PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tengah melancarkan program revitalisasi armada kereta api komuter secara masif. Selain pengadaan 30 trainset baru yang sedang berjalan, KCI secara simultan akan melakukan penggantian terhadap 12 unit trainset yang telah beroperasi dalam kurun waktu yang lama. Penggantian ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan dan kapasitas angkut penumpang, seiring dengan perkembangan infrastruktur dan kebutuhan transportasi publik yang terus meningkat di wilayah Jabodetabek.
Revitalisasi Armada KCI: Penggantian 16 Trainset di Tahun Ini
Direktur Utama KCI, Purnomo, menjelaskan bahwa program penggantian armada ini merupakan bagian integral dari upaya KCI untuk terus menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang. “Saat ini, kami telah berhasil mengganti empat trainset tua dengan unit lokomotif produksi PT Industri Kereta Api (INKA) Persero. Keempat unit ini sudah beroperasi dan memberikan peningkatan signifikan dalam hal kenyamanan dan keandalan,” ujar Purnomo. Ia menambahkan bahwa proses penggantian tidak berhenti di situ. “Masih ada sisa 12 unit kereta produksi INKA yang saat ini tengah menjalani tahap pengujian akhir. Dengan demikian, total KCI akan mengganti sebanyak 16 kereta pada tahun ini,” tegasnya.
Langkah penggantian ini tidak dilakukan secara acak, melainkan mempertimbangkan aspek teknis dan operasional yang krusial. Purnomo menguraikan bahwa trainset yang akan diganti saat ini masih terbatas pada rute Bogor dan Cikarang. “Alasan utama pembatasan ini adalah karena hanya kedua rute tersebut yang saat ini telah mampu menerapkan konfigurasi 12 gerbong dalam satu rangkaian atau yang dikenal sebagai SF12 (Sepuluh Dua Belas Gerbong),” jelasnya. Konfigurasi SF12 ini memungkinkan KCI untuk mengangkut jumlah penumpang yang jauh lebih besar dalam satu kali perjalanan, yang secara langsung berkontribusi pada efisiensi operasional dan pengurangan kepadatan di jam-jam sibuk.
Optimalisasi Infrastruktur untuk Kapasitas Maksimal
Menyadari potensi besar dari peningkatan kapasitas angkut, Purnomo secara proaktif mendorong Kementerian Perhubungan untuk memberikan perhatian lebih pada pengembangan infrastruktur pendukung. “Kami sangat berharap Kementerian Perhubungan dapat segera menambah kemampuan daya listrik di rute Rangkasbitung. Peningkatan daya listrik ini sangat krusial untuk mendukung penerapan SF12 di rute tersebut,” tuturnya. Ia menekankan bahwa dengan infrastruktur yang memadai, KCI dapat mengoptimalkan penggunaan rangkaian kereta panjang, sehingga semakin banyak jumlah penumpang yang dapat diangkut secara efisien. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kepuasan penumpang tetapi juga berkontribusi pada pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, yang pada gilirannya akan meringankan beban lalu lintas perkotaan.
Sumber pendanaan untuk program revitalisasi armada ini berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN). Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi hal ini. “PT KAI, yang merupakan induk dari KCI, telah mendapatkan PMN sebesar Rp 2,27 triliun. Dari total dana tersebut, PT KAI menerima dana tunai sebesar Rp 1,8 triliun yang secara spesifik dialokasikan untuk pembelian trainset baru,” ungkap Purbaya. Alokasi dana yang substansial ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memodernisasi sistem transportasi publik kereta api di Indonesia, khususnya untuk layanan komuter yang melayani jutaan warga setiap harinya.
Purnomo menargetkan bahwa 12 kereta baru pengganti ini akan mulai berdatangan secara bertahap ke Jakarta dan siap beroperasi pada bulan Juni mendatang. “Jadi, nanti setiap bulan akan ada tambahan satu atau dua unit kereta baru yang memperkuat armada kami,” kata Purnomo. Proses produksi dan pengujian yang dilakukan oleh PT INKA menjadi kunci utama dalam memastikan kualitas dan keandalan setiap unit kereta yang akan dioperasikan. Saat ini, PT INKA sedang melakukan pengujian intensif terhadap trainset ke-5 dan ke-6. “Pengujian ini mencakup uji tempuh sejauh 45.000 kilometer untuk memastikan performa optimal di berbagai kondisi operasional,” jelasnya.
Proses pengujian ini dilakukan dengan standar yang sangat ketat. Purnomo menegaskan bahwa tidak boleh ada satu pun gangguan atau kendala yang terjadi selama fase pengujian. “Jika terdeteksi adanya kendala sekecil apapun, PT INKA harus mengulang seluruh proses pengujian dari awal. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa setiap unit kereta yang kami terima benar-benar memenuhi standar keselamatan dan keandalan tertinggi,” tegas Purnomo. Ia menambahkan, “Meskipun PT INKA adalah industri anak bangsa yang patut kita banggakan dan dorong, namun dalam hal produksi kereta api, mereka tetap harus mengikuti semua kaidah dan standar normatif yang berlaku secara internasional. Kualitas dan keselamatan penumpang adalah prioritas utama kami.”
Pilihan Editor: Rumit Mengubah Subsidi Kereta


















