Peristiwa penembakan misterius yang menimpa Amat Muzakhin (56), suami dari tokoh politik Nur Fatwah yang menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, telah memicu gelombang kekhawatiran publik sekaligus memacu aparat kepolisian untuk bergerak cepat dalam mengungkap tabir gelap di balik aksi kriminal tersebut. Insiden mencekam yang terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, di wilayah Kabupaten Pekalongan ini, bukan sekadar tindak kekerasan biasa, melainkan sebuah serangan terencana yang dilakukan oleh orang tidak dikenal (OTK) di tengah suasana pemukiman yang seharusnya tenang. Dengan melibatkan tim gabungan dari Kepolisian Resor (Polres) Pekalongan dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah, penyelidikan kini difokuskan pada pengumpulan bukti material dan keterangan saksi guna mengidentifikasi pelaku yang diduga kuat telah melakukan pengintaian matang sebelum melepaskan tembakan ke arah korban. Kepolisian berkomitmen penuh untuk mengusut tuntas motif di balik penyerangan ini, mengingat status korban sebagai keluarga dari pejabat publik yang menambah urgensi penanganan kasus secara transparan dan profesional.
Hingga memasuki hari ketiga pasca-kejadian, Kepolisian Resor Pekalongan di bawah kepemimpinan AKBP Rachmad C Yusuf telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses investigasi. Sejauh ini, penyidik telah memeriksa sedikitnya sembilan orang saksi secara maraton untuk menyusun kronologi kejadian yang akurat. Para saksi yang diperiksa mencakup individu yang berada di sekitar lokasi kejadian saat penembakan berlangsung, pihak keluarga, hingga korban sendiri, Amat Muzakhin, yang memberikan keterangan krusial mengenai detik-detik serangan tersebut. Pemeriksaan intensif ini bertujuan untuk mencari konsistensi informasi dan petunjuk sekecil apa pun yang dapat mengarahkan petugas pada identitas pelaku. Kapolres menegaskan bahwa seluruh keterangan saksi telah dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan sedang dianalisis lebih lanjut untuk melihat adanya pola atau keterkaitan dengan ancaman-ancaman tertentu yang mungkin pernah diterima oleh keluarga korban sebelumnya.
Analisis Mendalam Rekaman CCTV dan Pola Pengintaian Pelaku
Salah satu instrumen kunci yang menjadi tumpuan penyelidikan adalah serangkaian rekaman dari kamera pengawas atau CCTV yang tersebar di titik-titik strategis sekitar kediaman korban dan rute pelarian pelaku. Berdasarkan hasil analisis sementara yang dilakukan oleh tim siber dan reserse, terungkap bahwa pelaku tidak bertindak secara impulsif. Rekaman menunjukkan pergerakan mencurigakan seorang pengendara sepeda motor yang sempat berputar-putar di area tersebut beberapa waktu sebelum eksekusi dilakukan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pelaku telah melakukan pemetaan situasi (mapping) dan pengamatan lapangan secara mendalam untuk memastikan rute pelarian yang paling aman. Pelaku diketahui melarikan diri ke arah utara dengan kecepatan tinggi sesaat setelah melepaskan tembakan, memanfaatkan kelengangan jalan pada Sabtu malam tersebut untuk menghilang dari kejaran warga maupun petugas.
Dugaan adanya perencanaan yang matang ini menjadi fokus utama kepolisian dalam membedah profil pelaku. Analisis terhadap rekaman CCTV tidak hanya terbatas pada satu titik, melainkan mencakup jaringan kamera pengawas di sepanjang jalan utama Kabupaten Pekalongan untuk melacak jejak digital kendaraan yang digunakan. Kepolisian juga tengah mendalami apakah pelaku beraksi sendirian atau melibatkan pihak lain yang bertugas sebagai pemantau di titik yang berbeda. “Dari beberapa rekaman CCTV, pelaku terlihat menggunakan sepeda motor, sempat berputar-putar di sekitar lokasi, lalu setelah kejadian langsung bergerak ke arah utara,” jelas AKBP Rachmad C Yusuf. Detail mengenai jenis kendaraan, nomor polisi, hingga atribut yang dikenakan pelaku kini sedang dipertajam melalui teknik digital enhancement guna mendapatkan visual yang lebih jelas sebagai dasar pengejaran tim Resmob di lapangan.
Uji Balistik Bidlabfor dan Perburuan Proyektil Senjata Api
Selain bukti visual dan keterangan lisan, bukti fisik berupa proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian menjadi kunci teknis dalam mengungkap jenis senjata yang digunakan. Proyektil tersebut saat ini telah diserahkan dan sedang menjalani pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) secara mendalam oleh Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Jawa Tengah. Berdasarkan temuan awal, proyektil tersebut berbahan dasar timah, sebuah material yang umum ditemukan pada amunisi senjata api. Namun, kepolisian masih harus memastikan apakah peluru tersebut ditembakkan dari senjata api organik standar militer/kepolisian, revolver, atau justru senjata api rakitan yang sering kali sulit dilacak jejak balistiknya. Hasil uji balistik ini nantinya akan memberikan gambaran mengenai spesifikasi senjata, yang pada gilirannya dapat mempersempit ruang lingkup pencarian asal-usul senjata tersebut.
Langkah Bidlabfor dalam menganalisis guratan pada proyektil (striation marks) akan menentukan apakah senjata yang sama pernah digunakan dalam tindak kriminal lainnya di wilayah Jawa Tengah atau daerah lain. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi karena akan menjadi bukti tak terbantahkan di persidangan nantinya. Sementara menunggu hasil laboratorium keluar, tim gabungan terus menyisir area sekitar tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari kemungkinan adanya selongsong peluru yang tertinggal atau bukti material lainnya yang mungkin terlewatkan pada olah TKP awal. Penemuan proyektil ini menjadi bukti vital bahwa serangan tersebut memang dimaksudkan untuk melukai atau bahkan mengancam nyawa, mengingat daya rusak yang dihasilkan oleh proyektil berbahan timah tersebut terhadap objek sasarannya.
Langkah Preventif dan Perlindungan Terhadap Keluarga Korban
Mengingat posisi Nur Fatwah sebagai anggota legislatif tingkat provinsi, kasus ini mendapatkan perhatian khusus dari jajaran kepolisian daerah. Untuk mengantisipasi adanya serangan susulan atau tindakan intimidasi lebih lanjut, Kepolisian Resor Pekalongan telah mengambil langkah preventif dengan menempatkan sejumlah personel bersenjata untuk melakukan penjagaan ketat di kediaman korban. Penempatan personel ini bertujuan untuk memberikan rasa aman dan stabilitas psikologis bagi keluarga besar Amat Muzakhin dan Nur Fatwah yang masih dalam kondisi syok pasca-insiden tersebut. Perlindungan ini akan terus dilakukan secara dinamis sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan dan hasil penilaian risiko dari tim intelijen kepolisian.
Di sisi lain, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi secara liar mengenai motif di balik penembakan ini, apakah terkait dengan urusan pribadi, bisnis, atau aktivitas politik sang istri. Kepolisian memastikan bahwa penyelidikan dilakukan secara profesional dan berbasis pada fakta hukum (scientific crime investigation). Sinergi antara Polres Pekalongan dan Ditreskrimum Polda Jateng diharapkan dapat segera membuahkan hasil berupa penangkapan pelaku dalam waktu dekat. Komitmen kepolisian untuk menjaga kondusivitas wilayah Pekalongan tetap menjadi prioritas utama, sembari memastikan bahwa supremasi hukum ditegakkan tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang berani mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat melalui aksi kekerasan bersenjata.
Kasus ini kini menjadi ujian bagi ketajaman intelijen dan respons cepat kepolisian di Jawa Tengah dalam menangani aksi kejahatan jalanan yang melibatkan senjata api. Dengan dukungan penuh dari Polda Jateng, pengejaran terhadap pelaku terus diintensifkan hingga ke luar wilayah kabupaten. Masyarakat yang memiliki informasi sekecil apa pun terkait keberadaan pelaku atau aktivitas mencurigakan pada malam kejadian diharapkan segera melapor kepada pihak berwajib. Penuntasan kasus ini diharapkan tidak hanya membawa keadilan bagi Amat Muzakhin dan keluarganya, tetapi juga memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan serupa dan mengembalikan rasa aman bagi seluruh warga di Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya.

















