Di tengah ancaman pembalakan liar yang terus menggerus ekosistem pesisir di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, sebuah kolaborasi strategis lintas akademisi antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB) secara resmi meluncurkan inisiatif inovatif bertajuk Spacemangrove di Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan. Program yang merupakan akronim dari spatial and community-based ecotourism mangrove ini hadir sebagai solusi konkret untuk mengintegrasikan upaya konservasi lingkungan dengan pengembangan ekonomi kerakyatan melalui model ekowisata berbasis perahu motor. Diluncurkan pada Februari 2026, proyek ambisius ini bertujuan untuk memproteksi kawasan hutan bakau seluas hampir lima ribu hektare dari deforestasi, sekaligus mentransformasi masyarakat lokal menjadi garda terdepan dalam pengawasan hutan melalui aktivitas pariwisata berkelanjutan yang terukur secara digital.
Kawasan Desa Srinanti memiliki nilai ekologis yang sangat vital namun berada dalam kondisi rentan karena keterbatasan pengawasan fisik di lapangan. Berdasarkan laporan dari Kepala Desa Srinanti, Rusmini, wilayahnya saat ini memegang tanggung jawab besar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan untuk mengelola hutan mangrove seluas 4.985 hektare. Namun, luasnya lahan tersebut menjadi celah bagi para pelaku pembalakan liar (illegal logging) yang mengeksploitasi kayu mangrove secara ilegal. Menanggapi urgensi tersebut, tim pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Prima Roza, dengan anggota tenaga ahli seperti Esa Fajar H. dan Miga Magenika Julian, serta didukung oleh mahasiswa berprestasi seperti Desvi Prasanti, Wulan Larisa Olivia, Alena Cansery, dan Ichsan Siroj, melakukan intervensi saintifik. Mereka meyakini bahwa pendekatan teknologi spasial yang dipadukan dengan partisipasi aktif komunitas adalah kunci utama dalam meredam laju kerusakan hutan bakau di wilayah beranda terdepan Indonesia tersebut.
Metodologi Spacemangrove: Integrasi Teknologi Spasial dan Kontrol Sosial
Implementasi model Spacemangrove dilakukan melalui pendekatan sistematis yang terbagi ke dalam tiga fase utama untuk memastikan keberlanjutan program. Fase pertama difokuskan pada penguatan landasan sosial dan legalitas wilayah melalui Focus Group Discussion (FGD). Dalam tahapan ini, tim ahli melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk menyusun kesepakatan mengenai batas delineasi kawasan konservasi. Langkah ini sangat krusial guna menghindari konflik tumpang tindih lahan dengan kepentingan pihak lain di masa depan. Dengan adanya batas yang jelas dan disepakati secara kolektif, masyarakat memiliki dasar hukum dan sosial yang kuat untuk mempertahankan wilayah mangrove mereka dari klaim sepihak maupun aktivitas destruktif.
Memasuki tahap kedua, tim melakukan eksplorasi teknis mendalam dengan melakukan survei lapangan sejauh 16 kilometer menyusuri rute hutan bakau yang potensial untuk dijadikan jalur wisata. Keunggulan dari fase ini adalah penggunaan teknologi mutakhir seperti Global Positioning System (GPS) untuk melakukan geotagging terhadap berbagai spesies flora dan fauna endemik. Salah satu fokus utama pemetaan adalah identifikasi habitat bekantan (Nasalis larvatus), primata hidung panjang yang menjadi ikon konservasi Kalimantan. Selain itu, tim menerjunkan unit drone untuk melakukan pemetaan udara guna mendapatkan gambaran topografi yang presisi serta memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi untuk melakukan estimasi cadangan karbon (carbon stock) yang tersimpan di kawasan tersebut. Seluruh data spasial yang terkumpul kemudian diolah dan diintegrasikan ke dalam platform WebGIS, sebuah sistem informasi geografis berbasis web yang dapat diakses oleh publik secara transparan, memungkinkan dunia internasional memantau kondisi kesehatan hutan mangrove di Srinanti secara real-time.
Pemberdayaan Generasi Muda dan Digitalisasi Ekowisata
Strategi keberlanjutan Spacemangrove tidak hanya berhenti pada pemetaan teknis, tetapi juga menyasar pada penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal melalui tahap ketiga, yaitu pemberdayaan pemuda desa. Tim memberikan penyuluhan intensif dan pelatihan teknis mengenai pembuatan konten digital yang mencakup teknik pengambilan video sinematik hingga proses penyuntingan dasar. Tujuannya adalah agar para pemuda Desa Srinanti mampu mempromosikan potensi ekowisata mereka secara mandiri melalui platform media sosial, sehingga menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan tumbuhnya sektor pariwisata, aktivitas perahu motor yang mengangkut wisatawan secara rutin akan berfungsi sebagai bentuk “kontrol sosial” alami. Kehadiran manusia di jalur-jalur wisata secara tidak langsung akan mempersempit ruang gerak para pembalak liar, karena pengawasan kini dilakukan oleh masyarakat yang memiliki kepentingan ekonomi langsung terhadap kelestarian hutan tersebut.
Esa Fajar, salah satu anggota tim peneliti, menekankan bahwa integrasi antara ekonomi dan ekologi ini adalah cara paling efektif untuk menjaga hutan di daerah terpencil. Dengan menjadikan hutan sebagai aset wisata yang menghasilkan pendapatan, warga tidak lagi melihat mangrove sebagai sekadar kayu yang bisa ditebang, melainkan sebagai ekosistem berharga yang harus dijaga demi kelangsungan hidup jangka panjang. Proyek ini diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) bagi desa-desa pesisir lainnya di Kalimantan Utara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ancaman deforestasi. Melalui platform WebGIS yang sedang dikembangkan, Desa Srinanti kini melangkah menuju era desa digital yang mampu menyandingkan kecanggihan teknologi informasi dengan kearifan lokal dalam menjaga paru-paru dunia.
Berikut adalah ringkasan tahapan transformasi Desa Srinanti melalui program Spacemangrove:
| Tahapan Proyek | Aktivitas Utama | Output yang Dihasilkan |
|---|---|---|
| Tahap I: Konsolidasi | FGD dengan tokoh masyarakat & akademisi (UBT) | Kesepakatan batas delineasi kawasan konservasi |
| Tahap II: Digitalisasi | Survei 16 km, Geotagging GPS, Drone, & Citra Satelit | Platform WebGIS & Estimasi cadangan karbon |
| Tahap III: Edukasi | Pelatihan konten digital & manajemen ekowisata | Kemandirian promosi desa & kontrol sosial anti-pembalakan |
Keberhasilan kolaborasi antara ITB dan Universitas Brawijaya ini membuktikan bahwa sinergi akademisi dapat memberikan dampak instan pada kebijakan di tingkat tapak. Dengan dukungan teknologi spasial, Desa Srinanti kini tidak hanya memiliki peta wilayah yang akurat, tetapi juga memiliki visi baru sebagai destinasi ekowisata unggulan di Kalimantan Utara. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen besar institusi pendidikan tinggi dalam mendukung target pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission melalui perlindungan ekosistem mangrove yang merupakan penyerap karbon paling efektif di planet bumi.

















