis ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Papua Selatan bergerak cepat untuk mengamankan lokasi kejadian dan jenazah para korban. Kombes Pol Yusuf Sutejo menegaskan bahwa jenazah kedua pilot, Egon Erawan dan Baskoro, telah berhasil diamankan di Bandara Koroway. Rencana evakuasi jenazah ke Tanah Merah dijadwalkan pada keesokan harinya, Kamis (12/2). Keputusan untuk mengevakuasi jenazah ke Tanah Merah didasari oleh kondisi geografis Bandara Koroway yang merupakan daerah terpencil dan aksesnya sangat terbatas, seringkali hanya dapat dijangkau melalui jalur udara.
Sementara itu, terkait dengan para penumpang, Kombes Pol Yusuf Sutejo menyatakan bahwa seluruh penumpang pesawat dilaporkan selamat. Namun, detail mengenai kondisi fisik dan psikologis mereka pasca-kejadian masih dalam pendalaman oleh tim di lapangan. Pihak kepolisian berupaya keras untuk mengumpulkan informasi selengkap mungkin dari para saksi mata, termasuk para penumpang, untuk membangun gambaran utuh mengenai kronologi penembakan dan identitas pelaku.
Polda Papua telah mengirimkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap kasus penembakan ini. Brigjen Faizal Ramadhani, salah seorang pejabat tinggi di Polda Papua, menyatakan bahwa identitas pelaku penembakan masih dalam proses penyelidikan intensif. “Untuk pelaku masih terus kami dalami, dan kami akan sampaikan jika sudah ada hasil penyelidikan,” ujar beliau, menekankan komitmen kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus ini.
Konteks Insiden: Sejarah Tantangan Keamanan di Wilayah Papua
Insiden penembakan terhadap pesawat Smart Aviation di Bandara Koroway, Papua Selatan, bukanlah peristiwa isolasi yang terjadi tanpa konteks. Wilayah Papua secara umum telah lama dikenal sebagai daerah dengan tingkat kerawanan keamanan yang tinggi, seringkali dipicu oleh konflik bersenjata antara aparat keamanan dengan kelompok separatis bersenjata (KKB) serta berbagai bentuk tindak kriminalitas lainnya. Serangan terhadap objek vital, termasuk transportasi udara, kerap terjadi sebagai taktik untuk mengganggu aktivitas pemerintah, logistik, maupun perekonomian di wilayah tersebut.
Maskapai penerbangan, termasuk Smart Aviation, yang beroperasi di Papua kerap menghadapi risiko tinggi karena medan yang sulit, cuaca ekstrem, dan potensi ancaman keamanan. Berbagai insiden di masa lalu, seperti jatuhnya pesawat atau penyerangan terhadap kru dan penumpang, telah menjadi pengingat akan kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam menjaga konektivitas dan keamanan di pulau paling timur Indonesia ini. Meskipun beberapa laporan menyebutkan adanya insiden terkait pesawat Smart Air yang pilotnya ditemukan selamat (seperti dalam kasus jatuhnya pesawat di Tarakan yang pilotnya ditemukan selamat, atau insiden lain di Nunukan di mana pilot ditemukan selamat sementara mekanik meninggal), insiden di Koroway ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang mengarah pada hilangnya nyawa awak pesawat.
Pihak berwenang terus berupaya meningkatkan upaya pengamanan di berbagai titik strategis, termasuk bandara dan rute penerbangan sipil di Papua. Namun, tantangan dalam menjangkau dan mengamankan wilayah-wilayah terpencil, serta sifat serangan yang seringkali sporadis dan tersembunyi, membuat upaya pencegahan menjadi sangat kompleks. Penyelidikan yang sedang berlangsung di Bandara Koroway diharapkan tidak hanya mengungkap pelaku di balik penembakan ini, tetapi juga dapat memberikan masukan berharga untuk strategi pengamanan penerbangan di masa depan, demi mencegah terulangnya tragedi serupa.

















