Tren Kenaikan Pinjaman Online Menjelang Lebaran
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan fenomena tahunan di mana industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) mengalami lonjakan signifikan setiap memasuki periode Ramadan. Berdasarkan data terbaru hingga November 2025, total outstanding pinjaman masyarakat di platform legal telah menembus angka Rp 94,85 triliun. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, menjelaskan bahwa pola kenaikan ini terlihat jelas dalam data historis dua tahun terakhir. Pada Maret 2024, penyaluran pendanaan mencatat pertumbuhan sebesar 8,90 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sementara itu, pada periode yang sama di tahun 2025, terjadi kenaikan sebesar 3,80 persen mtm. Hal ini mempertegas bahwa bulan suci menjadi momentum puncak bagi masyarakat dalam mengakses pembiayaan digital.
Dominasi Pinjaman Konsumtif Dibandingkan Sektor Produktif
Meskipun volume pendanaan terus tumbuh, OJK menyoroti bahwa mayoritas dana yang disalurkan masih didominasi oleh tujuan konsumtif. Hingga akhir tahun 2025, porsi pinjaman konsumsi mencapai Rp 63,63 triliun atau setara dengan 67,09 persen dari total penyaluran nasional. Sebaliknya, alokasi untuk sektor produktif justru mengalami penurunan.
Data menunjukkan porsi pendanaan produktif menyusut menjadi 32,91 persen, turun dari posisi September 2025 yang sempat menyentuh angka 34,48 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa masyarakat lebih banyak menggunakan pinjol untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup atau belanja musiman selama Ramadan daripada untuk modal usaha.
Risiko Kredit Macet yang Membayangi
Seiring dengan lonjakan penyaluran pinjaman, risiko gagal bayar juga menjadi perhatian serius. Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90), yang menjadi indikator kesehatan kredit di industri fintech, tercatat mengalami kenaikan tajam. Dari yang sebelumnya berada di level 2,76 persen, angka TWP90 melonjak hingga 4,33 persen secara agregat.
Peningkatan risiko kredit ini sering kali berbanding lurus dengan kemudahan akses yang ditawarkan platform pinjol di tengah tingginya desakan kebutuhan ekonomi saat Lebaran. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola utang agar tidak terjebak dalam siklus kredit macet yang berkepanjangan.
Proyeksi dan Langkah Antisipasi di Tahun 2026
Menghadapi tahun 2026, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, memprediksi bahwa permintaan terhadap layanan fintech lending akan tetap positif namun cenderung melandai di beberapa periode. Meskipun permintaan dipastikan melonjak saat Ramadan, siklus tahunan menunjukkan adanya potensi perbaikan tingkat kredit macet jika tidak ada guncangan ekonomi yang luar biasa.
Sebagai langkah mitigasi, regulator didorong untuk memperketat aturan penyaluran kredit. Pengetatan regulasi dinilai krusial untuk menekan angka wanprestasi, meskipun di sisi lain kebijakan ini berpotensi sedikit mengurangi tingkat inklusi keuangan digital. Keseimbangan antara kemudahan akses dan perlindungan konsumen menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas industri fintech di masa depan.


















