Dalam lanskap fesyen urban yang terus bergejolak, Generasi Z (Gen Z) tidak lagi memandang sepatu sekadar sebagai alas kaki, melainkan sebagai ekstensi esensial dari identitas personal dan ekspresi diri. Pergeseran paradigma ini, yang menekankan keseimbangan antara estetika, fungsi, dan kenyamanan, menjadi sorotan utama dalam peluncuran inovatif ASICS GEL-NYC™ 2.0 Pop Up Experience pada 12 Februari 2026 di Urban Forest Jakarta. Acara ini, yang berlangsung hingga 15 Februari 2026, tidak hanya memperkenalkan koleksi terbaru dari ASICS Sportstyle Indonesia, tetapi juga berfungsi sebagai “laboratorium informal” yang dirancang untuk merangkul dan memahami dinamika gaya hidup Gen Z yang serba cepat, digital-native, dan sangat terhubung dengan komunitas.
Jennifer Japoetra, Product Merchandiser ASICS Sportstyle Indonesia, menegaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki pendekatan yang jauh lebih holistik dalam memilih alas kaki. Mereka tidak hanya terpikat oleh desain yang menarik secara visual, tetapi juga secara cermat mempertimbangkan bagaimana sepatu tersebut dapat mendukung mobilitas tinggi dan beragam aktivitas harian mereka. Dengan jadwal yang padat, mulai dari berjalan kaki jarak jauh, memanfaatkan transportasi publik yang efisien, hingga berpindah dari satu kegiatan sosial ke kegiatan kreatif lainnya, kebutuhan akan sepatu yang menawarkan kenyamanan superior menjadi prioritas mutlak. “Sekarang anak muda mencari sesuatu yang bisa mereka pakai dari pagi sampai malam,” jelas Jennifer, menyoroti keinginan Gen Z untuk memiliki alas kaki serbaguna yang mampu menjaga kenyamanan sepanjang hari tanpa mengorbankan karakter gaya yang kuat. Data dari Jakpat, sebagaimana dikutip oleh GoodStats, bahkan menunjukkan bahwa kenyamanan menjadi prioritas utama bagi 76% Gen Z dalam memilih pakaian, sebuah angka yang menggarisbawahi pentingnya aspek ini dalam keputusan pembelian mereka.
Lebih jauh, Jennifer menyoroti bagaimana karakteristik Gen Z sebagai generasi digital turut membentuk ekspektasi mereka terhadap produk. Kemudahan akses terhadap informasi di era digital telah menjadikan mereka konsumen yang sangat kritis. Mereka memiliki kemampuan untuk menelaah secara mendalam teknologi yang digunakan, material yang dipakai, hingga standar kualitas suatu produk. Pengetahuan yang mendalam ini membuat mereka memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap inovasi dan performa, mendorong merek untuk tidak hanya menawarkan gaya, tetapi juga substansi dan nilai lebih. Sepatu tidak lagi hanya menjadi aksesori, melainkan investasi dalam kenyamanan, durabilitas, dan performa yang mendukung gaya hidup aktif mereka.
Kebangkitan Estetika Retro dan Kekuatan Komunitas
Di tengah evolusi preferensi ini, tren nostalgia turut mengambil peran penting dalam membentuk arah gaya urban kontemporer. Anindita Sosrodimulyo, Marketing Lead ASICS Sportstyle Indonesia, mengamati bahwa siklus fesyen yang terus berulang secara intrinsik membawa desain-desain retro kembali ke permukaan, dan kali ini, mendapatkan tempat istimewa di hati generasi baru. Estetika masa lalu, dengan segala kekhasannya, menawarkan daya tarik unik; ia menghadirkan rasa familiar yang menenangkan sekaligus sensasi kebaruan saat diinterpretasikan ulang dalam konteks modern. “Fashion itu sering berputar. Anak muda sekarang justru menemukan kembali desain lama dan menggunakannya dengan cara baru,” ujar Anindita. Fenomena ini tercermin dalam popularitas sepatu olahraga klasik yang kini kembali digemari, memadukan desain ikonik dengan teknologi kenyamanan terkini, seperti yang banyak dicari oleh Gen Z yang menginginkan sepatu “kekinian, nyaman, dan kini mulai ramah lingkungan” serta “keren, nyaman, dan cocok dipakai di segala suasana,” sebagaimana diulas oleh beberapa publikasi tren.
Pendekatan berbasis komunitas juga menjadi elemen krusial yang ditekankan oleh ASICS dalam pengalaman merek mereka. Anindita menjelaskan bahwa subkultur urban, seperti seni jalanan (street art), musik, hingga berbagai komunitas kreatif, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk arah dan dinamika gaya hidup perkotaan. Sportstyle, pada hakikatnya, lahir dan berkembang dari interaksi serta ekspresi dalam komunitas-komunitas ini. Oleh karena itu, bagi ASICS, menjadi sangat penting untuk menciptakan dan menghadirkan ruang yang memungkinkan para anggota komunitas ini untuk berekspresi secara otentik dan berinteraksi secara langsung. Ini bukan sekadar tentang menjual produk, melainkan membangun koneksi yang mendalam dengan audiens melalui pengalaman bersama.
ASICS GEL-NYC™ 2.0: Laboratorium Urban untuk Ekspresi Diri
Pergeseran ini juga selaras dengan evolusi budaya “tongkrongan” di Jakarta. Jika di masa lalu tongkrongan identik dengan sekadar tempat berkumpul santai, kini ia telah bertransformasi menjadi ruang eksplorasi identitas, inkubator kreativitas, dan arena eksperimen gaya hidup urban. Perubahan ini terlihat jelas dari semakin banyaknya ruang publik dan aktivasi gaya hidup yang menempatkan komunitas sebagai pusat pengalaman, bukan hanya sebagai audiens pasif. ASICS Sportstyle Indonesia merespons dinamika ini dengan mengundang berbagai komunitas dan masyarakat umum untuk mencoba pop-up experience bertajuk “laboratorium informal” yang digelar di Urban Forest Jakarta. Konsep ini secara cerdas mencoba menangkap esensi dinamika subkultur yang lahir dari interaksi sehari-hari, mulai dari obrolan santai yang memicu ide, kolaborasi spontan antar individu, hingga pertukaran gagasan yang kaya antar komunitas kreatif.
Pop-up experience ini menghadirkan tiga booth interaktif berkonsep laboratorium urban yang dirancang sebagai ruang eksplorasi. Pengunjung tidak hanya memiliki kesempatan eksklusif untuk mencoba dan merasakan langsung sepatu ASICS GEL-NYC™ 2.0 yang inovatif, tetapi juga diajak untuk terlibat dalam berbagai instalasi dan aktivitas yang dirancang untuk menjaga mereka tetap aktif dan terinspirasi. Ini melampaui sekadar pameran koleksi terbaru; pengunjung diajak untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan seperti workshop grafiti yang mengasah kreativitas visual, lyric writing yang memicu ekspresi verbal, walking tour yang mengajak eksplorasi urban, hingga menikmati penampilan musik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem kreatif perkotaan.
Aktivitas-aktivitas seperti workshop grafiti dan lyric writing secara spesifik dipilih sebagai representasi kuat dari berbagai subkultur yang memiliki peran fundamental dalam membentuk identitas urban yang kaya dan beragam. Kehadiran komunitas Bboy, yang dikenal dengan energi dan ekspresi geraknya, serta penampilan musisi berbakat, semakin memperkuat suasana kolaboratif dan inklusif yang menjadi inti dari pengalaman ASICS GEL-NYC™ 2.0 ini. Melalui pendekatan ini, ASICS tidak hanya meluncurkan produk, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai merek yang memahami, merayakan, dan secara aktif berkontribusi pada budaya urban yang dinamis, menempatkan Gen Z sebagai pusat inovasi dan ekspresi.
Pilihan Editor: Olahraga Bisa Jadi Cara Penting Berdayakan Masyarakat
GHAEIZA KAY RASUFFI

















