Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Daerah Khusus Jakarta pada awal tahun 2026 kembali memicu tantangan besar bagi sistem transportasi publik di ibu kota. Pada Sabtu, 24 Januari 2026, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) secara resmi mengumumkan penghentian sementara operasional pada sejumlah rute strategis akibat genangan air yang cukup tinggi di beberapa titik krusial. Keputusan ini diambil sebagai langkah mitigasi risiko guna menjamin keselamatan pelanggan serta armada bus yang beroperasi di tengah kepungan banjir. Kepala Departemen Hubungan Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Transjakarta, Ayu Wardhani, menegaskan bahwa penyesuaian layanan ini tidak hanya dipicu oleh faktor curah hujan yang tinggi, tetapi juga adanya kendala teknis di lapangan terkait proyek infrastruktur yang sedang berjalan di sekitar lintasan bus. Situasi ini memaksa manajemen untuk melakukan evaluasi cepat terhadap kondisi jalan demi menghindari kerusakan mesin armada bus maupun potensi kecelakaan di area terdampak.
Ayu Wardhani menjelaskan secara terperinci melalui pesan tertulis bahwa salah satu layanan yang terdampak paling signifikan adalah rute pengumpan (feeder) 3C yang melayani relasi dari Rumah Susun (Rusun) Kapuk Muara menuju Penjaringan. Rute ini terpaksa dinonaktifkan sepenuhnya untuk sementara waktu karena akses jalan di sekitar SMPN 122 Kapuk Muara tidak memungkinkan untuk dilintasi kendaraan besar. Genangan air di lokasi tersebut dilaporkan telah mencapai level yang membahayakan sistem kelistrikan bus, sehingga operasional dihentikan hingga kondisi air benar-benar surut dan jalan dinyatakan aman oleh tim lapangan. Penghentian rute 3C ini berdampak langsung pada mobilitas warga penghuni rusun dan masyarakat di kawasan Jakarta Utara yang sangat bergantung pada layanan Transjakarta untuk aktivitas harian mereka menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi di Penjaringan dan sekitarnya.
Dampak Luas pada Layanan Mikrotrans dan Koridor Utama
Selain rute bus besar, layanan Mikrotrans yang menjadi tulang punggung konektivitas “last mile” Jakarta juga turut mengalami gangguan serius. Ayu Wardhani mengungkapkan bahwa layanan JAK 50 dengan relasi Kalideres-Puri Kembangan harus dihentikan operasionalnya secara total pada hari tersebut. Penyebab utama penghentian ini adalah munculnya genangan air yang cukup dalam di dua titik vital, yakni Jalan Bojong Indah dan kawasan Pasar Laris. Karakteristik kendaraan Mikrotrans yang lebih kecil dibandingkan bus reguler membuatnya lebih rentan terhadap genangan air, sehingga risiko mogok di tengah jalan menjadi pertimbangan utama pengelola. Terputusnya layanan JAK 50 ini menyebabkan banyak komuter di wilayah Jakarta Barat kesulitan menjangkau terminal utama maupun pusat perkantoran di kawasan Puri Kembangan, mengingat rute ini merupakan jalur penghubung pemukiman padat penduduk dengan pusat bisnis.
Gangguan operasional tidak berhenti di situ, karena koridor utama yang merupakan urat nadi transportasi Jakarta juga mengalami hambatan parsial. Transjakarta Koridor 3 yang melayani rute Kalideres-Monas, rute 3F relasi Kalideres-Gelora Bung Karno (GBK), serta rute 2A yang menghubungkan Pulo Gadung dengan Rawa Buaya, harus mengalami pemotongan rute atau penghentian layanan di segmen tertentu. Ayu Wardhani merinci bahwa layanan di segmen antara Halte Jembatan Gantung hingga Halte Pulo Nangka di kedua arah tidak dapat dioperasikan sama sekali. “Dari Halte Jembatan Gantung sampai dengan Halte Pulo Nangka kedua arah tidak ada layanan,” tegas Ayu. Hal ini disebabkan oleh genangan air yang menutup jalur busway (dedicated lane), sehingga bus tidak dapat menaikkan atau menurunkan penumpang di halte-halte yang berada dalam cakupan wilayah tersebut. Penumpang yang biasanya transit di kawasan ini terpaksa mencari alternatif moda transportasi lain atau menunggu hingga genangan di jalur utama tersebut surut.
Data BPBD: Sebaran Genangan di Wilayah Jakarta Barat
Kondisi lumpuhnya sebagian layanan Transjakarta ini selaras dengan data yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta. Berdasarkan laporan resmi per Sabtu, 24 Januari 2026, hingga pukul 12.00 WIB, tercatat sebanyak 78 Rukun Tetangga (RT) dan 7 ruas jalan utama di wilayah Jakarta masih terendam air. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Jakarta, Mohamad Yohan, menyampaikan bahwa konsentrasi genangan air paling parah terpantau berada di wilayah Jakarta Barat. Tingginya intensitas hujan yang turun sejak dini hari membuat sistem drainase di beberapa titik tidak mampu menampung debit air secara optimal. BPBD terus melakukan koordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan petugas pemadam kebakaran untuk melakukan penyedotan air di lokasi-lokasi strategis guna mempercepat pemulihan akses jalan.
Berikut adalah rincian data 7 ruas jalan yang masih tergenang air dengan ketinggian bervariasi, yang menjadi penyebab utama terganggunya mobilitas warga dan operasional Transjakarta:
| No. | Lokasi Ruas Jalan | Kelurahan/Wilayah | Ketinggian Air |
|---|---|---|---|
| 1 | Jl. Daan Mogot KM 13 (Seberang Victoria / Pabrik Gelas) | Cengkareng Timur, Jakarta Barat | 20 cm |
| 2 | Jl. Gotong Royong RT.06 RW 08 | Kapuk, Jakarta Barat | 20 cm |
| 3 | Jl. Kembangan Raya | Kembangan Selatan, Jakarta Barat | 50 cm |
| 4 | Depan RS. Soeharto Heerdjan Jl. Prof. Dr. Latumenten No.1 | Jelambar, Jakarta Barat | 10 cm |
| 5 | Jl. Prepedan Raya | Kamal, Jakarta Barat | 15 cm |
| 6 | Perumahan BTN Jl. Delima VIII | Kembangan Utara, Jakarta Barat | 20 cm |
| 7 | Jl. Pulo Indah | Duri Kosambi, Jakarta Barat | 20 cm |
Evaluasi Infrastruktur dan Kondisi Terkini
Meskipun banyak titik yang masih tergenang, BPBD Jakarta juga melaporkan adanya tren positif di beberapa lokasi lainnya. Beberapa ruas jalan yang sebelumnya sempat terendam air kini sudah mulai surut dan dapat dilalui kembali oleh kendaraan bermotor, meskipun para pengendara tetap diimbau untuk berhati-hati terhadap sisa lumpur atau lubang jalan yang mungkin tertutup air. Ruas jalan yang sudah dinyatakan surut antara lain adalah Jalan Kapuk Bongkaran di RT.022 RW 012 Kelurahan Kapuk, Jalan Taman Kota di Kelurahan Kedaung Kali Angke, serta Jalan Strategi Raya di Kelurahan Joglo, Jakarta Barat. Keberhasilan penyurutan air di titik-titik ini merupakan hasil dari pengerahan pompa-pompa mobile oleh Dinas SDA yang bekerja secara nonstop sejak pagi hari.
Pihak Transjakarta menyatakan akan terus memantau perkembangan di lapangan secara real-time. Ayu Wardhani menambahkan bahwa operasional bus akan segera kembali normal setelah genangan air di jalur-jalur terdampak surut di bawah batas aman operasional bus, yakni sekitar 10 hingga 15 cm tergantung pada jenis armada. Selain itu, koordinasi dengan pihak pelaksana proyek infrastruktur juga terus dilakukan agar material proyek tidak menghambat aliran air atau memperburuk kondisi genangan di jalur busway. Masyarakat diimbau untuk terus memantau kanal media sosial resmi Transjakarta dan aplikasi mobile guna mendapatkan informasi terkini mengenai perubahan rute atau pengaktifan kembali layanan yang sempat terhenti. Penyesuaian ini merupakan bagian dari prosedur standar operasional (SOP) perusahaan dalam menghadapi kondisi darurat banjir demi menjaga standar pelayanan dan keselamatan publik di tengah cuaca yang tidak menentu.


















