Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) secara resmi mengumumkan penutupan sementara seluruh aktivitas pendakian di gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut mulai 24 Januari 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk mitigasi terhadap kondisi cuaca ekstrem yang melanda kawasan puncak serta upaya sistematis untuk pemulihan ekosistem alami di kawasan konservasi tersebut. Penutupan ini mencakup berbagai jalur resmi yang tersebar di wilayah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, guna menjamin keselamatan para pendaki dari risiko kecelakaan akibat cuaca buruk serta memberikan ruang bagi flora dan fauna endemik untuk beregenerasi tanpa gangguan aktivitas manusia. Keputusan ini menjadi perhatian serius bagi komunitas pecinta alam mengingat Gunung Ciremai merupakan destinasi favorit yang memiliki daya tarik luar biasa namun juga menyimpan tantangan fisik yang berat, terutama saat musim penghujan mencapai puncaknya.
Humas, Promosi, dan Pemasaran dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Ady Sularso, dalam keterangan resminya pada Rabu, 28 Januari 2026, menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah hal yang mendadak, melainkan hasil evaluasi mendalam terhadap dinamika cuaca di lapangan. “Balai Taman Nasional Gunung Ciremai memutuskan untuk menutup sementara segala aktivitas wisata pendakian demi keamanan bersama,” tutur Ady. Landasan hukum dari kebijakan penutupan ini tertuang dalam pengumuman resmi dengan surat bernomor PG.03/T.33/TU/KSA/B/01/2026. Dokumen penting tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala BTNGC, Toni Anwar, yang menekankan bahwa aspek keselamatan nyawa pendaki adalah prioritas mutlak di atas target kunjungan wisata. Penutupan ini juga selaras dengan periode pemulihan ekosistem tahunan yang rutin dilakukan untuk menjaga stabilitas tanah dan kelestarian vegetasi di sepanjang jalur pendakian yang sering mengalami degradasi akibat intensitas kunjungan yang tinggi.
Detail Jadwal Penutupan dan Manajemen Jalur Pendakian
Ady Sularso menjelaskan lebih lanjut bahwa durasi penutupan sementara di Taman Nasional Gunung Ciremai tidak seragam untuk setiap jalur, melainkan disesuaikan dengan karakteristik geografis dan tingkat kerawanan masing-masing medan. Untuk jalur pendakian Apuy yang berlokasi di Kabupaten Majalengka, penutupan telah diberlakukan sejak 24 Januari 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 1 Februari 2026. Jalur yang dikenal sebagai rute paling ramah bagi pemula ini direncanakan akan dibuka kembali untuk umum pada tanggal 2 Februari 2026, dengan catatan kondisi cuaca telah dinyatakan kondusif oleh pihak otoritas terkait. Penutupan singkat di jalur Apuy ini diharapkan dapat memberikan waktu bagi petugas untuk melakukan pemeliharaan fasilitas pendukung di sepanjang rute tersebut.
Kondisi yang berbeda diterapkan untuk jalur pendakian Linggajati yang terletak di Kabupaten Kuningan. Mengingat medan di jalur ini dikenal memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi dengan kemiringan yang ekstrem, pihak BTNGC menetapkan masa penutupan yang jauh lebih lama. Jalur Linggajati resmi ditutup sejak 27 Januari 2026 dan tidak akan menerima pendaki hingga 20 Maret 2026. Reaktivasi jalur legendaris ini baru akan dilakukan pada 21 Maret 2026. Perbedaan durasi ini mencerminkan tingkat risiko keselamatan yang lebih besar di Linggajati, terutama ancaman badai dan jarak pandang yang sangat terbatas saat cuaca ekstrem melanda. “Sedangkan untuk seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai tanpa terkecuali, akan dilakukan penutupan total secara serentak mulai tanggal 20 Februari 2026 sampai dengan 20 Maret 2026, dan seluruhnya akan dibuka kembali secara kolektif pada 21 Maret 2026,” tambah Ady dalam penjelasannya yang mendetail.
Bagi para calon pendaki yang telah merencanakan perjalanan dan sudah melakukan proses booking secara online melalui sistem resmi BTNGC, pihak pengelola menghimbau agar tidak panik. Para pemegang kuota pendakian pada tanggal-tanggal penutupan tersebut diminta untuk segera melakukan konfirmasi kepada admin layanan pelanggan guna melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) atau penundaan waktu pendakian. Manajemen BTNGC berkomitmen untuk memfasilitasi perubahan jadwal ini tanpa merugikan pihak pendaki, asalkan proses konfirmasi dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa sistem administrasi tetap rapi meskipun terjadi perubahan jadwal operasional yang signifikan akibat faktor alam yang tidak terelakkan.
Eksplorasi Lima Jalur Utama dan Pesona Biodiversitas Ciremai
Gunung Ciremai, yang berdiri gagah dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl), secara administratif dapat didaki melalui lima jalur resmi yang masing-masing menawarkan karakteristik dan tantangan yang unik. Jalur-jalur tersebut adalah Palutungan, Linggajati, dan Linggasana yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kuningan, serta jalur Apuy dan Sadarehe yang berada di wilayah Kabupaten Majalengka. Setiap jalur memiliki pangsa pasar pendaki tersendiri, mulai dari mereka yang mengejar kecepatan waktu tempuh hingga para fotografer lanskap yang mencari sudut pandang estetis dari keanekaragaman hayati Jawa Barat.
Jalur Apuy tetap menjadi primadona dan pilihan utama bagi banyak pendaki, terutama mereka yang baru pertama kali mencoba menaklukkan puncak Ciremai. Keunggulan utama jalur ini adalah waktu tempuhnya yang relatif lebih singkat dibandingkan jalur lainnya. Selain itu, topografi jalur Apuy cenderung lebih landai dengan rute yang tertata, sehingga meminimalisir kelelahan fisik yang berlebihan. Selama perjalanan melalui jalur Apuy, pendaki akan disuguhi pemandangan eksotis berupa hamparan kebun sayur dan ladang penduduk lokal yang hijau dan asri, memberikan nuansa agrowisata yang kental sebelum memasuki kawasan hutan rimba yang lebih rapat.
Keindahan Edelweiss dan Savana di Jalur Sadarehe
Bagi para pendaki yang menginginkan pengalaman visual yang lebih dramatis, jalur Sadarehe di Kabupaten Majalengka adalah jawabannya. Jika pendakian dilakukan pada awal tahun setelah masa penutupan usai, pendaki memiliki peluang besar untuk menyaksikan hamparan bunga abadi, Edelweiss, yang tengah bermekaran dengan indahnya. Jalur Sadarehe juga menawarkan pemandangan padang savana yang sangat luas dan memukau, yang membentang di ketinggian sekitar 2.670 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berada di titik ini, pendaki dapat menikmati panorama matahari terbit (sunrise) dan matahari tenggelam (sunset) yang spektakuler tanpa terhalang oleh vegetasi tinggi, menjadikannya lokasi favorit untuk berkemah dan mengabadikan momen melalui lensa kamera.
Meskipun penutupan sementara ini membawa kekecewaan bagi sebagian pihak, BTNGC menegaskan bahwa pemulihan ekosistem adalah investasi jangka panjang. Selama masa penutupan, alam diberikan kesempatan untuk melakukan pemulihan secara mandiri (natural recovery). Tanah yang padat akibat injakan ribuan kaki pendaki akan kembali gembur, sumber mata air akan terisi kembali, dan satwa liar seperti elang jawa atau macan tutul yang menghuni kawasan tersebut dapat beraktivitas tanpa gangguan suara atau kehadiran manusia. Dengan demikian, ketika jalur dibuka kembali pada akhir Maret 2026, para pendaki akan disambut oleh kondisi alam yang lebih segar, bersih, dan asri, sekaligus memastikan bahwa Gunung Ciremai tetap menjadi warisan alam yang lestari bagi generasi mendatang.
Pihak Balai Taman Nasional juga mengingatkan bahwa selama masa penutupan, pengawasan di pintu-pintu masuk pendakian akan diperketat. Patroli rutin akan dilakukan oleh polisi hutan untuk mencegah adanya pendaki ilegal yang mencoba masuk melalui jalur-jalur tidak resmi (jalur tikus). Pelanggaran terhadap aturan penutupan ini dapat dikenakan sanksi tegas sesuai dengan undang-undang konservasi yang berlaku. Keselamatan pendaki dan kelestarian alam adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan penutupan sementara ini adalah jalan tengah terbaik untuk menjaga keseimbangan keduanya di tengah ancaman cuaca ekstrem yang sulit diprediksi.


















