1. Filosofi Keberuntungan di Balik Mitos Lucky Seven dan Semanggi Berdaun Empat
Dalam perjalanan kariernya yang gemilang, Cha Mu Hee sering kali dianggap sebagai sosok yang memiliki segalanya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia menyimpan keinginan sederhana yang sangat personal. Saat berada di Kanada, fokus utamanya bukan hanya menyelesaikan syuting dengan sempurna, melainkan sebuah ambisi spiritual untuk menyaksikan fenomena alam aurora borealis. Keinginan ini tidak muncul tanpa alasan; ia ingin berbagi momen magis tersebut bersama pria yang mulai mengisi ruang di hatinya, Joo Ho Jin. Menyadari bahwa aurora adalah fenomena alam yang sangat langka dan kemunculannya tidak bisa diprediksi secara pasti, Mu Hee memutuskan untuk bersandar pada sebuah tradisi kuno yang ia temui di sana.
Ia mulai terobsesi untuk mencari dan mengumpulkan daun semanggi berdaun empat (four-leaf clover). Secara universal, tanaman ini dikenal sebagai simbol keberuntungan yang sangat kuat karena kelangkaannya di alam bebas. Secara mendalam, setiap helai dari empat daun tersebut membawa makna filosofis yang berbeda: daun pertama melambangkan kepercayaan (faith), daun kedua melambangkan harapan (hope), daun ketiga melambangkan cinta (love), dan daun keempat adalah representasi dari keberuntungan murni (luck). Cha Mu Hee mengintegrasikan kepercayaan ini dengan konsep lucky seven, sebuah angka yang dalam banyak budaya dianggap sebagai angka suci yang membawa berkah luar biasa.
Keyakinan Mu Hee begitu kuat sehingga ia rela menghabiskan waktu luangnya di tengah jadwal syuting yang padat untuk menyisir padang rumput di Kanada. Ia percaya bahwa jika ia berhasil mengumpulkan tepat tujuh helai daun semanggi berdaun empat, semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkan harapannya melihat aurora bersama Joo Ho Jin. Tindakan ini mencerminkan sisi polos Mu Hee yang percaya bahwa usaha keras dalam mencari simbol keberuntungan dapat mengubah takdir cintanya yang selama ini terasa sulit untuk diterjemahkan.
2. Larangan Berjalan di Bawah Tangga: Antara Tabu Budaya dan Manifestasi Sial
Interaksi antara Cha Mu Hee dan Joo Ho Jin berkembang melampaui hubungan profesional antara aktris dan penerjemah. Di sela-sela kesibukan produksi film, Joo Ho Jin mencoba mengakrabkan diri dengan mengajak Mu Hee mengunjungi sebuah pasar tani lokal (farmers market) untuk berbelanja bahan makanan segar. Di tempat yang dipenuhi hiruk-pikuk warga lokal tersebut, sebuah insiden kecil terjadi yang memicu ketakutan irasional dalam diri Mu Hee. Saat sedang asyik memilih produk, ia hampir saja melangkah melewati bagian bawah sebuah tangga lipat yang sedang digunakan oleh pekerja di sana. Seorang warga lokal paruh baya dengan sigap memperingatkannya untuk tidak melakukan hal tersebut.
Dalam sejarah kebudayaan Barat, berjalan di bawah tangga dianggap sebagai tindakan tabu yang sangat dihindari. Secara simbolis, tangga yang bersandar membentuk segitiga, yang dalam banyak tradisi dianggap mewakili Tritunggal Kudus; merusak bentuk segitiga tersebut dengan berjalan di bawahnya dianggap sebagai penodaan yang akan mendatangkan nasib buruk. Bagi Cha Mu Hee yang sedang dalam kondisi emosional yang rentan, peringatan ini membekas sangat dalam. Ketakutannya akan nasib sial segera menemukan bentuknya ketika ia secara tidak sengaja memergoki Joo Ho Jin sedang melakukan pertemuan rahasia dengan Shin Ji Sun, yang diperankan oleh Lee E Dam.
Kehadiran Shin Ji Sun di Kanada ternyata membawa misi profesional, yakni menggantikan posisi produser Kim Jeong Su (Lim Chul Soo) yang terpaksa pulang ke Korea Selatan karena keadaan darurat pribadi. Meskipun pertemuan tersebut murni demi kelancaran proyek Romantic Trip, Cha Mu Hee tidak bisa membendung rasa cemburu yang membakar hatinya. Ia langsung menghubungkan kejadian menyakitkan tersebut dengan insiden tangga di pasar tadi. Dalam logikanya yang sedang kalut, kehadiran Shin Ji Sun—yang ia ketahui sebagai wanita yang pernah memiliki tempat spesial di hati Ho Jin—adalah bentuk “kutukan” atau nasib sial yang nyata akibat ia hampir melanggar mitos berjalan di bawah tangga.
3. Kekuatan Ucapan: Mitos Menyumpahi dan Konsekuensi Fatalistik
Konflik batin dalam drama ini mencapai puncaknya ketika terungkap bahwa Joo Ho Jin memendam perasaan yang sangat rumit terhadap Shin Ji Sun. Yang lebih tragis, Shin Ji Sun ternyata adalah kekasih dari kakak kandung Joo Ho Jin sendiri. Beban moral dan perasaan yang tak tersampaikan ini membuat Ho Jin menutup diri dari kemungkinan cinta baru, termasuk perasaan tulus yang ditunjukkan oleh Cha Mu Hee. Merasa diabaikan dan frustrasi karena cintanya bertepuk sebelah tangan, Mu Hee yang biasanya ceria berubah menjadi sosok yang penuh amarah. Dalam sebuah konfrontasi emosional, ia melontarkan sumpah serapah yang cukup ekstrem kepada Ho Jin.
Cha Mu Hee menyumpahi bahwa jika Joo Ho Jin tetap bersikeras mengejar bayang-bayang Shin Ji Sun, maka biarlah perasaan itu tumbuh hingga akhirnya “membunuh” dirinya sendiri secara perlahan. Kata-kata ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah manifestasi dari mitos bahwa ucapan buruk atau sumpah serapah dapat menjadi kenyataan jika diucapkan dengan intensitas perasaan yang tinggi. Ketakutan Mu Hee menjadi nyata ketika keesokan harinya, Joo Ho Jin terlibat dalam sebuah kecelakaan yang cukup serius. Meskipun secara ajaib ia berhasil selamat tanpa luka fisik yang berarti, insiden tersebut mengguncang psikologis Mu Hee secara hebat.

















