Raja Charles III Inggris kembali menghadapi sorotan publik yang tajam terkait dugaan keterlibatan dan pengetahuan keluarganya, khususnya sang adik, Pangeran Andrew, dengan mendiang terpidana kejahatan seksual internasional, Jeffrey Epstein. Insiden terbaru terjadi saat kunjungan kerajaan ke Lancashire pada Senin pagi, di mana seorang individu secara terbuka melontarkan pertanyaan provokatif mengenai hubungan Pangeran Andrew dengan Epstein kepada Raja Charles. Peristiwa ini menggarisbawahi gelombang kekhawatiran dan desakan publik yang semakin meningkat menyusul dirilisnya dokumen-dokumen terkait kasus Epstein yang kembali membuka luka lama dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai akuntabilitas para tokoh berpengaruh. Pertanyaan krusial yang dilontarkan, “Sudah berapa lama Anda mengetahui tentang Andrew dan Epstein?”, menggema di tengah kerumunan, sementara Raja Charles memilih untuk tidak memberikan respons langsung, melambaikan tangan sebelum meninggalkan lokasi, sebuah gestur yang mungkin diartikan sebagai upaya menahan diri atau mengabaikan provokasi. Kejadian serupa juga pernah dialami Raja Charles dan Ratu Camilla di desa Dedham, Essex, di mana teriakan serupa menuntut klarifikasi atas dugaan intervensi kerajaan dalam penyelidikan polisi terhadap Pangeran Andrew. Tekanan publik ini semakin menguat seiring dengan terungkapnya detail-detail mengejutkan dalam “Epstein Files” yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, yang secara langsung menyeret nama Pangeran Andrew ke dalam pusaran tuduhan serius.
Skandal Epstein Files Mengguncang Keluarga Kerajaan Inggris
Rilis jutaan dokumen rahasia terkait jaringan pelecehan seksual yang melibatkan Jeffrey Epstein, seorang predator seksual kelas kakap yang telah meninggal dunia, telah menciptakan gelombang kejutan yang signifikan bagi berbagai kalangan elit global, tak terkecuali keluarga kerajaan Inggris. Dokumen-dokumen yang baru dibuka oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat ini tidak hanya mengungkap kembali jaringan luas Epstein, tetapi juga secara spesifik menyeret mantan Pangeran Andrew, adik Raja Charles, ke dalam sorotan tajam. Tuduhan-tuduhan yang muncul dari berkas-berkas tersebut sangat mengkhawatirkan, termasuk klaim bahwa seorang wanita kedua dikirim oleh Epstein ke Inggris untuk tujuan melakukan hubungan seksual dengan Pangeran Andrew. Lebih jauh lagi, terdapat pula tuduhan bahwa Pangeran Andrew meminta Epstein untuk menyediakan seorang penari eksotis guna melakukan aktivitas seksual bertiga di kediaman Epstein yang mewah di Florida. Keberadaan sebuah foto yang diduga menampilkan Pangeran Andrew sedang berbaring di lantai bersama seorang wanita juga turut memperkeruh suasana. Tuduhan terbaru yang paling serius adalah dugaan bahwa Pangeran Andrew telah membagikan laporan rahasia mengenai kunjungan resmi ke negara-negara seperti Hong Kong, Vietnam, dan Singapura, ketika ia menjabat sebagai utusan perdagangan Inggris. Meskipun Pangeran Andrew secara konsisten membantah melakukan kesalahan apa pun, tuduhan-tuduhan ini telah menimbulkan kerusakan reputasi yang parah dan menempatkan keluarga kerajaan di bawah pengawasan publik yang intens.
Respons Keluarga Kerajaan dan Tekanan Publik yang Meningkat
Menghadapi gelombang skandal yang semakin membesar, anggota keluarga kerajaan Inggris lainnya mulai menunjukkan respons mereka. Pangeran William dan Kate Middleton, Pangeran dan Putri Wales, angkat bicara untuk pertama kalinya mengenai skandal Epstein Files. Dalam pernyataan publik mereka, keduanya mengungkapkan “keprihatinan mendalam” dan menyatakan bahwa pikiran mereka tertuju pada para korban pelecehan. Pernyataan ini menandai sebuah pergeseran dalam cara keluarga kerajaan menangani isu sensitif ini, menunjukkan kesadaran akan pentingnya menunjukkan empati kepada para penyintas. Sebelumnya, Pangeran Edward, adik bungsu Raja Charles dan Pangeran Andrew, juga memberikan komentarnya, menekankan pentingnya “selalu mengingat para korban” ketika ditanya mengenai rilis berkas terbaru. Sementara itu, Raja Charles dan Ratu Camilla, meskipun belum memberikan pernyataan publik yang mendalam secara langsung mengenai keterlibatan Andrew sejak rilis berkas tahun lalu, sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan yang menyatakan “pikiran dan simpati terdalam” mereka kepada “para korban dan penyintas dari segala bentuk pelecehan”. Pernyataan tersebut dikeluarkan bertepatan dengan pengumuman pencabutan seluruh gelar kehormatan terakhir yang dimiliki oleh Pangeran Andrew, sebuah langkah yang menunjukkan upaya kerajaan untuk menjaga jarak dari skandal tersebut. Tekanan publik tidak hanya tertuju pada keluarga kerajaan, tetapi juga meluas ke ranah politik, dengan penyelidikan yang diluncurkan oleh kepolisian terhadap Peter Mandelson, mantan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat, atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik, yang juga terkait dengan jutaan dokumen Epstein. Pengunduran diri Morgan McSweeney, asisten Perdana Menteri Keir Starmer, akibat perannya dalam pengangkatan Mandelson sebagai duta besar AS, semakin menunjukkan betapa luasnya dampak skandal ini. Tekanan terus berlanjut pada Perdana Menteri terkait Mandelson, seorang politisi berpengaruh di Partai Buruh yang dikenal memiliki kedekatan dengan isu-isu pro-Israel, seiring dengan penantian publikasi berkas-berkas yang berkaitan dengan pengangkatannya.
Dampak dan Implikasi Jangka Panjang
Skandal yang melibatkan Jeffrey Epstein dan Pangeran Andrew, serta implikasinya terhadap keluarga kerajaan Inggris, memiliki dampak yang jauh melampaui sekadar pemberitaan media. Rilis “Epstein Files” telah memicu permintaan global untuk akuntabilitas yang lebih besar dari para tokoh berpengaruh yang diduga memiliki hubungan dengan Epstein. Bagi keluarga kerajaan, ini menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi, etika, dan bagaimana mereka menangani tuduhan serius yang melibatkan anggota keluarga. Keputusan Pangeran Andrew untuk meninggalkan Windsor di tengah skandal ini menunjukkan beratnya tekanan yang ia hadapi. Lebih jauh lagi, Raja Charles sendiri kini dihadapkan pada dilema yang kompleks. Di satu sisi, ia memiliki kewajiban untuk menjaga citra monarki dan merespons kekhawatiran publik. Di sisi lain, ia juga harus menavigasi hubungan keluarganya dan potensi dampak terhadap posisinya sebagai kepala negara. Kemungkinan Raja Charles mempertimbangkan kembali rencana kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat setelah rilis terbaru dokumen Epstein Files mengindikasikan betapa seriusnya potensi dampak reputasi internasional yang dapat ditimbulkan. Dokumen-dokumen ini, yang terus dibuka dan dianalisis, berpotensi mengungkap lebih banyak lagi nama-nama berpengaruh dan memperdalam krisis kepercayaan publik. Kasus ini juga menyoroti pentingnya independensi institusi penegak hukum dan peran media dalam mengungkap kebenaran, bahkan ketika melibatkan individu-individu yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar.
















