Sebuah inisiatif global yang berfokus pada pelestarian ekosistem mangrove, Mangrove Impact Fellowship 2026, telah berhasil menyatukan 14 peserta internasional dari berbagai belahan dunia, termasuk Inggris, Gambia, Ghana, Vietnam, India, Pakistan, Bangladesh, Prancis, Indonesia, Maroko, dan Myanmar. Selama sepekan penuh di Indonesia, para peserta yang berusia antara 18 hingga 35 tahun ini tidak hanya mendalami seluk-beluk ekosistem mangrove, tetapi juga secara langsung merasakan ketahanan pesisir dan pentingnya kolaborasi global dalam upaya konservasi. Acara ini, yang diselenggarakan dengan tujuan mulia untuk mendorong aksi nyata dalam restorasi dan pelestarian mangrove, menyoroti peran krusial generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan global yang semakin mendesak. Melalui berbagai kegiatan edukatif dan praktik langsung, fellowship ini bertujuan untuk membina pemimpin lingkungan masa depan yang siap membawa perubahan signifikan di skala global.
Audrey Utoyo, seorang Jurnalis Berita Internasional dari WORLD TVRI, mengungkapkan rasa antusiasme dan kegembiraannya atas kesempatan untuk mempelajari ekosistem mangrove di Indonesia secara mendalam. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas budaya memegang peranan sangat penting dalam mewujudkan konservasi global yang efektif. “Pentingnya membangun kemitraan internasional untuk mendukung tujuan konservasi jangka panjang,” ujar Audrey dalam sebuah pernyataan pers yang diterima Tempo pada tanggal 19 Februari 2026. Pernyataannya ini menggarisbawahi pandangannya mengenai perlunya sinergi antarnegara untuk mencapai target konservasi yang berkelanjutan. Di sisi lain, Aditi Jadhav dari Schiller International University Paris turut memberikan pandangan berharga mengenai integrasi praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda. Ia berpendapat, “Mengintegrasikan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari memperkaya pengalaman di fellowship ini.” Kedua peserta ini menjadi representasi nyata dari semangat kolaborasi dan kesadaran lingkungan yang dibawa oleh Mangrove Impact Fellowship 2026.
Peran Generasi Muda dalam Konservasi Mangrove Global
Mangrove Impact Fellowship 2026 secara tegas memposisikan generasi muda sebagai garda terdepan dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. Ketua penyelenggara fellowship, Paundra Hanutama, menjelaskan visi besar di balik inisiatif ini. “Kami percaya pada kekuatan pemuda, berbagi pengetahuan, dan tindakan untuk mewujudkan masa depan yang berkelanjutan bagi mangrove dan komunitas pesisir,” tegas Paundra. Ia menambahkan bahwa pelibatan anak muda tidak hanya akan memperkuat upaya konservasi di tingkat nasional, tetapi juga memberikan kesempatan berharga bagi mereka untuk merasakan secara langsung aplikasi nyata dari pariwisata berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. Pengalaman langsung ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap kelestarian alam. Lebih lanjut, Paundra juga menyatakan harapannya agar kegiatan ini dapat membina generasi baru pemimpin lingkungan yang siap memimpin perubahan dalam konservasi mangrove di seluruh dunia. “Kami bertujuan untuk terus membina generasi baru pemimpin lingkungan yang siap memimpin perubahan dalam konservasi mangrove di seluruh dunia,” pungkasnya, menegaskan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan kapasitas kepemimpinan lingkungan di kalangan pemuda.
Direktur Rehabilitasi Mangrove dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nikolas Nugroho, turut memberikan penekanan pada urgensi ekosistem mangrove dan menggarisbawahi tujuan kolaboratif yang ingin dicapai melalui program fellowship ini. Ekosistem mangrove memiliki peran yang sangat vital, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung padanya. Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Rasio Ridho Sani, sebelumnya juga sempat menyoroti pentingnya ekosistem pesisir saat menghadiri Bali Ocean Days (BOD) 2026 Conference dan Showcase di Bali pada akhir Januari 2026. Beliau mengingatkan bahwa tekanan terhadap lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan pencemaran plastik lintas negara menuntut adanya langkah-langkah perlindungan yang lebih sistematis terhadap ekosistem perairan. “Ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang, tidak hanya berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga menjadi penyangga ekonomi masyarakat melalui perikanan berkelanjutan, pariwisata bahari, serta cadangan karbon biru,” jelas Rasio Ridho, seraya menekankan bahwa implementasi ekonomi biru merupakan strategi fundamental dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
Kegiatan Edukatif dan Praktik Langsung di Lapangan
Para peserta Mangrove Impact Fellowship 2026 tidak hanya dibekali dengan teori, tetapi juga diajak untuk terlibat langsung dalam serangkaian kegiatan edukatif yang dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai ekosistem mangrove di Indonesia. Rangkaian kegiatan dimulai dengan lokakarya yang berfokus pada praktik-praktik berkelanjutan, di mana peserta mempelajari secara langsung praktik terbaik dalam konservasi lingkungan. Sesi ini memberikan wawasan teoritis yang kuat sebelum mereka terjun ke lapangan. Lebih dari sekadar teori, para peserta juga berpartisipasi aktif dalam kegiatan penanaman mangrove dan aktivitas monitoring di Kawasan Konservasi Pulau Tidung Kecil. Sesi-sesi luar ruangan ini dirancang secara khusus untuk memberikan pengalaman praktis yang tak ternilai, sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran dan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Pengalaman langsung ini menjadi kunci dalam membentuk pemahaman yang komprehensif dan menumbuhkan semangat aksi nyata di kalangan peserta.
Kepala Pusat Budidaya dan Konservasi Laut PBKL, Andi Dala Jemma, menyampaikan harapannya agar wadah seperti Mangrove Impact Fellowship ini dapat menjadi titik awal bagi generasi muda untuk bekerja sama dalam menjaga kelestarian lingkungan, bahkan melintasi batas-batas negara. Ia melihat potensi besar dalam kolaborasi internasional untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang bersifat global. Hal senada juga diungkapkan oleh Paundra Hanutama, yang berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada satu angkatan, tetapi dapat terus berlanjut untuk membina generasi pemimpin lingkungan yang siap memimpin perubahan di masa depan. Harapan ini sejalan dengan semangat yang diusung oleh berbagai pihak, termasuk BRGM yang secara aktif mengajak anak muda untuk peduli terhadap mangrove melalui program Youth Mangrove Action, serta Duta Mangrove Indonesia yang mengajak generasi muda menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim. Upaya-upaya kolaboratif seperti ini menjadi fondasi penting untuk memastikan keberlanjutan ekosistem mangrove dan lingkungan pesisir secara keseluruhan.

















