Sebuah insiden lingkungan yang menggemparkan telah mencengkeram perhatian publik dan memicu kekhawatiran serius di sepanjang aliran Sungai Cisadane. Pada Senin, 9 Februari 2026, sebuah **kebakaran dahsyat melanda gudang distributor pestisida** yang berlokasi di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Peristiwa tragis ini, yang diduga melepaskan sejumlah besar **limbah kimia berbahaya** ke dalam sistem perairan vital tersebut, tidak hanya memicu keresahan mendalam di kalangan warga akibat bau menyengat dan perubahan warna air, tetapi juga menyebabkan kematian massal ikan serta mengancam **pasokan air bersih** bagi ratusan ribu pelanggan PDAM di wilayah tersebut. Skala pencemaran ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari berbagai pihak, menggarisbawahi kerentanan ekosistem sungai terhadap ancaman industri.
Dampak Langsung dan Keresahan Warga di Tepi Cisadane
Pencemaran Sungai Cisadane segera menunjukkan dampaknya yang mengerikan. Air sungai, yang sebelumnya menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat dan ekosistem lokal, mengalami perubahan drastis. Laporan dari warga sekitar menyebutkan bahwa air sungai sempat berubah warna menjadi putih pekat dan mengeluarkan aroma yang sangat tidak sedap, menyerupai bau bahan bakar yang menyengat. Fenomena ini diperparah dengan munculnya busa tebal di permukaan air, sebuah indikator kuat adanya kontaminasi zat kimia.
Keresahan warga mencapai puncaknya ketika mereka menyaksikan pemandangan memilukan: ikan-ikan di Sungai Cisadane mulai menunjukkan perilaku tidak normal, sebagian besar tampak “mabuk” atau terintoksikasi, berenang tak beraturan, sebelum akhirnya mati dan mengapung di permukaan air. Kematian ikan secara massal ini bukan hanya kerugian ekologis, tetapi juga menghilangkan sumber protein dan mata pencarian bagi sebagian masyarakat yang bergantung pada sungai.

















