Kisah hidup seringkali menyimpan ironi yang menyakitkan, dan itulah yang kini dirasakan oleh Amsal Christy Sitepu. Sebagai seorang videografer yang dikenal melalui CV Promiseland, hidupnya berubah 180 derajat setelah terseret dalam pusaran kasus dugaan korupsi proyek video profil 20 desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di balik persidangan yang menegangkan, terselip cerita menyentuh tentang impian membina keluarga yang harus tertunda akibat jeratan hukum.
Awal Mula Kasus yang Menjerat Amsal Sitepu
Kasus yang menimpa Amsal Sitepu bermula dari proyek pengadaan jasa pembuatan video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo. Sebagai direktur perusahaan yang menangani proyek tersebut, Amsal didakwa melakukan tindak pidana korupsi dengan nilai kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp 202 juta.

Pihak kejaksaan menduga adanya praktik mark-up atau penggelembungan anggaran dalam pengerjaan video tersebut. Namun, Amsal secara tegas membantah tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa seluruh anggaran telah digunakan sesuai dengan kebutuhan produksi di lapangan. Meski pembelaan telah disampaikan, proses hukum terus bergulir hingga jaksa menuntut hukuman penjara selama 2 tahun bagi Amsal.
Rencana Promil yang Terpaksa Kandas
Di tengah hiruk-pikuk persidangan, satu fakta emosional terungkap ke publik. Amsal Sitepu mengaku bahwa ia dan istrinya sebenarnya memiliki rencana besar untuk menjalani program kehamilan (promil) pada tahun ini. Namun, rencana yang telah disusun matang tersebut harus hancur berantakan karena ia harus fokus menghadapi proses hukum yang panjang.

Dampak Psikologis Terhadap Keluarga
Bukan hanya Amsal yang menderita, pihak keluarga terutama sang istri mengalami tekanan psikologis yang sangat berat. Stigma sebagai keluarga terdakwa korupsi menjadi beban moral tersendiri di lingkungan sosial mereka.
- Tekanan Mental: Istri Amsal harus menanggung beban malu dan kesedihan mendalam.
- Impian Tertunda: Keinginan memiliki momongan kini menjadi hal yang mustahil untuk diprioritaskan di tengah ancaman hukuman penjara.
- Kondisi Ekonomi: Fokus keuangan keluarga yang awalnya dialokasikan untuk promil, kini tersedot untuk biaya operasional hukum dan kebutuhan mendesak selama Amsal tidak bekerja.
Mengupas Bantahan Mark-Up Anggaran
Dalam berbagai kesempatan di persidangan, Amsal Sitepu tetap teguh pada pendiriannya bahwa ia tidak melakukan mark-up. Ia menjelaskan bahwa pembuatan video profil desa melibatkan banyak aspek teknis, mulai dari penyewaan alat, mobilitas tim ke 20 desa, hingga proses penyuntingan (editing) yang memakan waktu lama.
Mengapa Kasus Ini Menjadi Sorotan?
Kasus ini menyita perhatian publik di Sumatera Utara karena melibatkan sektor kreatif yang seringkali dianggap sebagai “proyek sampingan” oleh aparat desa. Beberapa poin yang menjadi perdebatan meliputi:
- Transparansi Anggaran: Apakah anggaran Rp 202 juta memang terlalu besar untuk 20 video profil?
- Kualitas Output: Sejauh mana hasil video tersebut memenuhi standar profesional yang dijanjikan dalam kontrak?
- Prosedur Hukum: Apakah dakwaan korupsi tepat sasaran, ataukah ini lebih kepada sengketa perdata/kontrak yang dipaksakan menjadi kasus pidana?
Harapan di Balik Tuntutan 2 Tahun Penjara
Mendengar tuntutan 2 tahun penjara, Amsal Sitepu tak kuasa menahan air mata. Ia merasa bahwa keadilan belum sepenuhnya berpihak padanya. Baginya, setiap hari yang dihabiskan di balik jeruji besi adalah waktu yang hilang bersama sang istri untuk membangun masa depan keluarga yang lebih baik.
Amsal berharap majelis hakim dapat melihat kasus ini secara jernih. Ia memohon agar segala bukti pembelaan yang ia ajukan dipertimbangkan kembali sebelum vonis akhir dijatuhkan. Fokus utamanya saat ini bukan lagi soal keuntungan proyek, melainkan bagaimana ia bisa kembali ke pelukan keluarga dan melanjutkan rencana yang sempat tertunda.
Kesimpulan
Kasus yang menimpa Amsal Sitepu menjadi pelajaran penting bagi para pelaku usaha kreatif di daerah. Pentingnya administrasi yang tertib dan transparansi dalam proyek pemerintahan menjadi kunci agar tidak terjerat hukum di kemudian hari. Di sisi lain, cerita tentang promil yang gagal ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka kerugian negara dalam sebuah kasus korupsi, terdapat sisi kemanusiaan yang seringkali terlupakan.
Kini, publik menanti putusan akhir dari pengadilan. Apakah Amsal Sitepu akan dinyatakan bersalah, atau justru fakta baru akan terungkap yang membuktikan bahwa ia hanyalah korban dari ketidakpahaman teknis dalam kontrak proyek desa? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti, luka emosional yang dirasakan oleh keluarganya akan membekas cukup lama.

















