Eskalasi Banjir Jakarta Januari 2026: Analisis Dampak Luapan Air di Wilayah Strategis dan Upaya Mitigasi Terpadu BPBD
Curah hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur wilayah Ibu Kota Jakarta sejak dini hari hingga pagi hari pada Ahad, 18 Januari 2026, telah memicu kenaikan debit air yang signifikan di sejumlah titik vital. Berdasarkan laporan komprehensif yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, fenomena cuaca ini mengakibatkan terjadinya genangan air yang merendam pemukiman warga serta melumpuhkan mobilitas di beberapa ruas jalan utama. Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD Jakarta, Mohamad Yohan, memberikan konfirmasi resmi bahwa hingga pukul 07.00 WIB, tercatat sebanyak 16 Rukun Tetangga (RT) dan 10 ruas jalan lintas wilayah terdampak secara langsung oleh luapan air. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh elemen pemerintah daerah, mengingat Jakarta masih berada dalam puncak musim penghujan yang rawan terhadap anomali cuaca serupa di masa mendatang.
Jakarta Barat muncul sebagai wilayah yang paling terdampak secara masif dalam peristiwa banjir kali ini, dengan total 13 RT yang terendam air. Titik terparah terpantau di Kelurahan Kedaung Kali Angke, di mana terdapat delapan RT yang mengalami genangan dengan ketinggian berkisar antara 45 hingga 60 sentimeter. Kondisi ini menyebabkan aktivitas domestik warga terhenti total karena air telah memasuki area dalam rumah. Selain itu, Kelurahan Tegal Alur juga melaporkan empat RT yang tergenang setinggi 30 hingga 40 sentimeter, sementara satu RT di Kelurahan Jelambar mencatatkan ketinggian air 25 sentimeter. Eskalasi genangan di wilayah Jakarta Barat ini ditengarai akibat topografi wilayah yang rendah serta beban drainase yang melampaui kapasitas normal saat menerima limpasan air hujan yang turun tanpa henti selama beberapa jam.
Krisis Infrastruktur: Dampak Genangan pada Ruas Jalan Utama dan Aksesibilitas Publik
Selain pemukiman padat penduduk, banjir juga melumpuhkan sektor transportasi melalui genangan di 10 ruas jalan strategis yang tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat. Dampak yang paling menonjol terlihat di Jalan Karang Bolong Raya, Ancol, Jakarta Utara, di mana ketinggian air mencapai angka kritis 70 sentimeter, yang secara teknis tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat standar. Kondisi serupa, meski dengan ketinggian lebih rendah, terjadi di koridor ekonomi seperti Jalan Boulevard Barat di depan Lotte Mart Kelapa Gading dan Jalan Daan Mogot KM 13 yang merupakan urat nadi logistik menuju wilayah Tangerang. Keberadaan genangan di jalan-jalan utama ini memicu kemacetan panjang dan menghambat pergerakan armada darurat yang sedang berupaya melakukan pemantauan di lapangan.
Di wilayah Jakarta Utara, selain Jalan Karang Bolong, genangan juga menyasar pemukiman di Kelurahan Ancol dan Kelurahan Pademangan Barat dengan ketinggian rata-rata 30 sentimeter. Sementara itu, Jakarta Timur melaporkan dampak yang relatif lebih terkendali dengan satu RT di Kelurahan Rawa Terate yang terendam setinggi 40 sentimeter. Mohamad Yohan menegaskan bahwa faktor utama penyebab terjadinya genangan ini adalah intensitas hujan yang sangat deras dalam durasi waktu yang cukup lama, sehingga sistem drainase kota memerlukan waktu ekstra untuk mengalirkan volume air menuju muara atau kolam retensi yang tersedia di sekitar lokasi terdampak.
| Lokasi Ruas Jalan Terdampak | Ketinggian Air (cm) | Wilayah Administratif |
|---|---|---|
| Jl. Karang Bolong Raya, Ancol | 70 cm | Jakarta Utara |
| Jl. Kp. Sepatan, Rorotan | 30 cm | Jakarta Utara |
| Jl. Pangeran Tubagus Angke, Wijaya Kusuma | 20 cm | Jakarta Barat |
| Jl. Lkr. Luar Barat, Cengkareng Timur | 20 cm | Jakarta Barat |
| Jl. Cakung Cilincing Raya, Rorotan | 20 cm | Jakarta Utara |
| Jl. Perumahan Green Garden, Kedoya Utara | 15 cm | Jakarta Barat |
| Jl. Daan Mogot KM 13, Cengkareng Timur | 15 cm | Jakarta Barat |
| Jl. Boulevard Barat (Depan Lotte Mart) | 15 cm | Jakarta Utara |
| Jl. Industri VI, Gunung Sahari Utara | 10 cm | Jakarta Pusat |
Dampak kemanusiaan dari bencana ini mulai terlihat dengan adanya gelombang pengungsi di wilayah Jakarta Barat. Di Kelurahan Tegal Alur, sebanyak 12 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 29 jiwa terpaksa meninggalkan kediaman mereka karena kondisi rumah yang tidak lagi memungkinkan untuk ditempati secara aman. BPBD Jakarta telah mengaktivasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Alur Anggrek sebagai posko pengungsian sementara. Di lokasi ini, para penyintas mendapatkan perlindungan dari cuaca ekstrem serta mulai menerima bantuan logistik dasar. Evakuasi dilakukan secara persuasif oleh tim gabungan untuk memastikan keselamatan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang berada di zona terdampak banjir paling dalam.
Sebagai langkah respons cepat, BPBD Jakarta telah mengerahkan ratusan personel lapangan untuk melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi genangan di setiap titik koordinat. Langkah ini tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui koordinasi lintas sektoral yang melibatkan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk pengoperasian pompa stasioner dan mobile, Dinas Bina Marga untuk pembersihan tali-tali air yang tersumbat, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) untuk membantu proses evakuasi dan penyedotan air di area padat. Sinergi ini diperkuat dengan peran aktif lurah dan camat setempat yang bertugas memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi serta memantau stabilitas keamanan di lingkungan yang ditinggalkan oleh para pengungsi.
Strategi teknis yang diterapkan oleh tim gabungan mencakup optimalisasi seluruh infrastruktur pengendali banjir. Penyedotan genangan difokuskan pada ruas-ruas jalan utama guna memulihkan arus lalu lintas secepat mungkin, sementara perawatan rutin pada tali-tali air dilakukan untuk mempercepat aliran air menuju saluran mikro dan makro. BPBD Provinsi DKI Jakarta menetapkan target ambisius agar seluruh genangan dapat surut dalam waktu singkat, dengan catatan tidak terjadi hujan susulan dengan intensitas serupa dalam waktu dekat. Upaya ini merupakan bagian dari protokol tetap penanganan bencana hidrometeorologi yang telah disusun secara sistematis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meminimalisir kerugian materil maupun non-materil bagi warga kota.
Secara keseluruhan, peristiwa banjir pada 18 Januari 2026 ini menjadi pengingat krusial akan pentingnya integrasi antara pembangunan infrastruktur fisik dan kesadaran mitigasi bencana di tingkat masyarakat. Meskipun pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya preventif, anomali cuaca yang sulit diprediksi tetap menjadi tantangan besar. BPBD terus menghimbau warga, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rendah, untuk tetap waspada dan selalu memantau informasi terkini melalui kanal resmi peringatan dini bencana. Kecepatan respon dan ketepatan koordinasi antar lembaga menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa Jakarta mampu pulih dengan cepat dari dampak genangan yang terjadi di awal tahun ini.


















