Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah mempersiapkan langkah strategis berskala global dengan menyiagakan sekitar 8.000 prajurit terbaik untuk misi perdamaian dan kemanusiaan di Gaza, Palestina. Upaya masif ini merupakan bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjalankan amanat konstitusi untuk ikut serta menjaga ketertiban dunia, di mana ribuan personel tersebut ditargetkan mencapai kesiapan operasional penuh pada Juni 2026. Melalui mandat internasional yang tertuang dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB, pasukan ini akan bergabung dengan International Stabilization Force (ISF) guna menekan eskalasi konflik, memastikan kelancaran bantuan logistik, serta memberikan perlindungan bagi warga sipil yang terdampak krisis kemanusiaan berkepanjangan di wilayah tersebut. Pengiriman pasukan ini bukan sekadar pengerahan militer biasa, melainkan sebuah misi multidimensi yang menggabungkan keahlian taktis, diplomasi bahasa, dan dedikasi kemanusiaan di bawah pengawasan ketat mekanisme internasional.
Gemblengan Intensif: Penguasaan Bahasa dan Standar Operasional Internasional
Persiapan menuju medan penugasan di Gaza dilakukan dengan sangat komprehensif, mencakup berbagai aspek yang melampaui kemampuan tempur dasar. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan, seluruh prajurit akan menjalani fase “gemblengan” yang sangat ketat, terutama dalam aspek komunikasi. Penguasaan bahasa menjadi prioritas utama karena para prajurit akan berinteraksi dengan berbagai elemen internasional dan masyarakat lokal. Pelatihan bahasa ini difokuskan pada dua bahasa kunci, yakni Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar resmi dalam koordinasi dengan pasukan multinasional PBB, serta Bahasa Arab yang menjadi instrumen vital untuk membangun kepercayaan dan berkomunikasi langsung dengan warga sipil di Palestina. Kemampuan linguistik ini dinilai sebagai senjata diplomasi yang paling efektif untuk meredakan ketegangan di lapangan dan memastikan pesan perdamaian tersampaikan dengan akurat.
Selain aspek bahasa, para personel yang tergabung dalam International Stabilization Force (ISF) ini diwajibkan melewati serangkaian pelatihan pra-penugasan atau pre-deployment training yang sangat mendalam. Pelatihan ini dirancang untuk menyelaraskan kemampuan TNI dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Materi yang diberikan mencakup navigasi darat di medan yang kompleks, pemahaman mendalam mengenai hukum humaniter internasional, hingga simulasi penanganan situasi darurat yang tidak terduga. Prajurit juga dibekali dengan keterampilan negosiasi dan mediasi konflik, mengingat peran mereka di Gaza lebih mengedepankan fungsi stabilisasi daripada konfrontasi bersenjata. Pemahaman terhadap budaya lokal menjadi materi krusial lainnya, agar kehadiran TNI dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat dan meminimalisir potensi gesekan budaya yang dapat menghambat misi kemanusiaan.
Fokus Keahlian: Satuan Zeni, Tenaga Medis, dan Rekonstruksi Pasca-Konflik
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, memberikan penekanan khusus pada komposisi pasukan yang akan dikirimkan. Berdasarkan evaluasi kebutuhan di lapangan, TNI AD memfokuskan kesiapan pada satuan-satuan bantuan tempur dan bantuan administrasi, khususnya Satuan Zeni dan tenaga kesehatan. Prajurit dari Korps Zeni akan memegang peranan vital dalam proses rekonstruksi infrastruktur dasar yang hancur akibat konflik, seperti pembersihan puing-puing, perbaikan jalan untuk jalur logistik, hingga penyediaan fasilitas air bersih. Sementara itu, tim medis TNI akan dikerahkan untuk mendirikan rumah sakit lapangan dan memberikan pelayanan kesehatan darurat bagi ribuan warga yang kehilangan akses terhadap fasilitas medis. Jenderal Maruli menegaskan bahwa meskipun jumlah pasti personel masih dalam tahap negosiasi internasional, kesiapan internal telah dimulai agar saat keputusan politik diambil, pasukan sudah dalam kondisi siap tempur dalam konteks kemanusiaan.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan kembali bahwa pengiriman 8.000 prajurit ini memiliki mandat yang jelas: non-operasi militer. Fokus utama keberadaan TNI di Gaza adalah untuk mengurangi eskalasi konflik yang terus membara dan memastikan bahwa bantuan kemanusiaan dari seluruh dunia dapat menjangkau titik-titik paling kritis tanpa hambatan. Kehadiran pasukan perdamaian internasional, termasuk Indonesia, diharapkan mampu menciptakan ruang aman bagi proses diplomasi politik dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Palestina. Pemerintah Indonesia memandang bahwa penderitaan warga di Gaza harus segera diakhiri melalui kehadiran fisik pasukan yang memiliki kredibilitas tinggi dan diterima oleh semua pihak yang bertikai. Oleh karena itu, misi ini dipandang sebagai tugas mulia yang membawa nama baik bangsa di panggung diplomasi internasional.
Landasan Hukum Internasional dan Mekanisme Keberangkatan Bertahap
Dasar hukum dari keterlibatan Indonesia dalam misi ini adalah Resolusi 2803 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disepakati pada 17 November 2025. Resolusi ini menjadi payung hukum bagi pembentukan International Stabilization Force (ISF), sebuah inisiatif yang awalnya dirancang untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di wilayah Gaza. Indonesia, sebagai negara dengan rekam jejak panjang dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB (Kontingen Garuda), terpilih menjadi salah satu kontributor utama karena profesionalisme dan netralitasnya yang diakui dunia. Proses keberangkatan 8.000 prajurit ini direncanakan tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui mekanisme bertahap yang disesuaikan dengan perkembangan situasi keamanan di lapangan serta koordinasi dengan markas besar PBB di New York.
Strategi pengiriman bertahap ini bertujuan untuk memastikan setiap gelombang pasukan memiliki waktu adaptasi yang cukup dan dapat menggantikan posisi pasukan sebelumnya secara efektif (rotasi). Setiap tahap pengiriman akan terus dipantau dan dievaluasi oleh Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI guna memastikan keselamatan personel tetap menjadi prioritas tertinggi. Selain itu, aspek logistik dan dukungan alutsista pendukung misi perdamaian juga tengah dipersiapkan agar selaras dengan kebutuhan di medan tugas. Dengan target kesiapan pada Juni 2026, Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam mempersiapkan segala aspek, mulai dari legalitas internasional, kesiapan fisik dan mental prajurit, hingga dukungan logistik yang mumpuni demi keberhasilan misi bersejarah di tanah Palestina.
Kehadiran TNI di Gaza nantinya diharapkan tidak hanya sekadar menjadi penjaga garis perbatasan, tetapi juga menjadi katalisator bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. Melalui kombinasi antara keahlian teknis Satuan Zeni dalam membangun kembali kota, ketangkasan tim medis dalam menyelamatkan nyawa, serta kemampuan komunikasi bahasa yang persuasif, prajurit TNI diproyeksikan menjadi pilar stabilitas di wilayah tersebut. Komitmen ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan dan kedamaian di Palestina melalui tindakan nyata yang terukur dan profesional di bawah panji perdamaian dunia.














