Sebuah tragedi penerbangan mengguncang publik ketika sebuah pesawat jenis ATR dilaporkan hilang kontak dan kemudian diduga kuat menabrak lereng Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengemukakan dugaan awal ini berdasarkan analisis situasi dan data yang tersedia. Pernyataan ini disampaikan kepada awak media pada hari Minggu, 18 Januari, menggarisbawahi urgensi investigasi lebih lanjut untuk mengungkap tabir misteri di balik insiden nahas tersebut.
Analisis Awal KNKT: Benturan dengan Lereng Gunung dan Peran Cuaca
Soerjanto Tjahjono, dalam keterangannya, menyampaikan bahwa dugaan terkuat saat ini adalah pesawat ATR tersebut menghantam lereng atau bukit di kawasan Gunung Bulusaraung. “Ada dugaan kuat pesawat menghantam bukit atau lereng,” tegasnya. Analisis ini didasarkan pada beberapa indikator, termasuk data ketinggian pesawat saat hilang kontak dan kondisi geografis area tersebut. KNKT memprediksi bahwa sesaat sebelum insiden tragis terjadi, pilot pesawat masih memiliki kemampuan untuk mengendalikan pesawat, namun kendali tersebut tidak sepenuhnya optimal. “Pilot masih bisa melakukan kontrol, tetapi tidak dalam kendali penuh,” jelas Soerjanto. Hal ini mengindikasikan adanya faktor eksternal atau internal yang membatasi kemampuan pilot untuk mengambil tindakan korektif secara penuh. Salah satu faktor yang sangat mungkin berkontribusi adalah kondisi cuaca. Wilayah pegunungan seringkali dihadapkan pada perubahan cuaca yang cepat dan ekstrem, termasuk kabut tebal, angin kencang, dan hujan deras, yang dapat sangat mempengaruhi visibilitas dan stabilitas penerbangan.
Lebih lanjut, data dari AirNav menunjukkan bahwa pesawat dilaporkan hilang kontak pada ketinggian sekitar 4.000 kaki, yang setara dengan kurang lebih 1.300 meter di atas permukaan laut. Ketinggian ini sangat relevan mengingat Gunung Bulusaraung sendiri memiliki puncak yang berada di kisaran ketinggian 1.300 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Perbandingan ketinggian hilangnya kontak dengan ketinggian gunung memberikan dasar kuat bagi dugaan benturan dengan lereng. Meskipun dugaan awal telah terbentuk, Soerjanto menekankan bahwa status resmi mengenai penyebab kecelakaan baru akan dikeluarkan setelah seluruh bukti fisik dan data dari kotak hitam (black box) berhasil diperoleh dan dianalisis secara menyeluruh. Pentingnya kotak hitam dalam mengungkap kronologi kejadian dan penyebab kecelakaan tidak dapat dilebih-lebihkan. Oleh karena itu, KNKT secara khusus meminta kepada Tim SAR yang bertugas di lapangan untuk memprioritaskan pencarian kotak hitam pesawat, yang biasanya terletak di bagian ekor pesawat. “Fokus utamanya adalah menemukan kotak hitam atau black box. Black box tempatnya ada di ekor pesawat. Sementara kan, ekor pesawat yang ditemukan dalam kondisi hancur. Makanya saya menitip secara khusus kepada tim di lapangan untuk mencari benda tersebut,” ujar Soerjanto dengan penuh penekanan.
Dukungan terhadap pentingnya investigasi mendalam juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Beliau mengakui bahwa berdasarkan dokumentasi dan rekaman video yang ada, lokasi jatuhnya pesawat memang berada di kawasan pegunungan. Namun, AHY menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan masih memerlukan waktu untuk diinvestigasi. “Kalau tadi lihat dokumentasinya, videonya, itu memang gunung-gunung. Gunung-gunung, sehingga kita masih perlu investigasi penyebab utamanya apa. Karena apakah cuaca, atau ada kendala teknis yang lainnya, ini masih perlu waktu untuk diinvestigasi. Nanti akan di-update perkembangannya,” jelasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa berbagai faktor, mulai dari kondisi meteorologi hingga kemungkinan kendala teknis pada pesawat, akan menjadi fokus dalam proses investigasi yang komprehensif.
Proses Identifikasi Korban dan Keterlibatan Tim DVI
Di tengah upaya pencarian dan investigasi penyebab kecelakaan, Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah dikerahkan untuk melakukan identifikasi para korban yang berhasil ditemukan. Langkah krusial ini melibatkan pengambilan sampel DNA dari keluarga para korban sebagai data pembanding. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, seperti dilansir Antara pada Minggu (18/1), menjelaskan bahwa tim DVI Polda Jawa Barat saat ini tengah berada di kediaman keluarga korban untuk mengumpulkan data antemortem dan sampel DNA pembanding. Data antemortem meliputi informasi medis, sidik jari, ciri-ciri fisik, serta barang-barang pribadi yang dapat membantu identifikasi. “Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat berada di kediaman keluarga korban untuk mengambil data antemortem serta DNA pembanding dari pihak keluarga,” ungkapnya.
Salah satu contoh spesifik dari proses ini adalah pengambilan sampel DNA dari keluarga Esther Aprilita S. Esther, yang merupakan salah satu pramugari dalam pesawat yang jatuh tersebut. Menurut Kombes Pol Hendra Rochmawan, proses pengambilan data antemortem dan sampel DNA pembanding merupakan tahapan yang sangat penting dan ilmiah dalam proses identifikasi korban. Hal ini memastikan bahwa setiap korban dapat diidentifikasi secara akurat dan dengan cara yang menghormati martabat mereka, serta memberikan kepastian bagi keluarga yang ditinggalkan. Keberhasilan identifikasi korban tidak hanya penting dari sisi kemanusiaan, tetapi juga dapat memberikan petunjuk tambahan bagi tim investigasi terkait kondisi di dalam pesawat sebelum kecelakaan terjadi.
Kesaksian Dramatis Pendaki: Momen Pesawat ATR Menabrak Lereng Gunung
Di tengah kepiluan atas tragedi ini, muncul kesaksian dramatis dari dua orang pendaki, Reski (20) dan Muslimin (18), yang secara langsung menyaksikan momen ketika pesawat ATR 42-500 menabrak lereng Gunung Bulusaraung. Keduanya tengah berada di puncak gunung tersebut untuk menikmati pemandangan alam ketika insiden mengerikan itu terjadi. Reski menceritakan bahwa sesaat setelah mereka mencapai puncak, sebuah pesawat terlihat terbang rendah di hadapan mereka. Tak lama kemudian, pesawat tersebut menabrak sisi lereng Gunung Bulusaraung yang tidak terlalu jauh dari lokasi mereka beristirahat. “Kami melihat ada pesawat yang terbang rendah dan menabrak lereng Gunung Bulusaraung, lalu meledak dan terbakar. Kejadiannya sekitar jam 1 siang kemarin,” ujar Reski saat dikonfirmasi pada Minggu (18/1). Kesaksian ini memberikan gambaran visual yang mengerikan tentang detik-detik terakhir pesawat sebelum hilang kontak.
Ledakan yang disertai kobaran api membuat Reski dan Muslimin terpaku dalam ketakutan. Jarak antara mereka dengan lokasi ledakan diperkirakan hanya sekitar 100 meter. “Pesawat meledak dan ada api. Kami dapat serpihan pesawat sudah berhamburan,” tambah Reski. Deskripsi mengenai serpihan pesawat yang berhamburan semakin memperkuat dugaan benturan keras dan fragmentasi pesawat akibat tabrakan tersebut. Kesaksian para pendaki ini, meskipun mengerikan, sangat berharga bagi tim investigasi. Hal ini memberikan konfirmasi visual mengenai skenario kecelakaan dan dapat membantu dalam pemetaan area jatuhnya pesawat serta pencarian bukti-bukti fisik lainnya. Informasi ini juga dapat melengkapi data dari kotak hitam, apabila berhasil ditemukan, untuk membangun gambaran yang lebih lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi di udara sebelum pesawat menghantam lereng gunung.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tantangan penerbangan di wilayah pegunungan yang memiliki topografi kompleks dan potensi cuaca yang tidak terduga. Investigasi yang mendalam dan komprehensif oleh KNKT, dengan dukungan dari berbagai pihak, sangat krusial untuk tidak hanya mengungkap penyebab kecelakaan ini, tetapi juga untuk merumuskan rekomendasi yang dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Fokus pada pencarian kotak hitam dan analisis data yang teliti akan menjadi kunci untuk mendapatkan jawaban yang dicari oleh publik dan keluarga korban.


















