Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang jantung ibu kota Pakistan ketika sebuah ledakan bom bunuh diri yang dahsyat menghantam jamaah yang tengah melaksanakan salat Jumat di sebuah masjid Syiah di kawasan Tarlai Kalan, Islamabad, pada Jumat, 6 Februari 2026, yang mengakibatkan sedikitnya 24 orang tewas dan melukai lebih dari seratus orang lainnya. Insiden mematikan ini terjadi di tengah suasana ibadah yang khidmat, mengubah tempat suci tersebut menjadi medan puing dan duka dalam sekejap mata. Otoritas keamanan setempat segera menetapkan status darurat tinggi di seluruh wilayah Islamabad menyusul serangan yang menargetkan komunitas minoritas Muslim Syiah ini. Berdasarkan laporan awal, pelaku pengeboman diduga menyusup ke dalam kerumunan jamaah sebelum meledakkan rompi berbahan peledak yang dibawanya, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan struktur bangunan dan menyebabkan kepanikan massal di wilayah tenggara ibu kota tersebut.
Kepanikan luar biasa melanda wilayah Tarlai Kalan sesaat setelah dentuman keras terdengar hingga radius beberapa kilometer. Tim penyelamat dan unit paramedis dari berbagai lembaga kemanusiaan, termasuk layanan darurat 1122, segera dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi para korban yang tertimbun reruntuhan atap masjid yang runtuh akibat kekuatan ledakan. Mohamed Amir, seorang pejabat senior dari tim penyelamat, mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sangat mencekam dengan banyaknya korban yang tergeletak di lantai masjid yang bersimbah darah. Setidaknya 15 orang dilaporkan tewas di tempat, namun angka tersebut terus bertambah seiring dengan ditemukannya korban tambahan dari balik puing-puing bangunan. Para korban luka, yang kini jumlahnya telah melampaui 100 orang, segera dilarikan ke rumah sakit pemerintah terdekat, termasuk Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS) dan Rumah Sakit Poliklinik Islamabad, di mana banyak di antara mereka berada dalam kondisi kritis akibat luka bakar parah dan hantaman serpihan logam.
Kronologi Serangan dan Respon Cepat Otoritas Keamanan
Pihak Kepolisian Islamabad melalui juru bicaranya, Taqi Jawad, memberikan keterangan awal bahwa ledakan tersebut terjadi tepat saat khatib sedang menyampaikan khotbah Jumat, sebuah waktu di mana masjid mencapai kapasitas maksimalnya. Masjid yang juga dikenal sebagai Imambargah ini merupakan pusat kegiatan keagamaan bagi komunitas Syiah di pinggiran Islamabad. Taqi Jawad menegaskan bahwa tim forensik dan penjinak bom (BDS) telah dikerahkan untuk menyisir lokasi guna mencari bukti-bukti tambahan serta memastikan tidak ada bahan peledak sekunder yang tertinggal. Investigasi awal menunjukkan bahwa serangan ini merupakan aksi terorisme yang terencana dengan matang, yang bertujuan untuk memicu ketegangan sektarian di ibu kota. Area di sekitar Tarlai Kalan kini telah ditutup total oleh garis polisi dan barikade militer, sementara warga sipil diminta untuk menjauh demi kelancaran proses investigasi dan evakuasi.
Berikut adalah rincian sementara mengenai dampak insiden ledakan di Islamabad:
| Kategori Informasi | Detail Laporan |
|---|---|
| Lokasi Kejadian | Masjid Syiah (Imambargah), Tarlai Kalan, Islamabad |
| Waktu Kejadian | Jumat, 6 Februari 2026 (Waktu Salat Jumat) |
| Estimasi Korban Tewas | 24 Orang (Data Terkini) |
| Estimasi Korban Luka | Lebih dari 100 Orang |
| Jenis Serangan | Bom Bunuh Diri (Dugaan Kuat) |
| Status Keamanan | Siaga Satu / High Alert |
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dalam pernyataan resminya mengecam keras tindakan keji yang tidak berperikemanusiaan ini. Beliau menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga para korban dan menginstruksikan otoritas kesehatan untuk memberikan perawatan medis terbaik tanpa biaya bagi para korban yang terluka. PM Sharif menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan ruang bagi kelompok teroris yang mencoba merusak perdamaian dan kerukunan beragama di Pakistan. Ia juga memerintahkan kementerian dalam negeri untuk mempercepat proses identifikasi pelaku dan jaringan di balik serangan ini, seraya menekankan bahwa seluruh kekuatan negara akan dikerahkan untuk membawa para dalang kejahatan ini ke pengadilan. Kecaman serupa juga datang dari berbagai tokoh politik dan organisasi hak asasi manusia yang menilai serangan terhadap tempat ibadah sebagai pelanggaran berat terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan agama.
Eskalasi Terorisme dan Konteks Keamanan Nasional
Insiden berdarah di Tarlai Kalan ini menambah daftar panjang kekerasan berbasis terorisme yang menghantui Pakistan dalam beberapa bulan terakhir. Belum hilang dari ingatan publik, pada November tahun lalu, sebuah serangan bom bunuh diri serupa mengguncang pintu masuk Kompleks Kehakiman Distrik Islamabad yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Pola serangan yang menargetkan pusat-pusat keramaian dan institusi penting menunjukkan adanya eskalasi ancaman dari kelompok-kelompok militan yang kembali mengorganisir diri. Para analis keamanan berpendapat bahwa pemilihan lokasi di pinggiran ibu kota seperti Tarlai Kalan menunjukkan strategi pelaku untuk mencari celah keamanan yang mungkin tidak seketat di zona merah pusat pemerintahan. Hal ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap protokol keamanan di tempat-tempat ibadah dan fasilitas publik lainnya di seluruh negeri.
Komunitas internasional, termasuk badan-badan di bawah naungan PBB, turut memantau perkembangan situasi di Islamabad dengan keprihatinan mendalam. Media internasional seperti Al Jazeera dan Arab News melaporkan bahwa serangan ini terjadi di tengah upaya pemerintah Pakistan untuk menstabilkan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri. Serangan terhadap kaum Syiah sering kali dikaitkan dengan kelompok-kelompok ekstremis yang memiliki agenda sektarian sempit. Oleh karena itu, para tokoh agama dari berbagai denominasi di Pakistan telah mengeluarkan seruan bersama untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh upaya adu domba yang dilancarkan oleh kelompok teroris. Mereka menekankan pentingnya persatuan nasional dalam menghadapi ancaman ekstremisme yang mengancam kedaulatan dan kedamaian negara.
Hingga saat ini, proses identifikasi jenazah masih terus berlangsung di rumah sakit, sementara keluarga korban mulai berdatangan dengan isak tangis yang menyayat hati. Banyak dari korban tewas adalah kepala keluarga yang meninggalkan anak dan istri, menambah beban sosial dan ekonomi bagi komunitas setempat. Administrasi distrik Islamabad telah mengumumkan akan memberikan kompensasi finansial bagi keluarga yang ditinggalkan, meskipun disadari bahwa dukungan materi tidak akan pernah bisa menggantikan nyawa yang hilang. Di sisi lain, kepolisian terus mengumpulkan rekaman CCTV dari sekitar lokasi kejadian dan memeriksa keterangan dari para saksi mata untuk merekonstruksi rute yang diambil oleh pelaku sebelum memasuki area masjid. Penyelidikan intensif ini diharapkan dapat segera memberikan titik terang mengenai dalang di balik tragedi Jumat kelabu ini.
Situasi keamanan di Islamabad diprediksi akan tetap dalam kondisi siaga tinggi selama beberapa hari ke depan, terutama menjelang pemakaman massal para korban yang direncanakan akan dihadiri oleh ribuan pelayat. Pasukan paramiliter tambahan telah dikerahkan untuk berpatroli di jalan-jalan utama dan menjaga titik-titik masuk ke ibu kota guna mencegah serangan susulan. Pemerintah Pakistan kini menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya menangkap para pelaku, tetapi juga mengatasi akar penyebab radikalisme yang terus memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tidak berdosa. Publik Pakistan kini menanti langkah konkret dan tegas dari aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang kembali di masa depan.

















