Krisis operasional berskala besar tengah melanda PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyusul cuaca ekstrem yang memicu bencana banjir di sejumlah titik krusial jalur kereta api di Pulau Jawa. Akibat gangguan alam yang tak terelakkan ini, manajemen KAI terpaksa mengambil langkah drastis dengan membatalkan total 82 perjalanan kereta api yang melintasi wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang dan Daop 1 Jakarta. Keputusan berat ini diambil sebagai respons darurat terhadap kondisi infrastruktur rel yang terendam air, yang secara teknis membahayakan keselamatan perjalanan jika tetap dipaksakan beroperasi. Banjir yang menggenangi emplasemen dan petak jalan ini tidak hanya mengganggu jadwal perjalanan, tetapi juga melumpuhkan konektivitas logistik dan mobilitas penumpang di koridor utama lintas utara Jawa.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memberikan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa situasi ini merupakan dampak langsung dari faktor alam yang berada di luar kendali operasional perusahaan. Dalam situasi krisis ini, Bobby menekankan bahwa paradigma utama perusahaan adalah menempatkan keselamatan pelanggan dan petugas di atas segala target operasional lainnya. Menurutnya, setiap keputusan yang diambil, termasuk pembatalan massal perjalanan, didasarkan pada evaluasi teknis yang ketat terhadap risiko kecelakaan kereta api (kaus) akibat rintang jalan. KAI menyadari bahwa kebijakan ini menimbulkan ketidaknyamanan luar biasa bagi ribuan penumpang, namun langkah pengamanan maksimal harus tetap dijalankan guna mencegah terjadinya insiden yang lebih fatal di jalur yang terdampak banjir.
“Dalam kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan genangan dan banjir di lintasan maupun emplasemen, KAI mengambil langkah pengamanan maksimal, termasuk pembatalan dan pengaturan perjalanan kereta api. Seluruh keputusan ini diambil semata-mata untuk menjaga keselamatan pelanggan dan mencegah risiko yang lebih besar,” ujar Bobby Rasyidin dalam keterangan pers tertulisnya pada Minggu (18/10). Ia menambahkan bahwa tim teknis di lapangan terus berjaga selama 24 jam untuk memantau penurunan debit air dan melakukan perbaikan infrastruktur secara simultan agar jalur dapat segera dinyatakan aman untuk dilalui kembali dengan kecepatan normal.
Anatomi Krisis Jalur Pantura: Lumpuhnya Lintas Pekalongan–Sragi
VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, memaparkan secara mendalam mengenai titik terparah yang melumpuhkan operasional di wilayah Daop 4 Semarang. Berdasarkan laporan teknis, banjir besar melanda petak jalan antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi, tepatnya di Km 88+900 hingga Km 89+100. Gangguan ini bersifat masif karena merendam baik jalur hulu maupun jalur hilir, sehingga praktis memutus akses utama kereta api di jalur pantura. Anne menjelaskan bahwa pemicu utama gangguan ini adalah kombinasi antara curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi yang sangat panjang, yang kemudian mengakibatkan luapan sungai-sungai besar di sekitar lintasan serta jebolnya tanggul penahan air yang tak lagi mampu menahan debit air yang melimpah.
Kondisi di lintas Pekalongan–Sragi ini dilaporkan mulai memburuk sejak Jumat (16/1) dini hari. Pada saat itu, air mulai merangkak naik dan menggenangi emplasemen Stasiun Pekalongan, menciptakan rintang jalan yang signifikan. Tim prasarana KAI sebenarnya telah melakukan upaya penanganan darurat secara bertahap, mulai dari penambahan balas (batu koral penyangga rel) hingga melakukan pengangkatan jalur rel menggunakan alat berat guna meninggikan posisi lintasan dari permukaan air. Namun, upaya tersebut seolah berpacu dengan waktu dan kekuatan alam; hujan lebat kembali mengguyur pada malam hari hingga Sabtu (17/1) dini hari, yang memicu luapan Sungai Bermi dan limpasan Sungai Meduri. Akibatnya, jalur rel terendam hingga ketinggian 23 sentimeter di atas kepala rel, sebuah level yang sangat berbahaya bagi sistem kelistrikan dan mekanik lokomotif modern.
Memasuki hari Minggu pagi, situasi justru semakin kompleks dengan dilaporkannya kerusakan infrastruktur tambahan berupa jebolnya tanggul sungai di titik baru, yakni Km 89+100. Penanganan di lapangan menjadi sangat menantang karena para petugas harus bekerja di bawah guyuran hujan yang masih berlangsung, ditambah dengan pengaruh fenomena pasang air laut (rob) di pesisir utara Jawa yang menghambat aliran air sungai menuju laut. Untuk menyiasati kondisi jalur yang masih labil, KAI mengoperasikan lokomotif seri BB304, jenis lokomotif diesel hidrolik yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap genangan air dibandingkan lokomotif elektrik, guna menarik rangkaian kereta secara perlahan di jalur hulu yang telah dinyatakan aman secara terbatas.
Dampak Banjir di Ibu Kota dan Rekayasa Operasional Daop 1 Jakarta
Tidak hanya di Jawa Tengah, wilayah Daop 1 Jakarta juga mengalami gangguan operasional yang serius akibat genangan air di sejumlah titik vital. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa air merendam emplasemen Stasiun Kampung Bandan, petak jalan antara Jakarta Kota–Tanjung Priok, emplasemen Jakarta Gudang, emplasemen Jakarta Kota, hingga emplasemen Sungai Lagoa. Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak dini hari menyebabkan ketinggian air di beberapa titik sempat menyentuh angka 10 sentimeter di atas kepala rel. Meski ketinggian air di Jakarta tidak setinggi di Pekalongan, risiko terhadap sistem persinyalan dan keamanan operasional tetap menjadi prioritas utama manajemen.
Sebagai langkah mitigasi di wilayah Jakarta, KAI memberlakukan sejumlah protokol keamanan ketat. Protokol tersebut meliputi pembatasan kecepatan kereta api (speed restriction) saat melintasi area yang tergenang, pemasangan semboyan pengamanan tambahan, serta rekayasa operasional untuk layanan Commuter Line (KRL). Beberapa jadwal Commuter Line terpaksa mengalami penyesuaian rute atau pemendekan relasi demi menghindari titik-titik banjir yang paling berisiko. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa meskipun terjadi keterlambatan, keselamatan nyawa penumpang tetap terjamin sepenuhnya di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Data Statistik Pembatalan dan Keterlambatan Masif Perjalanan KA
Skala gangguan ini tercermin dengan jelas dalam data operasional yang dirilis oleh KAI untuk periode Jumat, 16 Januari hingga Minggu, 18 Januari 2026. Dari total 593 rencana perjalanan kereta api antarkota di seluruh wilayah Jawa, sebanyak 82 perjalanan terpaksa dibatalkan secara total. Rinciannya menunjukkan eskalasi krisis yang meningkat: pada hari Jumat (17/1) tercatat 21 perjalanan dibatalkan, namun angka ini melonjak tajam pada hari Minggu (18/1) dengan 61 perjalanan yang tidak dapat diberangkatkan. Pembatalan ini mencakup berbagai kelas layanan, mulai dari ekonomi hingga eksekutif, yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa.
Untuk meminimalisir dampak kelumpuhan total, KAI menerapkan pola operasi memutar (diversion) bagi 17 perjalanan kereta api. Kereta-kereta yang seharusnya melalui jalur utara dialihkan melalui lintas selatan, melewati Cirebon–Kroya–Yogyakarta–Solo, sebelum kembali ke jalur asalnya. Meskipun langkah ini berhasil menjaga konektivitas, konsekuensinya adalah terjadinya keterlambatan jadwal yang sangat signifikan. Data mencatat ada 76 perjalanan kereta api yang mengalami keterlambatan dengan rata-rata waktu keterlambatan mencapai 240 menit atau sekitar 4 jam. Bahkan, hingga Minggu siang, terdapat 51 perjalanan keberangkatan hari Jumat yang masih tertahan di perjalanan dan belum mencapai stasiun tujuan.
Beberapa kasus keterlambatan ekstrem menjadi sorotan utama dalam krisis ini. KA 260B (Tawang Jaya relasi Pasar Senen–Semarang Poncol) tercatat mengalami keterlambatan keberangkatan hingga 445 menit. Sementara itu, KA 21A (Argo Muria relasi Semarang Tawang–Gambir) mencatatkan rekor keterlambatan kedatangan mencapai 484 menit atau lebih dari 8 jam dari jadwal seharusnya. Sektor logistik pun tidak luput dari dampak banjir ini, di mana KAI terpaksa membatalkan 16 perjalanan kereta api barang, termasuk relasi penting Kalimas Surabaya–Tanjung Priok, yang dipastikan akan berdampak pada rantai pasok distribusi barang nasional.
Manajemen Refund dan Komitmen Pelayanan Pelanggan
Dampak langsung dari pembatalan perjalanan ini adalah gelombang pengembalian tiket (refund) oleh para calon penumpang. Hingga Minggu (18/1) pukul 08.00 WIB, tercatat sebanyak 8.615 tiket Kereta Api Jarak Jauh telah dibatalkan oleh pelanggan. KAI memberikan fasilitas pengembalian bea tiket 100% bagi penumpang yang terdampak pembatalan perjalanan maupun mereka yang memilih untuk membatalkan perjalanan karena jadwal yang tidak pasti akibat rekayasa operasional. Proses pengembalian ini dilakukan baik melalui loket stasiun maupun aplikasi KAI Access guna memudahkan pelanggan di tengah situasi darurat ini.
Menutup keterangannya, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, kembali menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh masyarakat, khususnya para pelanggan setia KAI, atas gangguan kenyamanan yang terjadi. Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran KAI terus bekerja keras di lapangan untuk melakukan normalisasi jalur. Setiap kebijakan operasional yang diambil dipastikan telah melalui evaluasi teknis yang menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. KAI berkomitmen untuk segera memulihkan operasional secara penuh segera setelah kondisi alam membaik dan infrastruktur dinyatakan layak serta aman untuk dilalui kembali oleh rangkaian kereta api.


















