Laporan Reporter POS-KUPAN.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM, MAUMERE – Gunung Ili Lewotolok, sebuah stratovolcano yang menjulang megah di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Dalam rentang waktu hanya enam jam pada Sabtu, 17 Januari 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat serangkaian erupsi yang mencapai angka mencengangkan: 466 kali letusan. Fenomena vulkanik yang intens ini menyoroti dinamika kompleks dari salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, memicu kewaspadaan tinggi di kalangan masyarakat sekitar dan otoritas terkait. Letusan-letusan tersebut bervariasi dalam ketinggian, dengan kolom abu mencapai antara 200 hingga 500 meter di atas puncak kawah, memuntahkan material vulkanik yang beragam.
Detail dari aktivitas erupsi yang terekam PVMBG menunjukkan karakteristik yang patut dicermati. Kolom-kolom abu yang membumbung tinggi ke langit teramati memiliki spektrum warna yang bervariasi, mulai dari putih yang mengindikasikan dominasi uap air, kelabu yang menandakan campuran material abu vulkanik, hingga hitam pekat yang seringkali menjadi penanda adanya material batuan segar atau abu vulkanik yang lebih padat. Selain semburan abu, erupsi Gunung Ili Lewotolok juga disertai dengan lontaran material pijar atau lava pijar yang memancarkan cahaya merah membara. Material pijar ini terpantau meluncur ke sektor selatan-tenggara gunung, dengan jangkauan perkiraan antara 100 hingga 200 meter dari pusat kawah. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan magma yang cukup dangkal dan berpotensi menghasilkan aliran lava. Petugas Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, pada Sabtu malam, juga mengonfirmasi adanya aliran lava yang teramati di sektor barat, membentang sekitar 100 meter dari bibir kawah. Keberadaan aliran lava ini menambah kompleksitas bahaya vulkanik, karena berpotensi mengancam area di sekitar lereng gunung.
Tidak hanya visual, aktivitas vulkanik ini juga menghasilkan sensasi akustik yang khas. Dentuman dan gemuruh lemah hingga sedang terus-menerus terdengar, mengiringi setiap letusan yang terjadi. Suara-suara ini merupakan indikator pelepasan energi dari dalam perut gunung, yang dihasilkan oleh pergerakan gas dan magma. Intensitas suara yang “lemah hingga sedang” menunjukkan bahwa meskipun frekuensi letusannya sangat tinggi, energi yang dilepaskan per letusan mungkin tidak sekuat erupsi eksplosif besar, namun tetap memerlukan kewaspadaan. Data seismik juga memberikan gambaran yang lebih detail mengenai energi di balik erupsi ini. PVMBG sebelumnya melaporkan erupsi pada pukul 09:09 WITA pada tanggal yang sama, dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, atau setara dengan 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu pada erupsi spesifik ini berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, condong ke arah timur. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 36.2 mm dan durasi sekitar 1 menit 25 detik, memberikan data krusial bagi para vulkanolog untuk menganalisis karakteristik dan potensi bahaya lebih lanjut.
PVMBG: Mata dan Telinga Pengawas Gunung Berapi
Peran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam memantau dan menganalisis aktivitas Gunung Ili Lewotolok sangatlah vital. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab penuh atas mitigasi bencana geologi di Indonesia, PVMBG mengoperasikan pos-pos pengamatan di seluruh gunung berapi aktif, termasuk di Ili Lewotolok. Petugas seperti Yeremias Kristianto Pugel adalah garda terdepan yang setiap saat memantau perubahan sekecil apa pun pada gunung. Mereka menggunakan berbagai instrumen canggih, mulai dari seismograf untuk mendeteksi gempa vulkanik, tiltmeter untuk mengukur deformasi tubuh gunung, hingga alat pengukur gas untuk memantau emisi gas vulkanik. Data yang dikumpulkan dari instrumen-instrumen ini, ditambah dengan pengamatan visual langsung, menjadi dasar bagi PVMBG untuk menentukan status aktivitas gunung dan mengeluarkan rekomendasi keselamatan kepada masyarakat.
Analisis data seismik, seperti amplitudo maksimum 36.2 mm dan durasi 1 menit 25 detik yang terekam, merupakan kunci untuk memahami dinamika internal gunung. Amplitudo seismik mengindikasikan energi yang dilepaskan selama peristiwa vulkanik, sementara durasi merefleksikan lamanya peristiwa tersebut berlangsung. Kombinasi data ini membantu para ahli vulkanologi mengidentifikasi jenis letusan (misalnya, letusan freatik, freatomagmatik, atau magmatik), volume material yang dikeluarkan, serta potensi bahaya yang menyertainya. Pemantauan yang cermat dan analisis data yang mendalam ini memungkinkan PVMBG untuk memberikan peringatan dini yang akurat, sehingga tindakan mitigasi dapat diambil secara efektif untuk melindungi jiwa dan properti.
Status Waspada: Mengapa Level II Begitu Penting?
Saat ini, Gunung Ili Lewotolok berada pada Status Level II atau Waspada, yang merupakan tingkat kedua dalam sistem peringatan dini gunung berapi di Indonesia. Sistem ini memiliki empat tingkatan: Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), dan Level IV (Awas). Status Waspada mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di atas normal, seperti peningkatan gempa vulkanik, deformasi tubuh gunung, atau peningkatan emisi gas, yang berpotensi diikuti oleh erupsi. Meskipun belum masuk kategori “Siaga” atau “Awas” yang memerlukan evakuasi massal, Status Waspada bukan berarti tanpa risiko.
Implikasi dari Status Waspada sangat jelas. PVMBG secara tegas mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok, maupun pengunjung, pendaki, atau wisatawan, untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Lebih lanjut, zona larangan diperluas secara sektoral ke arah selatan-tenggara dan barat sejauh 2,5 kilometer dari pusat aktivitas. Penetapan zona larangan ini didasarkan pada arah lontaran material pijar yang terpantau ke selatan-tenggara dan aliran lava yang teramati di sektor barat. Radius ini ditetapkan untuk melindungi dari bahaya langsung seperti lontaran batu pijar (balistik), aliran lava, abu vulkanik tebal, serta gas-gas beracun yang mungkin keluar dari kawah. Kepatuhan terhadap rekomendasi ini adalah kunci untuk meminimalkan risiko dan memastikan keselamatan seluruh pihak yang berada di sekitar area gunung berapi aktif.


















