Dalam upaya serius memerangi krisis polusi udara yang kerap menyelimuti ibu kota, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, telah melontarkan gagasan progresif untuk melakukan transisi signifikan dalam armada pengangkut sampah. Sebuah inisiatif ambisius diumumkan pada Selasa, 10 Februari 2026, di Jakarta Selatan, di mana Gubernur Pramono menyatakan kesiapannya untuk memulai pengadaan truk sampah berbasis listrik secara massal mulai tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap masukan warga terkait tingginya emisi dari ribuan truk sampah yang sebagian besar masih mengandalkan bahan bakar solar, sekaligus bertujuan untuk mengatasi permasalahan krusial seperti kebocoran air lindi yang mencemari lingkungan. Visi ini tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada peningkatan efisiensi operasional dan standar kebersihan kota secara menyeluruh.
Gubernur Pramono secara tegas menggarisbawahi urgensi perubahan ini, menyoroti kontradiksi fundamental dalam upaya pengelolaan lingkungan. “Kalau secara listrik bisa, saya akan perintahkan untuk mulai dengan listrik. Karena apa? Masa kita mengatasi persoalan polusi dengan truk sampah itu kita menambah polusi sendiri. Nggak bisa,” ujarnya dengan nada penuh penekanan. Pernyataan ini mencerminkan komitmen kuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengintegrasikan solusi berkelanjutan dalam setiap aspek tata kelola kota. Pramono menjelaskan, saat ini, jumlah truk sampah listrik yang dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta masih sangat terbatas, berada di bawah angka 10 unit. Keterbatasan ini menjadi indikasi betapa besar tantangan yang harus dihadapi dalam skala pengadaan dan implementasi. Armada yang ada saat ini, yang mayoritas berbahan bakar solar, secara signifikan menyumbang pada tingkat emisi gas buang di Jakarta, memperparah kualitas udara yang sudah rentan.
Tantangan Teknis dan Operasional Truk Sampah Listrik
Salah satu kendala utama yang diidentifikasi oleh Gubernur Pramono adalah spesifikasi teknis truk sampah jenis compactor. Truk-truk ini dirancang untuk memadatkan sampah, sebuah proses yang membutuhkan energi kinetik dan hidrolik yang sangat besar. Mengangkut beban berat sampah yang terkompresi setiap hari menuntut daya yang konsisten dan kuat, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi teknologi kendaraan listrik. Kendaraan listrik, terutama untuk aplikasi tugas berat seperti truk sampah, memerlukan baterai dengan kapasitas tinggi, sistem manajemen termal yang canggih, dan infrastruktur pengisian daya yang memadai. Pengembangan dan pengadaan truk sampah listrik yang mampu memenuhi standar operasional ini, sambil tetap efisien dan andal, merupakan pekerjaan rumah besar bagi industri otomototif dan pemerintah daerah. Selain itu, biaya investasi awal untuk truk listrik jenis ini cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan truk diesel konvensional, meskipun biaya operasional jangka panjang diharapkan lebih rendah karena efisiensi energi dan perawatan yang minim.
Namun, jika spesifikasi teknis dan kemampuan fungsional truk listrik dapat memenuhi standar yang dibutuhkan, Gubernur Pramono menyatakan bahwa ia akan segera memerintahkan pengadaan dan penggunaannya. Dia juga menyinggung upaya pembaruan armada yang sudah berjalan untuk operasional pengangkutan sampah di kawasan Rorotan, Jakarta Utara. Di wilayah tersebut, Pemprov DKI Jakarta telah mulai menggunakan truk-truk baru keluaran tahun 2024-2025, yang menunjukkan adanya strategi bertahap dalam modernisasi armada. Meskipun truk-truk baru ini kemungkinan besar masih menggunakan bahan bakar konvensional, keberadaannya menandakan komitmen Pemprov DKI untuk menjaga efektivitas operasional sambil mempersiapkan transisi menuju armada yang lebih ramah lingkungan di masa depan. Ini adalah pendekatan dua jalur: meningkatkan kinerja armada saat ini sambil merencanakan perubahan fundamental untuk armada masa depan.
Mengatasi Persoalan Air Lindi dan Dampak Lingkungan
Selain persoalan emisi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyoroti masalah serius lainnya yang ditimbulkan oleh truk sampah konvensional, yaitu persoalan air lindi. Cairan yang berasal dari sampah ini sering kali menetes dari truk selama proses pengangkutan, menimbulkan bau tidak sedap, mencemari jalanan, dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Air lindi yang bocor dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air, serta menarik vektor penyakit seperti lalat dan tikus, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan masyarakat dan estetika kota. Untuk mengatasi masalah ini, Gubernur Pramono secara eksplisit meminta agar spesifikasi truk sampah di masa depan diperbaiki. Ia menginginkan desain truk yang lebih tertutup dan kedap, sehingga dapat secara efektif mencegah kebocoran air lindi dan meminimalkan dampak lingkungan di sepanjang rute pengangkutan. Pramono berharap, teknologi truk listrik tidak hanya akan mengurangi emisi, tetapi juga secara inovatif dapat mencegah kebocoran air lindi yang selama ini menjadi sumber utama keresahan warga.
Pramono menegaskan kembali visinya dengan sangat jelas: “Air lindinya yang menetes-menetes itu menjadi sumber utama keresahan. Kalau bisa truk sampahnya listrik, compactornya bagus, dan air lindinya tidak ke mana-mana, saya akan minta pengadaan di tahun 2026 mulai dengan truk sampah dari listrik.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa solusi yang komprehensif adalah kunci. Bukan hanya sekadar beralih ke listrik, tetapi juga memastikan bahwa seluruh fungsi inti truk sampah, termasuk kemampuan pemadatan dan pencegahan kebocoran, dapat berjalan optimal dengan teknologi baru. Harapan ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang tantangan operasional dan keinginan untuk mencari solusi yang holistik dan berkelanjutan. Implementasi truk sampah listrik dengan spesifikasi yang ideal ini akan menjadi langkah monumental dalam mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan bebas polusi, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan global.
Pengadaan truk sampah listrik mulai tahun 2026 ini diharapkan menjadi tonggak sejarah bagi Jakarta dalam mewujudkan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan ribuan truk sampah yang beroperasi setiap hari di ibu kota, transisi ke armada listrik akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas udara dan lingkungan secara keseluruhan. Inisiatif Gubernur Pramono ini tidak hanya menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap isu lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi inovasi teknologi dan kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk menciptakan solusi yang lebih baik bagi pengelolaan sampah perkotaan di salah satu kota terbesar di dunia.

















