Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang diprediksi akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, hingga Papua pada periode 13 hingga 15 Februari 2026. Peringatan ini dikeluarkan sebagai antisipasi terhadap fenomena atmosfer yang dikenal sebagai Madden-Julian Oscillation (MJO) atau yang dalam konteks tropis sering disebut sebagai CENS (Coupled Equatorial Synoptic Scale), sebuah sistem konvektif skala besar yang bergerak dari barat ke timur di wilayah Benua Maritim dengan periode siklus sekitar 30 hingga 60 hari. BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dinamis dan potensi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul.
Fenomena CENS, atau yang lebih dikenal secara internasional sebagai Madden-Julian Oscillation (MJO), merupakan salah satu mode variabilitas iklim tropis yang paling signifikan dan memiliki dampak luas terhadap pola cuaca global. Secara mendalam, CENS adalah gelombang atmosfer yang berosilasi di wilayah tropis, ditandai dengan adanya peningkatan dan penurunan aktivitas konvektif (pembentukan awan hujan) yang bergerak secara periodik dari barat ke timur melintasi Samudra Hindia dan Pasifik. Periode siklus CENS bervariasi antara 30 hingga 60 hari, menjadikannya fenomena skala intra-seasonal. Keberadaan fase-fase aktif CENS dapat memicu peningkatan curah hujan yang signifikan di wilayah-wilayah yang dilaluinya, sementara fase-fase yang lebih tenang dapat menyebabkan kondisi yang lebih kering. Dalam konteks prediksi cuaca jangka pendek hingga menengah, pemahaman terhadap fase CENS menjadi krusial bagi lembaga meteorologi seperti BMKG untuk memberikan peringatan dini yang akurat.
Analisis Mendalam Prakiraan Cuaca dan Pemicu Fenomena
Prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG pada periode 13-15 Februari 2026 secara spesifik menyoroti potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di berbagai provinsi. Wilayah-wilayah yang disebutkan, mulai dari Kepulauan Bangka Belitung di barat hingga Papua di timur, menunjukkan cakupan geografis yang luas dari dampak fenomena ini. Peningkatan curah hujan ini tidak terjadi secara acak, melainkan dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer yang saling terkait. Salah satu pemicu utama yang sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di wilayah tropis adalah penguatan Monsun Asia. Monsun Asia adalah sistem angin musiman yang sangat penting di Asia, yang membawa massa udara lembap dari lautan ke daratan selama musim panas dan massa udara kering dari daratan ke lautan selama musim dingin. Ketika Monsun Asia menguat, ia dapat membawa lebih banyak kelembapan ke wilayah Indonesia.
Selain penguatan Monsun Asia, faktor lain yang berkontribusi adalah pergerakan seruakan dingin (cold surge). Seruakan dingin adalah pergerakan massa udara dingin dari wilayah kutub atau lintang tinggi menuju wilayah lintang rendah. Meskipun terdengar kontradiktif, seruakan dingin yang mencapai wilayah tropis dapat memicu peningkatan aktivitas konvektif. Hal ini terjadi karena perbedaan suhu yang signifikan antara massa udara dingin yang masuk dan massa udara hangat serta lembap yang sudah ada di wilayah tropis dapat menciptakan ketidakstabilan atmosfer. Ketidakstabilan ini mendorong udara hangat dan lembap untuk naik lebih cepat, membentuk awan kumulonimbus yang tebal dan berpotensi menghasilkan hujan lebat. Kombinasi antara kelembapan dari Monsun Asia dan dorongan dari seruakan dingin menciptakan kondisi yang sangat kondusif untuk terjadinya hujan ekstrem.
Merujuk pada referensi tambahan yang ada, fenomena La Niña juga disebut sebagai salah satu faktor yang berpotensi memicu hujan lebat di Indonesia pada periode tersebut. La Niña adalah fase dingin dari siklus ENSO (El Niño-Southern Oscillation), yang ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari rata-rata di Samudra Pasifik bagian timur khatulistiwa. Kondisi La Niña umumnya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia karena pergeseran pola angin dan sirkulasi atmosfer global. Ketika La Niña aktif, terjadi peningkatan aliran udara naik di wilayah Indonesia, yang mendukung pembentukan awan hujan. Oleh karena itu, prediksi hujan lebat pada 13-15 Februari 2026 kemungkinan besar merupakan hasil dari interaksi kompleks antara CENS (MJO) yang berada dalam fase aktif, penguatan Monsun Asia, seruakan dingin, dan potensi pengaruh dari anomali suhu permukaan laut seperti La Niña.
Implikasi dan Imbauan Kewaspadaan
Dampak dari potensi hujan lebat hingga sangat lebat ini tidak dapat dianggap remeh. BMKG secara eksplisit mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan. Kewaspadaan ini mencakup kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, genangan air, tanah longsor, dan angin kencang. Di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta, hujan lebat dapat dengan cepat menyebabkan genangan air dan banjir karena sistem drainase yang mungkin tidak mampu menampung volume air yang besar. Di daerah pegunungan atau perbukitan, risiko tanah longsor meningkat signifikan akibat kejenuhan tanah oleh air hujan.
Peningkatan curah hujan yang ekstrem juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, transportasi, dan sektor ekonomi, terutama yang berkaitan dengan pertanian dan perikanan. Oleh karena itu, imbauan BMKG bukan sekadar pemberitahuan, melainkan sebuah ajakan untuk bertindak proaktif. Masyarakat perlu memantau informasi cuaca terkini dari sumber resmi seperti BMKG, menyiapkan diri dengan tindakan pencegahan, seperti mengamankan barang-barang berharga di tempat yang lebih tinggi jika tinggal di daerah rawan banjir, serta menghindari aktivitas di luar ruangan yang berisiko saat cuaca memburuk. Bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, dan sektor terkait lainnya, imbauan ini menjadi dasar untuk mengaktifkan posko siaga, mempersiapkan tim evakuasi, dan memastikan ketersediaan logistik serta peralatan darurat. Kesiapsiagaan yang matang adalah kunci untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian materiil akibat bencana terkait cuaca ekstrem.

















