Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Jalur Kereta Api Pekalongan–Sragi Terdampak Banjir, Upaya Pemulihan dan Keselamatan Jadi Prioritas
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, melakukan peninjauan langsung terhadap jalur kereta api yang membentang antara Pekalongan dan Sragi, yang baru-baru ini terdampak oleh banjir parah akibat cuaca ekstrem. Kunjungan lapangan yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, ini memiliki tujuan ganda yang krusial: memastikan bahwa seluruh langkah penanganan darurat berjalan dengan cepat dan mencapai efektivitas maksimal, serta yang terpenting, menjamin bahwa keselamatan operasional perjalanan kereta api tetap menjadi prioritas utama dan tidak terkompromi. Laporan terkini menunjukkan bahwa sebagian besar operasional kereta api, tepatnya 85 persen, telah berhasil dipulihkan dan kembali berjalan sesuai jadwal normal, menandakan kemajuan signifikan dalam upaya pemulihan pasca-bencana.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah banjir yang melanda wilayah Jawa Tengah, khususnya dampak yang ditimbulkannya terhadap keselamatan masyarakat dan kelancaran sektor transportasi, dengan fokus utama pada operasional kereta api. Oleh karena itu, pada siang hari ini, saya secara pribadi meninjau langsung beberapa titik krusial di jalur kereta api yang masih tergenang oleh banjir. Berbagai langkah mitigasi dan penanganan telah dan sedang diimplementasikan, dan kami berkomitmen untuk terus melanjutkan upaya penanganan lanjutan hingga seluruh kondisi kembali normal sepenuhnya,” ujar Menhub Budi Karya Sumadi dalam keterangannya kepada awak media di lokasi peninjauan.
Koordinasi Lintas Sektor dan Langkah Teknis Operasional
Kementerian Perhubungan, melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian, telah menunjukkan respons yang sigap sejak awal kejadian banjir melanda. Koordinasi intensif dilakukan secara berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan vital, termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebagai operator utama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk pemantauan cuaca, serta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum setempat untuk dukungan logistik dan keamanan. Seluruh keputusan teknis yang berkaitan dengan operasional kereta api diambil dengan cepat dan terukur, dengan prinsip utama keselamatan penumpang dan petugas tidak boleh terabaikan sedikit pun. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap langkah yang diambil mempertimbangkan risiko dan dampak jangka panjang terhadap infrastruktur perkeretaapian.
Saat ini, kondisi jalur kereta api yang sebelumnya terdampak genangan air telah berangsur pulih dan memungkinkan dilaluinya kereta api, meskipun dengan pengaturan operasional yang sangat khusus. Untuk meminimalkan risiko dan memastikan keselamatan, kebijakan pembatasan kecepatan diberlakukan secara ketat. Kecepatan maksimal 40 kilometer per jam diterapkan pada jalur yang berada di sisi hulu, sementara pada jalur hilir, kecepatan dibatasi hingga maksimal 30 kilometer per jam. Pembatasan ini merupakan langkah preventif yang sangat penting guna menghindari potensi kecelakaan akibat kondisi jalur yang belum sepenuhnya kering atau stabil.
“Demi menjamin keselamatan seluruh penumpang dan kru kereta api, kami telah mengambil keputusan untuk menerapkan pembatasan kecepatan di jalur-jalur yang masih terindikasi adanya genangan air. Konsekuensinya, memang masih terjadi sedikit keterlambatan dalam jadwal perjalanan kereta api sebagai akibat dari pengurangan kecepatan operasional ini. Namun, berdasarkan data terkini yang kami terima dari KAI, sekitar 85 persen dari total perjalanan kereta api telah berhasil dipulihkan dan berjalan secara normal. Sementara itu, 15 persen sisanya masih mengalami penyesuaian jadwal atau keterlambatan,” jelas Menhub Budi Karya Sumadi lebih lanjut mengenai kondisi operasional terkini.
Dampak Banjir dan Upaya Pemulihan oleh KAI
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, memaparkan secara rinci dampak banjir yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa periode antara tanggal 16 hingga 19 Januari 2026 menjadi waktu paling kritis, di mana dua titik utama di wilayah Pekalongan mengalami genangan air yang signifikan. Akibatnya, sebanyak 124 jadwal perjalanan kereta api penumpang terpaksa dibatalkan demi keselamatan dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sarana dan prasarana. Keputusan pembatalan ini diambil setelah melalui kajian mendalam terhadap tingkat keparahan genangan dan potensi risiko yang dihadapi.
Menanggapi pembatalan tersebut, KAI telah menerapkan kebijakan kompensasi yang berpihak kepada penumpang. “KAI berkomitmen penuh untuk memberikan pengembalian bea tiket sebesar 100 persen bagi seluruh pelanggan yang perjalanannya terdampak oleh pembatalan. Batas waktu pengajuan klaim pengembalian bea tiket adalah hingga tujuh hari kalender setelah tanggal perjalanan yang dibatalkan. Saat ini, proses pengembalian dana atau refund telah berjalan lancar dan telah dimanfaatkan oleh sebagian besar pelanggan yang terdampak,” ungkap Bobby Rasyidin, menegaskan upaya KAI dalam menjaga kepercayaan pelanggan.
Selain mekanisme pengembalian dana, KAI juga mengimplementasikan program service recovery bagi para penumpang yang perjalanannya mengalami keterlambatan akibat banjir dan penyesuaian operasional. Program ini mencakup berbagai bentuk kompensasi dan layanan tambahan untuk meminimalkan ketidaknyamanan yang dialami penumpang. Di sisi lain, upaya operation recovery terus digalakkan untuk memulihkan keandalan dan kekuatan infrastruktur perkeretaapian yang terdampak, memastikan operasional dapat kembali normal secepatnya.
Dalam rangka penanganan darurat dan pemulihan jangka panjang, KAI telah mengambil langkah konkret dengan melakukan peninggian jalur rel di beberapa titik kritis. Peninggian awal setinggi 23 sentimeter telah berhasil dilakukan. Lebih lanjut, KAI berencana untuk melanjutkan pekerjaan penguatan infrastruktur dengan target peninggian rel hingga mencapai ketinggian maksimal 50 sentimeter, yang akan diterapkan sepanjang kurang lebih 600 meter. Pekerjaan ini juga mencakup penyesuaian struktur jembatan dan area emplasemen yang sebelumnya teridentifikasi mengalami penurunan atau cekungan akibat dampak banjir.
Monitoring Berkelanjutan dan Pemeriksaan Menyeluruh
Kementerian Perhubungan menegaskan komitmennya untuk terus melakukan monitoring intensif selama 24 jam penuh terhadap kondisi jalur rel kereta api dan perkembangan cuaca di wilayah terdampak. Tim khusus yang terdiri dari para ahli di bidang prasarana dan sarana perkeretaapian telah dikerahkan ke lokasi. Tugas mereka tidak hanya terbatas pada pemantauan, tetapi juga mencakup upaya aktif dalam menurunkan ketinggian air di jalur rel dan membersihkan material banjir yang menumpuk, seperti lumpur, sampah, dan puing-puing. Selain itu, pemeriksaan menyeluruh terhadap integritas konstruksi rel, bantalan rel, dan struktur jembatan dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada kerusakan tersembunyi yang dapat membahayakan keselamatan perjalanan kereta api di masa mendatang.
Dalam kunjungan peninjauan lapangan tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Direktur Jenderal Perkeretaapian, Allan Tandiono, dan Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana dan memulihkan kembali layanan transportasi kereta api yang vital bagi masyarakat.


















