Hujan deras dan medan terjal menjadi musuh utama dalam operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada hari keenam, Kamis (29 Januari 2026). Tim SAR gabungan, yang telah bekerja tanpa lelah sejak bencana melanda, menghadapi tantangan berat ketika intensitas hujan yang tinggi memaksa penghentian sementara operasi di beberapa titik pencarian. Upaya penyelamatan yang telah memasuki pekan pertama ini, meski dibantu alat berat, masih menyisakan puluhan warga yang belum ditemukan, menambah daftar duka di tengah upaya evakuasi yang terus bergulir. Sejauh ini, 55 jenazah telah berhasil diangkat dari timbunan longsor, namun proses identifikasi dan pencarian terhadap 25 orang lainnya masih terus dilakukan secara intensif di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Operasi SAR Hari Keenam: Hujan Deras Menjadi Ancaman Utama
Memasuki hari keenam operasi pencarian dan penyelamatan korban tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, tim gabungan menghadapi kendala signifikan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari. Kondisi cuaca buruk ini tidak hanya menyulitkan pergerakan tim SAR di medan yang curam dan berlumpur, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan, memaksa para personel untuk selalu waspada dan mengutamakan keselamatan diri. Hujan deras yang tak kunjung reda pada Kamis (29 Januari 2026) ini menyebabkan beberapa area kerja pencarian harus dihentikan sementara waktu demi menghindari potensi bahaya yang lebih besar. Para petugas SAR gabungan, yang terdiri dari berbagai elemen seperti TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan masyarakat setempat, harus menunda upaya mereka di beberapa titik krusial, menunggu hingga kondisi cuaca memungkinkan untuk dilanjutkan. Penggunaan alat berat seperti ekskavator dan loader tetap dioptimalkan di area yang dinilai aman, namun efektivitasnya tetap terbatas oleh kondisi tanah yang labil akibat guyuran hujan.
Data Korban: 55 Jenazah Ditemukan, 25 Masih Dicari
Hingga Kamis (29 Januari 2026) pukul 16.30 WIB, berdasarkan data yang dihimpun dari Posko SAR Gabungan, jumlah total korban yang berhasil ditemukan dari reruntuhan longsor mencapai 55 jenazah. Angka ini merupakan hasil kerja keras tim SAR selama enam hari berturut-turut sejak bencana terjadi. Dari 55 jenazah tersebut, sebanyak 41 di antaranya telah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri, memungkinkan keluarga korban untuk segera membawa jenazah mereka untuk dimakamkan. Namun, tragedi ini masih menyisakan duka mendalam, karena masih ada 25 orang yang dilaporkan hilang dan statusnya masih dalam proses pencarian. Tim SAR gabungan terus berupaya keras untuk menemukan mereka, menyisir setiap jengkal area yang terdampak longsor, termasuk titik-titik yang diduga kuat menjadi lokasi terakhir para korban sebelum tertimbun. Upaya pencarian ini melibatkan personel yang dikerahkan ke berbagai sektor, baik di area pemukiman yang tertimbun maupun di jalur-jalur aliran material longsoran.
Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi bahwa data ini merupakan perkembangan terbaru dari operasi SAR yang berlangsung. Ia menekankan bahwa meskipun jumlah korban yang ditemukan terus bertambah, fokus utama tetap pada upaya pencarian seluruh korban yang masih dinyatakan hilang. “Kami tidak akan berhenti sebelum semua korban ditemukan. Setiap nyawa sangat berharga, dan kami akan terus mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki,” ujarnya, menegaskan komitmen tim SAR. Proses identifikasi korban juga terus berjalan paralel dengan pencarian. Keluarga korban yang datang ke posko SAR dimintai keterangan dan sampel DNA untuk mempercepat proses pencocokan dengan jenazah yang belum teridentifikasi. Situasi ini tentu saja menimbulkan kecemasan dan kesedihan mendalam bagi keluarga yang masih menanti kabar dari orang-orang terkasih mereka.
Tantangan Medan dan Keterbatasan Waktu
Longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Cisarua, ini melibatkan volume tanah dan material yang sangat besar, menimbun sejumlah rumah warga dan area pertanian. Medan lokasi bencana yang didominasi oleh perbukitan curam menambah kerumitan dalam operasi pencarian. Tebing-tebing yang longsor menciptakan tumpukan material yang tidak stabil, sehingga tim SAR harus bekerja dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko longsor susulan yang dapat membahayakan mereka. Penggunaan alat berat memang sangat membantu dalam memindahkan material dalam jumlah besar, namun jangkauan dan efektivitasnya terbatas pada area yang dapat diakses. Di titik-titik yang lebih sulit dijangkau, pencarian harus dilakukan secara manual menggunakan sekop, cangkul, dan bahkan tangan kosong. Keterbatasan waktu juga menjadi faktor krusial. Semakin lama korban tertimbun, semakin kecil kemungkinan mereka untuk selamat. Oleh karena itu, setiap detik dalam operasi SAR sangatlah berharga.
Peran Alat Berat dan Kendala Cuaca
Dalam upaya pencarian korban, keberadaan alat berat seperti excavator dan loader menjadi tulang punggung dalam memindahkan timbunan material longsor yang sangat tebal. Alat-alat ini dikerahkan untuk membersihkan puing-puing dan membuka akses ke area yang lebih dalam. Namun, operasional alat berat ini sangat bergantung pada kondisi medan dan cuaca. Ketika hujan deras mengguyur, tanah menjadi sangat lunak dan berlumpur, membuat pergerakan alat berat menjadi sulit dan berisiko terperosok. Selain itu, hujan yang terus-menerus juga dapat menyebabkan tanah di sekitar area kerja menjadi tidak stabil, meningkatkan potensi terjadinya longsor susulan. Hal inilah yang menjadi alasan utama penghentian sementara operasi pencarian pada hari keenam, demi menjamin keselamatan para petugas di lapangan. Tim SAR gabungan terus berkoordinasi untuk menentukan kapan dan di mana alat berat dapat dioperasikan secara optimal, sambil terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi tanah.
Dampak Bencana dan Harapan Keluarga
Bencana tanah longsor di Cisarua ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerugian materiil yang signifikan bagi masyarakat setempat. Sejumlah rumah warga rata dengan tanah, memaksa para penyintas untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Fasilitas umum seperti jalan dan jaringan listrik juga dilaporkan mengalami kerusakan. Di tengah situasi yang sulit ini, harapan terbesar keluarga korban adalah dapat segera menemukan anggota keluarga mereka yang masih hilang. Doa dan dukungan terus mengalir dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, maupun masyarakat luas. Tim SAR gabungan bertekad untuk terus bekerja tanpa kenal lelah, memberikan yang terbaik dalam upaya penyelamatan ini, sambil berharap agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan akibat bencana serupa di masa mendatang. Evaluasi dan langkah mitigasi pasca-bencana akan menjadi agenda penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.


















