Sebuah insiden penembakan fatal mengguncang jantung kota Paris ketika aparat kepolisian Prancis melumpuhkan seorang pria bersenjata tajam yang melakukan aksi penyerangan brutal di bawah monumen ikonik Arc de Triomphe pada Jumat, 13 Februari 2026. Peristiwa yang terjadi di tengah upacara sakral penyalaan kembali api di Makam Prajurit Tak Dikenal tersebut memaksa petugas melepaskan tembakan beruntun guna menghentikan ancaman mematikan yang menargetkan personel keamanan yang sedang bertugas. Dengan latar belakang pelaku yang merupakan residivis kasus terorisme internasional, tragedi ini memicu kembali perdebatan nasional mengenai efektivitas pengawasan terhadap individu radikal yang baru saja menghirup udara bebas dari institusi pemasyarakatan.
Kepanikan luar biasa menyelimuti kawasan Place de l’Étoile saat rentetan tembakan terdengar di sela-sela prosesi militer yang khidmat. Menurut laporan saksi mata dan sumber kepolisian yang dikutip dari AFP, pelaku tiba-tiba muncul dan merangsek maju dengan membawa pisau, mengincar unit pengawal kehormatan yang sedang menjaga area tersebut. Dalam hitungan detik, situasi berubah menjadi zona tempur ketika pelaku mengabaikan peringatan petugas dan mencoba melakukan penikaman. Salah satu petugas yang menjadi bagian dari unit pengawal kehormatan dilaporkan mengalami luka ringan akibat sabetan senjata tajam sebelum rekan-rekannya merespons dengan tindakan tegas dan terukur. Pelaku ditembak beberapa kali di bagian vital hingga tersungkur, yang kemudian segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.
Kronologi Penyerangan di Tengah Upacara Kenegaraan
Insiden berdarah ini terjadi tepat di bawah lengkungan megah Arc de Triomphe, sebuah lokasi yang tidak hanya menjadi daya tarik wisata utama dunia tetapi juga simbol patriotisme Prancis yang paling suci. Pada saat kejadian, sedang berlangsung upacara harian untuk menyalakan kembali “Flamme de la Nation” (Api Bangsa) yang berada di atas makam prajurit tak dikenal dari Perang Dunia I. Kehadiran personel keamanan di lokasi tersebut sangatlah ketat mengingat nilai simbolis dari upacara tersebut. Namun, hal ini tidak menyurutkan niat pelaku untuk melancarkan aksinya. Pria tersebut dilaporkan melakukan provokasi verbal sebelum menghunuskan senjatanya dan menerjang ke arah petugas dengan niat membunuh yang jelas.
Kantor Kejaksaan Anti-Terorisme Nasional Prancis (PNAT) segera mengambil alih penyelidikan ini, mengingat profil pelaku dan metode serangan yang menyerupai pola aksi terorisme “lone wolf”. Berdasarkan identifikasi awal, pelaku diketahui bernama Brahim Bahrir, seorang warga negara Prancis kelahiran tahun 1978. Penyelidikan awal mengungkapkan bahwa Bahrir bukanlah sosok asing bagi dunia intelijen dan keamanan. Ia telah lama masuk dalam daftar pantauan keamanan tingkat tinggi atau yang dikenal di Prancis sebagai “Fiche S”, sebuah kategori untuk individu-individu yang dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional karena kecenderungan radikalisasi mereka.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa saat sebelum melancarkan aksinya di Arc de Triomphe, Bahrir dilaporkan sempat melakukan kontak telepon dengan sebuah kantor polisi di pinggiran kota Paris, tempat ia pernah berdomisili. Dalam percakapan telepon yang singkat namun mengerikan tersebut, ia secara eksplisit menyatakan niatnya untuk melakukan “pembantaian” di pusat kota. Meskipun peringatan ini segera direspons oleh unit intelijen, kecepatan Bahrir dalam mencapai lokasi target dan melancarkan serangan menunjukkan tingkat determinasi yang sangat tinggi, yang akhirnya berujung pada konfrontasi mematikan dengan petugas di lapangan.
Profil Brahim Bahrir: Residivis Terorisme Lintas Batas
Rekam jejak kriminal Brahim Bahrir memberikan gambaran yang sangat kelam mengenai latar belakangnya. Sebelum insiden di Paris ini, Bahrir memiliki sejarah panjang keterlibatan dalam aksi kekerasan ekstremis di luar negeri. Pada tahun 2012, ia pernah dijatuhi hukuman penjara selama 17 tahun oleh pengadilan di Belgia. Vonis berat tersebut dijatuhkan atas dakwaan percobaan pembunuhan dalam konteks terorisme setelah ia melakukan serangan brutal terhadap tiga orang petugas kepolisian di Brussel. Kasus tersebut pada masanya menjadi sorotan besar di Eropa karena menunjukkan keberanian kelompok radikal dalam menyerang simbol-simbol negara secara langsung.
Bahrir baru saja menghirup udara bebas pada Desember 2025, hanya dua bulan sebelum ia memutuskan untuk kembali melakukan serangan di Paris. Pembebasannya dari penjara Belgia setelah menjalani masa hukuman yang panjang menimbulkan pertanyaan besar mengenai program deradikalisasi yang dijalaninya selama di balik jeruji besi. Fakta bahwa ia mampu merencanakan dan mengeksekusi serangan hanya dalam waktu singkat setelah pembebasannya menjadi tamparan keras bagi sistem pemasyarakatan dan pengawasan pasca-penjara di Uni Eropa. Pihak berwenang kini tengah menelusuri apakah Bahrir bertindak sepenuhnya sendirian atau memiliki jaringan pendukung yang membantunya mempersiapkan logistik serangan di Paris.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pernyataan resminya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petugas kepolisian yang bertindak cepat di lokasi kejadian. Macron menegaskan bahwa profesionalisme dan keberanian petugas telah mencegah jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak di salah satu lokasi paling ramai di Prancis. “Keberanian petugas kita telah menghentikan aksi pengecut yang menargetkan simbol bangsa kita. Kami tetap waspada dan tidak akan mundur sedikitpun dalam menghadapi ancaman terorisme,” tegas Macron dalam pernyataan yang dirilis oleh Istana Élysée.
Implikasi Keamanan dan Penyelidikan Lanjutan
Pasca-insiden tersebut, area di sekitar Arc de Triomphe dan Champs-Élysées sempat ditutup total untuk kepentingan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim forensik menyisir setiap sudut di bawah monumen untuk mencari bukti tambahan, termasuk kemungkinan adanya bahan peledak atau pesan tertulis yang ditinggalkan oleh pelaku. Meskipun tidak ditemukan ancaman bom, kehadiran militer di bawah Operasi Sentinelle ditingkatkan secara signifikan di seluruh titik-titik vital Paris guna memberikan rasa aman kepada masyarakat dan wisatawan yang sempat terguncang oleh peristiwa tersebut.
Penyelidikan kini difokuskan pada analisis komunikasi digital milik Bahrir untuk memetakan interaksinya selama beberapa minggu terakhir. Jaksa anti-terorisme ingin memastikan apakah ada instruksi khusus yang diterima pelaku dari kelompok teror internasional atau apakah ini merupakan inisiatif pribadi yang dipicu oleh ideologi ekstremis yang ia anut sejak lama. Selain itu, koordinasi dengan pihak berwenang Belgia juga diperketat untuk meninjau kembali laporan perilaku Bahrir selama di penjara dan alasan di balik keputusan pembebasannya yang dianggap berisiko tinggi.
Tragedi di Arc de Triomphe ini menjadi pengingat pahit bahwa ancaman terorisme di Eropa tetap nyata dan dinamis. Meskipun organisasi teror besar mungkin telah melemah, individu-individu yang teradikalisasi dengan sejarah kekerasan tetap menjadi tantangan terbesar bagi intelijen domestik. Masyarakat Paris, yang telah berulang kali menghadapi cobaan serupa dalam satu dekade terakhir, kembali menunjukkan ketangguhannya, namun tuntutan akan kebijakan keamanan yang lebih preventif dan pengawasan yang lebih ketat terhadap mantan narapidana terorisme kini semakin menggema di panggung politik Prancis.
- Identitas Pelaku: Brahim Bahrir (48 tahun), warga negara Prancis dengan riwayat radikalisasi.
- Lokasi Kejadian: Di bawah Arc de Triomphe, Paris, saat upacara penyalaan api abadi.
- Status Hukum Pelaku: Mantan narapidana terorisme di Belgia (hukuman 17 tahun), baru bebas Desember 2025.
- Korban: Satu petugas pengawal kehormatan mengalami luka tusuk ringan; pelaku tewas ditembak.
- Motif: Diduga kuat terkait ideologi ekstremis dengan peringatan awal berupa ancaman pembantaian melalui telepon.
Kejaksaan anti-terorisme berjanji akan memberikan transparansi penuh dalam proses investigasi ini. Sementara itu, bunga-bunga mulai diletakkan oleh warga di dekat lokasi kejadian sebagai bentuk dukungan kepada kepolisian dan penghormatan terhadap kesucian monumen nasional tersebut. Peristiwa ini dipastikan akan menjadi agenda utama dalam rapat kabinet keamanan Prancis mendatang, di mana evaluasi menyeluruh terhadap daftar pantauan “Fiche S” dan protokol penanganan residivis terorisme akan dibahas secara mendalam guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.

















