KABUPATEN TANGERANG – Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Dudy Purwagandhi, secara resmi meresmikan operasional Stasiun Jatake yang berlokasi strategis di Desa Jatake, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada Rabu, 28 Januari 2026. Kehadiran stasiun baru di lintas Commuter Line Green Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung ini menjadi tonggak sejarah baru dalam pengembangan infrastruktur transportasi publik berbasis rel di kawasan penyangga Jakarta. Dengan mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD), Stasiun Jatake diproyeksikan mampu melayani hingga 20.000 penumpang setiap harinya, sekaligus menjadi jawaban konkret atas meningkatnya kebutuhan mobilitas warga di kawasan Serpong, BSD City, dan sekitarnya yang terus berkembang pesat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Langkah ini diambil pemerintah untuk memperkuat konektivitas antarwilayah serta memberikan alternatif transportasi yang lebih efisien, nyaman, dan terintegrasi bagi masyarakat luas.
Pembangunan Stasiun Jatake merupakan bagian dari strategi jangka panjang Kementerian Perhubungan untuk menjawab tantangan urbanisasi dan kepadatan penduduk yang terus meningkat di wilayah barat Jakarta. Dalam sambutannya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa stasiun ini dirancang untuk mengakomodasi dinamika masyarakat yang memerlukan aksesibilitas tinggi menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi. Lokasi stasiun yang berada di antara Stasiun Cicayur dan Stasiun Parung Panjang menjadikannya titik krusial dalam memecah penumpukan penumpang yang selama ini terkonsentrasi di beberapa titik tertentu. Dengan adanya Stasiun Jatake, diharapkan beban operasional stasiun-stasiun tetangga dapat terdistribusi secara lebih merata, sehingga kenyamanan pengguna jasa KRL Commuter Line tetap terjaga di tengah tren kenaikan jumlah penumpang harian secara signifikan.
Modernisasi Infrastruktur: Spesifikasi Teknis dan Kapasitas Operasional Stasiun Jatake
Secara arsitektural dan fungsional, Stasiun Jatake dibangun dengan standar modern yang mengutamakan kenyamanan serta aksesibilitas bagi seluruh golongan penumpang, termasuk penyandang disabilitas. Bangunan stasiun ini terdiri dari tiga lantai yang megah dengan total luas bangunan mencapai 3.198 meter persegi. Area peron yang luasnya mencapai 300 meter persegi dirancang untuk menampung volume penumpang dalam jumlah besar tanpa menimbulkan kesan sesak. Fasilitas pendukung seperti eskalator, lift, ruang laktasi, serta area komersial juga telah disiapkan untuk menunjang pengalaman perjalanan penumpang. Kapasitas layanan yang dipatok mencapai 20.000 orang per hari menunjukkan optimisme pemerintah bahwa stasiun ini akan menjadi salah satu hub transportasi tersibuk di wilayah Kabupaten Tangerang dalam waktu dekat.
Dari sisi operasional, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) telah mengatur jadwal perjalanan yang sangat kompetitif guna memastikan efisiensi waktu bagi para komuter. Total frekuensi perjalanan harian yang akan melintasi dan berhenti di Stasiun Jatake mencapai 192 perjalanan, mencakup rute pulang-pergi dari Tanah Abang menuju Rangkasbitung. Keunggulan utama dari layanan di stasiun ini adalah waktu tunggu atau headway yang sangat singkat, yakni berkisar antara 5 hingga 10 menit pada jam-jam sibuk. Direktur Utama PT KCI, Mochamad, menyatakan bahwa pengaturan jadwal ini telah disinkronkan dengan pola pergerakan penumpang di lintas Green Line agar tidak terjadi penumpukan di peron. Kehadiran stasiun ini juga diharapkan menjadi solusi bagi warga Kecamatan Pagedangan yang sebelumnya harus menempuh jarak cukup jauh untuk mencapai stasiun terdekat.
Sinergi Strategis: Model Pembiayaan Kreatif Tanpa Beban APBN
Salah satu aspek yang paling menonjol dari proyek Stasiun Jatake adalah model pembiayaannya yang inovatif. Menteri Perhubungan mengungkapkan bahwa pembangunan stasiun ini dilakukan sepenuhnya melalui skema kolaborasi antara pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemerintah daerah, dan sektor swasta tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Proyek ini merupakan hasil kerja sama strategis antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan pengembang properti terkemuka, PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land). Skema creative financing ini menjadi preseden positif bagi pembangunan infrastruktur transportasi di masa depan, di mana sektor swasta turut berperan aktif dalam menyediakan fasilitas publik yang bermanfaat bagi pengembangan kawasan residensial dan komersial mereka.
Menteri Dudy Purwagandhi memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam mewujudkan proyek ini. Menurutnya, kolaborasi ini membuktikan bahwa keterbatasan anggaran negara bukan menjadi penghalang bagi percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Dengan melibatkan pengembang swasta, pembangunan stasiun dapat diselaraskan dengan tata ruang kawasan hunian yang ada di sekitarnya, sehingga menciptakan ekosistem transportasi yang terintegrasi secara organik. “Ini adalah bentuk nyata dari sinergi yang saling menguntungkan, di mana pemerintah menyediakan regulasi dan operator, sementara swasta berkontribusi dalam pembangunan fisik demi kepentingan masyarakat luas,” tambah Dudy dalam sesi peresmian tersebut.
Keberadaan Stasiun Jatake juga memiliki misi krusial untuk mengurangi beban kepadatan yang selama ini dialami oleh Stasiun Rawabuntu dan Stasiun Cisauk. Kedua stasiun tersebut telah lama mengalami lonjakan penumpang yang luar biasa seiring dengan pesatnya pembangunan perumahan di wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Dengan adanya alternatif pemberhentian baru di Jatake, masyarakat yang tinggal di wilayah Pagedangan dan sekitarnya tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh ke Rawabuntu atau Cisauk, yang secara otomatis akan mengurangi kemacetan di jalan-jalan akses menuju stasiun-stasiun lama tersebut. Hal ini diprediksi akan meningkatkan efisiensi waktu tempuh masyarakat secara keseluruhan dan mengurangi tingkat stres akibat kemacetan lalu lintas darat.
Lebih jauh lagi, peresmian Stasiun Jatake merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk mendorong transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Dengan memperkuat perkeretaapian sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat, pemerintah optimis dapat mendorong lebih banyak pemilik kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan transportasi massal. Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya secara langsung akan berdampak pada penurunan polusi udara dan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil. Stasiun Jatake, dengan segala fasilitas modern dan kemudahan aksesnya, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik transportasi publik bagi kalangan menengah ke atas, sehingga target pemerintah dalam menciptakan sistem transportasi berkelanjutan dapat segera tercapai demi pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih hijau dan inklusif.


















