Dalam upaya krusial mengatasi darurat sampah yang kian mendesak di wilayah Bogor Raya, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat telah mengajukan usulan anggaran sebesar Rp20 miliar. Anggaran masif ini secara spesifik dialokasikan untuk pengadaan teknologi mesin pengering sampah mutakhir di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut-Nambo, yang berlokasi strategis di Kabupaten Bogor. Inisiatif legislatif ini tidak hanya sekadar penambahan fasilitas, melainkan sebuah langkah fundamental yang dirancang untuk melipatgandakan kapasitas pengolahan sampah, sekaligus mengoptimalkan produksi bahan bakar alternatif dari sampah padat atau Refuse Derived Fuel (RDF), yang saat ini masih jauh dari potensi maksimalnya. Usulan ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di salah satu wilayah penyangga ibu kota yang paling padat.
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Prasetyawati, secara tegas menggarisbawahi urgensi dari investasi ini. Menurutnya, kondisi pengelolaan sampah di Bogor Raya telah mencapai titik darurat, menuntut intervensi yang cepat dan efektif. TPPAS Lulut-Nambo, yang merupakan fasilitas vital bagi pengelolaan sampah regional, saat ini hanya mampu mengolah sekitar 50 ton sampah per hari. Angka ini, meskipun menunjukkan progres positif dibandingkan kondisi operasional sebelumnya, masih terbilang sangat minim dan jauh di bawah target layanan regional yang telah ditetapkan. Berbagai laporan dari peninjauan lapangan oleh Komisi IV DPRD Jabar secara konsisten menyoroti bahwa kapasitas pengolahan yang ada belum mampu menanggulangi volume sampah harian yang masif dari kawasan Bogor Raya, yang terus meningkat seiring laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk.
Mengurai Kendala Produksi RDF: Kunci Solusi pada Proses Pengeringan
Salah satu tujuan utama TPPAS Lulut-Nambo adalah memproduksi Refuse Derived Fuel (RDF), sebuah inovasi signifikan dalam pengelolaan sampah yang mengubah limbah padat menjadi sumber energi alternatif. RDF memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meminimalisir volume sampah yang berakhir di tempat penimbunan akhir. Namun, TPPAS Lulut-Nambo masih menghadapi kendala serius dalam mencapai volume produksi RDF yang optimal. Prasetyawati menjelaskan bahwa hambatan utama terletak pada tahapan proses pengeringan sampah. Tingginya kadar air dalam sampah yang masuk ke fasilitas ini secara signifikan menghambat efisiensi konversi menjadi RDF yang berkualitas. Proses pengeringan yang tidak memadai mengakibatkan rendahnya nilai kalor (calorific value) RDF yang dihasilkan, sehingga kurang diminati oleh industri sebagai bahan bakar alternatif.

















