JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengemukakan sebuah klaim signifikan terkait penanganan banjir yang melanda Ibu Kota beberapa waktu lalu. Ia menyatakan bahwa potensi keparahan banjir tersebut dapat diminimalisir secara drastis berkat penerapan operasi modifikasi cuaca (OMC). Menurut pandangannya, intervensi cuaca ini terbukti efektif dalam meredam dampak buruk banjir, terutama mengingat curah hujan yang tercatat melebihi 300 milimeter per hari pada periode tersebut. “Kalau dibiarkan 2 sampai 3 hari yang lalu itu Jakarta pasti banjir yang luar biasa,” tegas Anies dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (IKA Fikom Unpad) di Jakarta Selatan, pada hari Senin, 26 Januari 2026. Pernyataan ini menyoroti peran proaktif pemerintah dalam mengelola fenomena alam yang berpotensi merusak.
Lebih lanjut, mantan Sekretaris Kabinet ini membandingkan frekuensi pelaksanaan OMC di era kepemimpinannya dengan periode sebelumnya. Ia mengungkapkan bahwa pada masa lalu, operasi modifikasi cuaca hanya dilaksanakan satu kali. Namun, di bawah kepemimpinannya, pelaksanaan OMC ditingkatkan menjadi empat kali. Meskipun demikian, Anies tidak merinci secara spesifik mengenai rentang waktu atau jadwal pasti pelaksanaan keempat operasi modifikasi cuaca tersebut. Perbandingan ini menggarisbawahi peningkatan intensitas dan frekuensi intervensi pemerintah dalam upaya mitigasi bencana.
Evaluasi Pasca-Banjir dan Perbandingan Regional
Usai mengakhiri sesi diskusi, Anies Baswedan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai situasi banjir di Jakarta. Ia mengkonfirmasi bahwa per Senin, 26 Januari 2026, banjir yang sempat melanda wilayah Ibu Kota telah menunjukkan tren penurunan dan mulai surut. Namun, Anies secara bijak mengalihkan perhatian pada kondisi banjir yang masih terjadi di daerah-daerah sekitar Jakarta. Ia kemudian mengemukakan sebuah analisis mengenai perbedaan penanganan banjir antara Jakarta dan wilayah sekitarnya. “Kenapa Jakarta, bisa ya? Mohon maaf karena memang fasilitasnya pasti lebih baik,” ujarnya, menyiratkan bahwa infrastruktur dan kesiapan fasilitas di Jakarta memainkan peran krusial dalam percepatan penanganan banjir.
Pernyataan ini mengindikasikan adanya perbedaan kapasitas dan sumber daya yang tersedia antara Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan wilayah penyangganya. Pengakuan terhadap keunggulan fasilitas di Jakarta, meskipun diungkapkan dengan nada rendah hati, secara implisit menyoroti tantangan yang dihadapi oleh daerah-daerah lain dalam menghadapi bencana serupa. Hal ini juga dapat menjadi dasar untuk diskusi lebih lanjut mengenai pemerataan pembangunan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana di seluruh wilayah metropolitan.
Strategi Jangka Menengah: Normalisasi Sungai sebagai Pilar Mitigasi
Dalam upaya mitigasi banjir yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, Anies Baswedan memaparkan rencana strategisnya untuk menormalisasi tiga sungai utama di Jakarta. Ketiga sungai yang menjadi fokus utama dalam program ini adalah Sungai Ciliwung, Sungai Cakung Lama, dan Kali Krukut. Program normalisasi ini tidak hanya sekadar pengerukan dan pelebaran sungai, melainkan juga mencakup aspek relokasi permukiman warga yang berada di sepanjang bantaran sungai. “Dalam rencana normalisasi itu, Pramono mengatakan kediaman warga yang tinggal sekitar sungai akan dipindahkan,” terang Anies, menegaskan bahwa penanganan banjir memerlukan solusi yang menyentuh aspek tata ruang dan pemukiman.
Proyek normalisasi sungai ini direncanakan akan segera dimulai pada tahun berjalan, yaitu tahun 2026. Anies mengklaim bahwa anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program ambisius ini telah disiapkan. “Keputusan politik sudah ada. Dana sudah disiapkan,” tegasnya. Namun, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai besaran alokasi dana yang telah disiapkan. Pernyataan ini menunjukkan adanya komitmen politik yang kuat dan kesiapan finansial dari pemerintah daerah untuk merealisasikan program normalisasi ini. Penting untuk dicatat bahwa Anies menekankan bahwa penanganan banjir di Jakarta tidak dapat sepenuhnya bergantung pada operasi modifikasi cuaca semata. Ia berargumen bahwa solusi jangka menengah seperti normalisasi sungai merupakan pilar krusial dalam strategi penanganan banjir yang komprehensif.
Laporan BPBD DKI Jakarta: Banjir Surut dalam Hitungan Hari
Laporan mengenai dampak hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada hari Kamis, 22 Januari 2026, telah memberikan gambaran mengenai situasi darurat yang terjadi. Hujan lebat yang mengguyur Ibu Kota menyebabkan terjadinya banjir di berbagai titik wilayah Jakarta. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebuah perkembangan positif. Berdasarkan data yang dihimpun, seluruh genangan banjir di wilayah Ibu Kota telah berhasil surut pada hari Senin, 26 Januari 2026. Laporan ini memberikan bukti konkret mengenai efektivitas respons dan upaya penanganan yang dilakukan.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, hujan deras yang terjadi pada Kamis malam memang sempat menyebabkan sejumlah wilayah tergenang banjir. Namun, berkat pemantauan yang intensif dan respons cepat, air tersebut telah surut. “BPBD mencatat hingga Senin pukul 03:00 WIB, seluruh genangan di wilayah DKI Jakarta sudah surut,” kata Yohan dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan pada hari Senin, 26 Januari 2026. Keterangan ini menggarisbawahi kinerja BPBD dalam memantau dan mengelola situasi kebencanaan, serta memberikan informasi yang akurat kepada publik mengenai perkembangan penanganan banjir.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi antara Dede Leni Mardianti dan Eka Yudha Saputra.


















