India Open 2026: Badai Kritik Menghantam, Dari Polusi Udara Hingga Kotoran Burung di Lapangan
Gelaran India Open 2026 di New Delhi kembali menjadi sorotan dunia bulu tangkis, namun bukan karena gemerlap persaingan sengit, melainkan karena serangkaian masalah yang memicu kritik tajam dari para atlet dan penggemar. Turnamen BWF World Tour Super 750 ini menuai banyak keluhan terkait kondisi lingkungan dan fasilitas yang dianggap jauh dari standar internasional.
Kualitas Udara Ekstrem dan Fasilitas Bermasalah
Salah satu keluhan utama yang mendominasi adalah kualitas udara di New Delhi yang dianggap berbahaya. Kondisi polusi ekstrem ini bahkan membuat sejumlah pemain papan atas memilih mundur dari turnamen, termasuk pebulu tangkis Denmark, Anders Antonsen, yang rela membayar denda demi menghindari risiko kesehatan akibat kualitas udara ekstrem.
Selain polusi, fasilitas arena pertandingan juga menjadi sasaran kritik pedas. Lapangan yang berdebu dan kebersihan yang kurang memadai menjadi pemandangan umum, menambah daftar panjang kekecewaan para peserta.
Beberapa insiden mencolok yang terekam selama turnamen meliputi:
- Jatuhnya kotoran burung di area lapangan saat pertandingan tunggal putra antara wakil tuan rumah HS Prannoy dan pebulu tangkis Singapura, Loh Kean Yew, pada Kamis, 15 Januari 2026. Insiden ini memaksa laga dihentikan sementara di tengah pertandingan yang berlangsung ketat.
- Kemunculan monyet di dalam stadion, sebuah pemandangan yang tak lazim untuk turnamen bulu tangkis sekelas BWF World Tour Super 750.
Adaptasi Ekstra di Tengah Dingin dan Tantangan
Kondisi lingkungan yang kurang ideal ini menuntut adaptasi ekstra dari para atlet. Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, mengungkapkan perlunya pemanasan yang lebih intens dan awal untuk menghadapi suhu dingin di arena.
“Saya harus beradaptasi dengan kondisi ini. Harus pemanasan ekstra agar nanti masuk lapangan sudah panas,” ucap Jonatan Christie melalui PBSI. “Karena di sini dingin sekali jadi memang harus pemanasan lebih awal, pemanasan lebih banyak. Dua hari ini saya melakukan hal tersebut agar pas masuk lapangannya sudah benar-benar siap badannya.” Pernyataan ini menunjukkan betapa para pemain harus berjuang bukan hanya melawan lawan, tetapi juga kondisi venue yang menantang.
Kekacauan Berulang dan Tanggapan BWF
Kekacauan serupa bukan kali pertama terjadi di India Open. Sejak edisi 2023, masalah kebersihan fasilitas, kotoran burung, dan suhu yang tidak stabil telah menjadi keluhan berulang, menunjukkan kurangnya perbaikan signifikan dari penyelenggara dan masalah yang terus berlanjut hingga edisi 2026.
Menanggapi gelombang kritik ini, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) telah memberikan tanggapan. BWF menyoroti masalah yang disampaikan pemain, termasuk insiden kotoran burung hingga minimnya alat pendukung, mengindikasikan bahwa mereka sedang memantau situasi dan berkomunikasi dengan pihak penyelenggara untuk mencari solusi.
Serangkaian insiden dan keluhan ini tentu mencoreng citra India Open sebagai salah satu turnamen penting dalam kalender BWF. Harapan besar tertumpu pada perbaikan signifikan di masa mendatang demi kenyamanan dan performa optimal para atlet bulu tangkis dunia.


















